
Pulang kuliah hari ini Arumi sudah rapi kembali, karena hari ini jadwal periksa kandungan dan Niko janji kali ini akan mengantarkan menemui dokter dan ingin melihat perkembangan janinnya.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya suaminya datang, namun Niko meminta menunggu untuk mandi, dengan santai Arumi bercanda bersama mama dan adik iparnya.
" Ma.... makin deg degan saja nih, tinggal menunggu beberapa minggu lagi dia lahir".
" Iya, Mama sudah tidak sabar!".
" berdoa terus supaya sehat dan lancar", imbuh mama.
" iya ma!".
" Ayo!", Niko sudah siap mengantar Arumi dengan setelan baju casual yang rapi.
" Ma... Arum berangkat dulu, Assalamualaikum".
" Hati hati".
" Iya ma".
Niko membukakan pintu untuk Arumi kemudian dia memutar dan masuk ke mobil, segera berangkat menuju rumah sakit yang biasa Arumi periksa.
Sepanjang perjalanan Arumi dan Niko nampak bahagia sebentar lagi anak mereka akan segera lahir.
Setelah sampai di rumah sakit mereka tidak mengantri karena sudah membuat janji sebelumnya dengan dokter yang menangani Arumi.
Diruang pemeriksaan Niko sangat antusias kalau dulu saat pertama mengantar Arumi periksa bayi nya itu sebesar biji alpukat kalau sekarang sudah dalam bentuk sempurna hanya tinggal menunggu waktu untuk lahir.
Niko memperhatikan dengan seksama pada layar monitor mengenai bayinya, air matanya meleleh ada rasa haru dan juga bahagia melihat gambar wajah bayinya.
" Ini dia.... wajahnya sudah bisa di lihat... dan ada monas tuh", seru dokter saat menggeser kursor dilayar tersebut.
" Alhamdulillah", ucap Arumi lirih.
" Sudah dalam posisi sempurna, tinggal ibunya harus siap tenaga, sehat dan jangan banyak pikiran supaya tekanan darahnya normal sampai waktunya lahir". pesan dokter lagi.
" Baik Dok, terima kasih".
Setelah pemeriksaan selesai dan keluar dari ruangan itu, kemudian mereka berencana untuk jalan jalan ke mall membeli beberapa perlengkapan bayi.
" Nik... Niko dan Arumi apa kabar?". Seseorang dengan membopong anak perempuan usia sekitar 3 tahun, menepuk punggung Niko dan juga mengenali Arumi.
" Eh lo... kabar gue baik, kabar lo gimana?".
" Mas", Arumi manggut dan tersenyum pada orang tersebut.
" Gue sehat... periksa kandungan? kok ga ketemu ya, aku juga kesini nganterin istri gue periksa juga".
__ADS_1
" Oya... Lha mana istri lo Ton sekarang?", ya orang tersebut adalah Anton teman Niko.
" Masih di dalam... ini anak gue tadi nangis ga mau ikut masuk, terpaksa deh mamanya sendiri didalam".
" Oke kalau begitu kita duluan ya, nanti bisa kolingan, nomer belum ganti kan?".
" Masih yang dulu, gue ga pernah ganti nomer, kalau lo lupa bisa minta ke istri lo".
' Hah.... istri gue, maksud lo?". Arumi cuma senyum.
" Iya dia punya nomer ponsel gue".
" Oke.... bye, salam buat istri lo".
Niko yang sudah penasaran kok bisa Arumi punya nomer ponsel Anton, segera buru buru menggandeng Arumi untuk masuk mobil.
" Yank.... kamu kenal sama Anton?".
" Kan dia datang waktu kita menikah mas!".
" Masak iya, cuma sebagai tamu di pernikahan kita terus kamu bisa punya nomer ponselnya?".
" iya, terus..... waktu itu pernah ketemu saat Arum lagi makan di resto, dia mengenali Arum jadi mengajak ngobrol, tapi karena Arum ga merasa kenal Arum cuekin terus dia menukarkan nomer ponselnya katanya buat istrinya biar bisa ngobrol sama Arum tentang kehamilan."
