CINTA TAK BERJODOH

CINTA TAK BERJODOH
Sunrise di puncak Rinjani


__ADS_3

Arumi tersenyum cerah, betapa tidak selama menikah ini adalah kali pertama dia berlibur jauh bersama suaminya Niko.


Ya akhirnya mereka memutuskan berlibur tanpa baby Atha, mereka memilih pulau Lombok sebagai tempat tujuan berliburnya.


Niko bermaksud membawa istrinya ke beberapa tempat, di mulai dari pantai Senggigi bahkan bermaksud mengajak untuk mendaki gunung Rinjani untuk menyaksikan matahari terbit, seandainya bisa sampai di waktu dan cuaca yang tepat itu harapannya.


Arumi menikmati setiap momen indah liburannya, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan karena sudah berkorban meninggalkan bayi gembulnya berlibur.


Niko dan Arumi memang berencana mendaki, ingin merasakan berjuang sampai puncak dan menikmati keindahan sunrise dari puncak Rinjani dan bukan semata itu saja, sensasi kebersamaan dalam menapaki jalan mendaki, berharap itu akan menjadi momen indah cinta, kejujuran, kesetiaan serta saling mengasihi yang tak terlupakan diantara mereka.


" Yank..... yakin nih, bakalan kuat?",


" Dih.. jangan gitu deh, Arum mau banget mas, inshaa Alloh kuat... Bismillah".


Mereka perlahan mulai menapaki jalanan setapak yang ditumbuhi ilalan dan rumput liar membetuk padang safana.


Karena saat ini sedang kemarau maka hamparan padang savana tersebut tampak berwarna kuning kecoklatan nampak indah sejauh mata memandang namun di jalanan setapak area pendakian akan terasa berdebu, untuk itu para pendaki harus menggunakan masker untuk melindungi dari hempasan angin yang berdebu.


" Mas pakai bab nya... ", Arumi memasangkan masker di wajah Niko, nampak wajah mereka mulai memerah berkeringat dengan nafas yang mulai ngos ngosan.


" Yank.... jangan di paksakan ya... kalau memang ga kuat, harus nyerah, sekarang mau nyerah?", Niko memegang kepala Arumi saat Arumi membetulkan masker Niko.


" Enak saja, Bismillah mas... Arum kuat, lagian Arum kan cuma bawa beban dikit, mas yang bawa banyak... heee". Niko melihat senyum Arumi, begitu bahagia hatinya.


" Asyik juga ya mas.... ternyata liburan begini berasa makin dekat dengan Alam dan juga berasa punya banyak temen searah tujuan",


" Sebentar lagi kita sampai di pos peristirahatan yank... semangat ya...", Mereka bergabung dengan pendaki yang lain, kali ini Niko dan Arumi bergabung dengan pendaki dari Bandung, kebetulan mereka ada berlima termaduk satunya seorang perempuan muda.


Mereka lewat jalur Pelawangan, perlahan tapi pasti kaki mereka melangkah mulai dari daerah rata, hutan, padang savana.


Setelah sampai di pos Niko dan Arumi serta para pendaki dari berbagai daerah dan Negara melepas lelah sejenak kemudian makan dan melakukan ritual lainnya sebelum melanjutkan lagi perjalanan.

__ADS_1


" Mbak mas, dari Jakarta?", tanya seorang dari rombongan yang kebetulan Arumi bareng.


" Iya Mas, mba... semua, perkenalkan Nama saya Niko dan ini istri saya Arumi, kami pertama kali melakukan petualangan ini, ingin tau rasanya berlibur dengan tantangan", jawab Niko ramah menyapa teman teman barunya.


" Oke Mas... kita gabung saja, saling bantu dan saling mengawasi selama pendakian ini, kami dari Bandung, dan ini juga pengalaman pertama kami", jawab seorang dari mereka yakni Bagus.


Benar benar Amazing, itu perasaan bagi para penakluk ketinggian dengan semua perjuangan menaklukan tingginya gunung dengan medan yang luar biasa, begitupun dengan perasaan yang dialami oleh Arumi dan juga Niko.


" Semangat .... sedikit lagi kita sampai di pos terakhir", Teriak Niken pendaki dari Bandung dalam rombongan itu


Mereka beristirahat di posko terakhir, untuk beberapa jam sebelum akhirnya akan melanjutkan sebelum tangah malam mengingat rombongan mereka ada perempuan agar bisa mengejar sunrise.


Setelah perjuangan membelah malam dengan perjuangan mendaki jalan setapak dalam dingin dan gelap malam akhirnya mereka perlahan dan pasti kaki mereka menapak di puncak Rinjani.


