
1 minggu ini Niko benar benar kacau, malam selalu ia lewatkan di dalam ruang kerjanya, setiap pulang kerja masuk kamar ia hanya mandi dan berganti pakaian begitupun pagi hari, dia tidak bisa lama lama di kamar itu karena rasa rindu nya pada Arumi setiap dia membaringkan tubuhnya di kasur itu, terasa ingin meledak. Rindu yang begitu dalam hingga sesak memenuhi dadanya.
Niko sudah mencoba mendatangi rumah Ayah Ery untuk menanyakan Arumi tapi Arumi tak pernah Niko temukan disana. pagi pagi sebelum bekerja pun ia selalu menyempatkan mampir tapi tetap saja dia tidak pernak bertemu Arumi bahkan pernah sampai dan bahkan tidur di kamar Arumi tapi tetap tidak ketemu Arumi. Ayah Bunda hanya nampak santai dan cuek, seakan membiarkan anak mantunya itu merasakan karma seorang diri.
" Ayah bunda..... jangan pisahkan kami... Niko sayang sama Arumi.... dimana dia Ayah.... Niko kangen... Niko merana Ayah... Sayang... dimana kamu yank", Niko meracau seperti orang mabuk padahal dalam kondisi sadar hanya saja pikirannya sangat kacau sehingga bicaranya merengek di depan Ayah dan bunda tanpa malu sedikit.
" Niko.... jangan seperti itu, kamu kira yang menderita cuma kamu? Arumi juga sangat menderita, bahkan kondisi dia sedang hamil, harusnya dia kamu perhatiin kamu sayang sayang, kamu turuti semua yang dia ingin makan.... tapi apa? bahkan setiap periksa kandungannya papa dan mama yang mengantar, suami macam apa? untuk wanita lain kamu bela belain bahkan sampai kamu antar ke rumah, istri sendiri kemana mana suruh naik mobil sendiri, kamu kira cukup ngasih mobil begitu saja? untung istrimu Arumi kalau bukan Arumi entah apa jadinya hidup mu kini", Akhirnya kata kata Ayah Ery keluar semua, dia keluarkan semua kemarahannya.
" Ayah.... bunda... maafkan Niko, maaf.... Niko tidak pernah menyadari hal itu... maaf Ayah", isak tangis Niko dari tadi tiada henti. Dengan tubuh yang lemas karena sudah satu minggu dia makan dan tidurnya kacau balau bahkan sering terlewatkan.
" Makan lah dulu sana .... nanti kalau Arumi sudah mau bertemu pasti bunda langsung kasih kabar, sekarang kamu pikirkan kesehatanmu dulu, jika nanti Arumi lahiran kamu bisa menemaninya dengan kondisi sehat.", ucap bunda menenangkan Niko.
Niko masih terduduk lemas tanpa ekspresi apapun pandangannya kosong, tubuhnya tanpa tenaga pikirannya hampa.
*****
Nampak seseorang tengah mengusir rasa jenuhnya dengan beberapa kali mengcasrol ponselnya, menekan sebuah nomer yang sudah beberapa minggu tidak pernah lagi menanyakan kabarnya. mencoba menghubungi dan mengirimi pesan tapi tidak tersambung. Rasanya aneh saja seorang Niko mengganti nomer ponselnya begitu saja atau mungkin dirinya telah di blokir, "masak iya" gumannya, "salahku apa coba?". "Tenang Cilia kita coba lagi" tapi tetap saja telponnya tidak tersambung . Kemudian Dia mencoba mengirim pesan pada Anton untuk menanyakan Nomer Niko, jawaban dari pesan itu pun mengatakan jika Niko tidak pernah mengganti nomer, sekarang jelas kalau dia telah di blokir.
" Hmmmm..... pasti bukan ulah Niko, pasti ini campur tangan orang tuanya", bathin Cilia.
Kini dia merenungkan sendiri nasibnya, seminggu di Kota Medan dan baru satu kali menjalani Kemoterapi, dan itu luar biasa menyita tenaganya, efek obat keras itu begitu membuat badannya lemas tak bertenaga, tapi semangat juangnya harus lebih kuat lagi
Belum lagi harus berjuang untuk bertemu anak anaknya yang mungkin tidak akan mudah.