" Kok aneh ya... ?", Niko garuk garuk kepala yang tak gatal.
" Dia bercerita banyak hal tentang mas dan mbak Cilia, dan dia yang selalu menasehati mbak Cilia untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan selama sakitnya mas".
" Iya Arum tahu, kalian bersahabat dari SMP kan?".
" Iya, dari waktu sekolah menengah pertama itu kami selalu sebangku bahkan sampai kuliah".
" Makanya dia waktu lihat Arumi langsung mengajak ngobrol, dia ingin tahu wanita seperti apa istri sahabatnya itu".
" Iya mas tahu, dia memang sahabat terbaik yang mas punya".
" Iya mas, Arum tau".
" Tapi kenapa kamu sampai tau kalau dia suka menasehati Cilia?".
" Hmmm.... yang Arum tau dia membantu suport dengan nasehat dan doa sedang mas membantu biaya pengobatannya mba Cilia".
" Huh.... tahu tahu itu? dari siapa?".
" insting seorang istri mas, boleh percaya boleh tidak!".
" Hmm....", Niko menghembuskan nafas kasar dan sedikit memukul kemudinya.
__ADS_1
" Mas marah?",
" Tidak... tidak sama sekali, cuma mas merasa terawasi terus nih kalau insting istri mas ini kuat banget..... hahaaaa".
Arum hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Niko.
" Udah sampai nih, Ayo kita beli perlengkapan junior". Niko semangat sekali wajahnya berbinar. Arumi yang memperhatikan rona wajah suaminya merasa bersyukur.
Niko membantu Arumi turun dari mobil dan langsung menggandeng tangannya memasuki mall tersebut.
" Mas bantu pilih ya! ".
" Tentu sayang, mas yang akan memilih semuanya".
Niko merengkuh posesif pinggang istrinya itu. walaupun kehamilan Arumi sudah memasuki bulan 9 tapi karena kehamilan pertama jadi tidak terlalu membuat tubuh Arum melar, apalagi usia Arum yang masih di bawah 20, sehingga tidak terlalu kentara ditambah baju gamis Arumi yang sedikit longgar.
Mereka memilih perlengkapan sampai beberapa jam, sampai hampir jam 9 malam.
" Mas kok Arum lapar banget mas?".
" Pantas saja, sudah jam 8:35, Ya sudah, kita bayar dulu ini terus cari makan". Niko menghentikan aktifitasnya kemudian menuju kasir diikuti oleh Arumi.
" Kalau masih ada yang kurang lain hari kita cari lagi, oke!", tambah Niko , Arumi hanya mengangguk hatinya senang karena suaminya sangat antusias belanja untuk calon anak mereka.
" Mau makan apa? Ayo kita disebelah sana". Niko menunjuk tempat duduk di pinggir dekat dengan kaca lebar sehingga dapat melihat suasana jalanan di waktu malam seperti saat ini.
" Hmmm.... Arum mau sup buntut ya".
" Boleh, kita duduk dulu". Ya malam itu Niko dan Arumi makan di resto sebuah mall dengan menu nusantara.
Setelah duduk mereka memesan menu. Arumi memandangi suasana malam di jalanan yang masih terlihat macet meskipun sudah cukup malam. Kemudian matanya berputar untuk melihat suasana resto tersebut.
" Mas..... itu bukannya mbak Cilia ya?". Arumi menunjuk sebuah meja, disana duduk seorang diri yakni Cilia Niko memutar badannya dan benar yang di bilang Arumi Cilia sendirian tengah asyik memainkan ponselnya dan sesekali menyedot minuman seperti jus strowberi.
" Sapa gih". Arumi memberi kode dengan memajukan dagunya pada Niko untuk menyapa Cilia.
" Ga ach.... Ngapain, toh dia ga liat kita, ya kecuali kita sama sama lihat baru... ga bisa menghindar", jawab Niko kembali memutar badan dan menghadap Arumi.
" Yakin.... ga mau nanya kabar dia gitu?". Niko mengendikkan bahunya.
-
-
-
**PAGI..... READER KESAYANGAN♥️
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA....
LANJUTTTT**......