" Horeeee....... Masya Alloh.... begitu indahnya ciptaan-Mu... ", teriak Arumi mensyukuri atas kesuksesannya sampai di puncak Rinjani. saat itu tepat pukul 3:40 Wita. Udara begitu menusuk sangat dingin dan masih gelap, tapi suasana puncak itu begitu riuh oleh para pendaki yang mulai berdatangan menantikan sunrise.


Arumi langsung melipir mencari tempat untuk melepaskan lelah yang luar biasa, rasa dingin yang begitu menusuk tulang tapi rasa bahagia dihati seakan rasa tersebut terabaikan.


" kita cari tempat yang oke untuk menanti sunrise... disana, itu orang orang mulai mencari tempat ternyaman", Niko menunjuk dan menuntun Arumi menuju tempat yang dimaksud.


" Duduklah, luruskan kakinya...",


" Mas... mulai kerasa dingin".


" Bentar sayang ... tunggu ya", Niko mendekap dan memakaikan Arumi jaket tebal yang sengaja ia bawa khusus untuk Arumi.


" Mas mau kemana?".


" Mas mau bikin minum, tunggu... itu disana Bagus dan teman temannya sudah nyiapin".


" Mba Arum.... Mau teh atau kopi?", teriak Niken.

__ADS_1


" Teh saja, biar saya yang buatkan", Niko menjawab seraya mendekat kearah rombongan yang menyiapkan air panas.


" Wah mas... sudah berapa lama nikah sama mba Arumi", Tanya Bagus nampak senang melihat Niko yang begitu sayang sama Arumi menurut penglihatan dia di sepanjang perjalanan kemarin sampai akhirnya mereka sampai.


" Belum lama.... belum dua tahun, ini kita mendaki juga masih dalam rangka bulan madu yang tertunda", jawab Niko seraya menuang dua gelas teh.


" Walah mas.... dua tahun menikah baru bulan madu, priye critane?", timpal salah satu anggota rombongan dari bandung yakni Heri, asli Semarang kuliah dan kerja di Bandung.


" Sengaja.... hahaaa... maaf saya mau menyusul istriku dulu, kita lanjut di sana ngobrolnya sambil menunggu sunrise". Niko mengangkat dua gelas teh ditangannya kemudian menyusul Arumi.


" Yank..... ini minum dulu, pegang gih gelasnya biar anget", Niko langsung mendekap Arumi untuk saling menghangatkan.


" Cape ya.... sini rebahan di dada mas", Niko menyandarkan kepala Arumi di dada bidangnya.


" Biarkan begini saja, jangan di lepasin... kita menunggu Sunrise sebentar lagi, siapin kameranya mas". Rasa cape dan dingin yang menusuk membuat Arumi dan Niko menunggu sunrise dengan duduk ber selonjor dan berpelukan.


" Sudah ini kamera nya... ga nyangka kita akan sampai di tempat ini, sama sekali dalam hidup mas tidak terpikir sebelumnya, meskipun cape dan penuh perjuangan tapi mas ga merasa menyesal yang ada tambah bersyukur, dan satu lagi yang membuat mas kagum.... yakni kamu yank, mas ga nyangka bahwa fisikmu ternyata oke, kamu hebat sayang.... ", Niko menciumi kepala Arumi mempererat dekapannya, tidak peduliin orang yang berada disekitar mereka.


" Mas..... Arum bukan cuma bau tapi juga dekil, jangan cium cium", lirih Arumi manja.


" Biarin yank, kamu mau bau atau dekil mas tetep sayang", balas Niko berbisik ditelinga Arumi, Membuat Arumi reflek semakin mengeratkan pelukannya pada Niko.


Tiba tiba semua orang mulai mengambil posisi dan menyiapkan diri untuk menangkap momen sunrise yang mereka tunggu.


Perlahan langit diufuk timur mulai menampakkan semburat jingga, walau masih tipis, puncak Rinjani semakin penuh dengan pendaki yang semakin berdatangan dan mencari tempat mengabadikan momen indah itu.


Sedetik, semenit... dan semburat itu makan nyata, semakin terang disertai hembusan angin yang kian menusuk, semua pendaki mulai mengabadikan momen tersebut dengan berbagai gaya seperti gambar siluet nan cantik.


Niko dan Arumi bergantian berfose. bahkan mereka juga mengambil gambar dengan rombongan yang mereka baru bertemu saat hendak mendaki.


MAAF MUNGKIN PENGGAMBARAN PENDAKIANNYA KURANG MANTAF... PENULISANNYA AGAK MARATHON😊 TAPI SEMOGA BISA DIMENGERTI 🙏

__ADS_1


__ADS_2