
Pagi sekali Lia membangun kan Kirana karena sudah waktunya Kirana untuk sekolah, tapi Kirana tidak menjawab panggilan dari Lia. Kirana terus tidur tanpa merespon panggilan dari Lia.
"Kirana bangun nak sudah pagi," ucap Lia mengguncang kan badan Kirana.
"Loh kok badan mu panas sekali nak," ucap Lia mulai panik dan memeriksa seluruh badan Kirana.
Lia langsung mencari Arif untuk memberi tau kan keadaan Kirana, tapi ternyata Arif masih tidur. Segera Lia membangun kan Arif.
"Kak bangun, kak Arif," ucap Lia.
"Ada apa, kakak masih ngantuk," ucap Arif.
"Kirana sakit kak, badannya panas tinggi," ucap Lia.
Arif pun terkejut langsung bangun dan bergegas pergi ke kamar Kirana.
"Di kompres aja dulu, nanti agak siang kita bawa ke klinik untuk di periksa," ucap Arif memegang kening Kirana yang panas.
"Aku ambil dulu air sama kain untuk kompresnya," ucap Lia langsung pergi ke dapur mengambil air dan kain.
Tak lama Lia pun kembali dengan membawa air dan kain untuk mengompres Kirana.
"Ini kak air sama kainnya," ucap Lia memberikannya pada Arif.
Arif menyimpan kain di kening Kirana, sementara Kirana masih tertidur seperti orang pingsan.
"Lia nanti kamu kirim surat untuk guru Kirana atau hubungi selly, beri tau kalau Kirana ga bisa masuk sekolah hari ini," ucap Arif.
__ADS_1
"Iya kak, nanti aku ke rumah selly sekalian aku belanja ke pasar," ucap Lia.
Arif terus menjaga Kirana, mengganti kain di kening Kirana dan membasuh kembali ke dalam air dingin.
Sementara Lia berangkat ke pasar dengan berjalan kaki, lebih hemat ongkos dengan berjalan kaki dan jaraknya pun dekat.
"Permisi," ucap Lia.
"Siapa pagi-pagi gini datang bertamu," gerutu ibu Selly.
Ibu Selly berjalan mendekati pintu dan membuka kan pintunya.
"Mau cari siapa ya?" tanya ibu Selly.
"Selly nya ada bu? Saya bibinya Kirana, saya mau titip pesan untuk guru Kirana kalau Kirana ga bisa masuk sekolah hari ini. Kirana demam tinggi," ucap Lia.
"Terima kasih, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Lia pamit pulang.
"Iya silahkan," ucap Ibu selly.
Lia pun pergi dari halaman rumah Selly dan langsung pergi menuju pasar.
...***...
Kirana pun di bawa ke klinik untuk di periksa, Kirana di gendong oleh Arif karna badan Kirana lemas dan demamnya cukup tinggi.
Setelah antrian cukup lama, akhirnya giliran Kirana masuk ke ruang pemeriksaan untuk di periksa oleh dokter.
__ADS_1
Kirana di cek suhu tubuhnya ternyata 40°c, dan dokter memberi kan obat penurun panas.
"Pak, pasien di observasi dulu selama 30 menit di sini ya. Kalau demamnya masih tidak turun, kita rawat di sini ya," ucap dokter lalu memindah kan Kirana ke ruang observasi.
"Terima kasih dok," ucap Arif setelah Kirana di baring kan di ruang observasi.
Arif menjaga dan merawat Kirana seperti anak sendiri, sampai saat ini Arif masih belum mau untuk menikah karna Arif takut wanita yang di nikahi Arif tidak mau menerima Kirana dan itu akan menambah kesedihan untuk Kirana.
30 menit berlalu demam Kirana masih tinggi dan dokter pun menyaran kan agar Kirana di rawat inap di klinik.
Arif pun menyetujui apa yang di saran kan oleh dokter, suster pun memasang kan infus di tangan Kirana.
"Nak, kamu tunggu dulu di sini ya, paman pulang dulu sebentar. Paman ambil dulu baju ganti untuk mu selama di sini dan keperluan lainnya," ucap Arif.
"Iya paman, maaf kan aku paman sudah membuat mu khawatir dan repot karna aku sakit seperti ini," ucap Kirana.
"Ga apa-apa nak, asal kan kamu bisa sehat lagi paman rela merawat mu dan menjaga mu di sini," ucap Arif mengusap kepala Kirana.
Arif pun pergi dari ruangan Kirana meninggal kan Kirana seorang diri.
"Sus, saya titip Kirana sebentar. Saya mau pulang dulu ambil baju ganti untuk Kirana," ucap Arif.
"Iya silah kan pak," ucap suster penjaga.
Arif berjalan menuju rumah yang jaraknya lumayan agak jauh.
Arif terlalu memikir kan kebutuhan Kirana sampai-sampai tidak memikir kan apa pun untuk dirinya sendiri, bahkan jodoh sekali pun tidak pernah ada niat untuk mencari atau mendekati perempuan karna Arif sadar diri wanita mana yang mau sama orang susah pasti wanita memilih mencari pria yang sudah mapan.
__ADS_1