Sendiri, berjuang dan sakit itulah Cilia seorang model yang cantik dan sexy, banyak pengagum.... dulu.... namun sekarang... seperti itu, uang pun tak berlimpah lagi.
*******
Arumi tengah membantu uwak ( budhe ) yang tengah memasak di dapur.
" Rum.... gimana perasaan kamu?", lirih budhe merasa iba pada ponakannya.
Arumi menoleh pada wanita paruh baya yang masih terihat cantik dan bugar itu, mata Arumi terlihat sendu, tak ada jawaban apapun dari mulutnya.
__ADS_1
" Rum.... setiap pernikahan itu selalu ada ujiannya, jangan dibuat sedih berlarut larut ya, pikirkan kesehatanmu dan kandungan mu".
" Iya budhe, Arum cuma kangen sama mas Niko".
" Hmmm..... udahlah cantik, untuk sementara kalau kangen lihat wajah mas mu ini, mas rasa wajah mas lebih ganteng dari suamimu yang tua itu", kekeh Fahrizal kakak sepupu Arumi yang merupakan dokter muda.
" Iya dech... kakak memang lebih cakep dari suami Arum.... dan juga lebih bawel", kekeh Arumi selanjutnya.
" Hahaaa..... waduduhh.... berani sekali bumil cantik ini mengatai dokter ganteng bawel".
" Lha memang kamu itu bawel banget kalau sama adikmu Le". budhe
" tuh kan budhe aja sampai hafal". Kekeh Arumi.
" Wah wah... rupanya baru disini satu minggu saja sudah membuat perhatian ibunya pindah padamu cantik, aku anaknya saja yang baru pulang koas tak dibela... huuhhh", sungut Fahrizal seraya menyentil kuping Arumi pelan.
" Aww.... sakit tahu, iihhh... jail, Amit amit jabang bayik Nak... jangan kamu tiru ya kejahilan pakde mu itu", ringis Arumi sambil melotot kearah Fahrizal.
" Huss.... tua tua... bukan nya Niko itu gagah dan ganteng ? masak di kata tua!", sahut budhe.
" Tau tuh budhe kakak tuh suka banget menghina suami Arum padahal belum pernah ketemu".
" Tua lah .. masih gantengan juga kakak ... wekk", Fahrizal menjulurkan lidahnya.
" Yuk kita makan, panggil Bapakmu le".
" Iya bu," Fahrizal kemudian meninggalkan dapur untuk memanggil Bapaknya yang sedang asyik berkebun.
Arumi memang tinggal di uwak nya untuk sementara, ini semua rencana dari Ayah Ery dan juga Papa Windra. Kebetulan uwak Arumi ini tinggalnya di pinggiran kota yang tidak begitu jauh dari Rumah Arumi mungkin perjalanan 1 jam, sekitar 35 km.
Di daerah pegunungan yang Asri dan sejuk, dengan pemandangan indah, sehingga Arumi masih bisa kuliah berangkat dari rumah uwak, walau jauh di jalannya tapi untungnya ada Fahrizal yang selalu antar jemput.
" Dingin banget kak pagi ini", Arumi membetulkan sweternya saat masuk mobil hendak berangkat kuliah.
__ADS_1
" Iya, tapi kalau sudah jalan nanti berkurang soalnya kita menuju kota dan daerahnya juga lebih rendah pasti akan terasa hangat di pagi begini" .
" Yuk, udah pamit sama Bapak ibu?".
" Sudah, Ayo".
Mereka berangkat meninggalkan pekarangan yang Asri dan sepi hanya terdengar suara gemericik air serta suara rengekan kambing yang lapar, koko ayam serta desiran pepohonan diterpa angin pagi.
*****
Niko yang sudah sangat frustasi merindukan Arumi akhirnya mencoba menunggu di arena parkir kampus dari pagi, berharap bertemu dengan Arumi walau hanya sebentar.
Sudah satu jam Niko duduk dibelakang stirnya, matanya beredar mencari sosok yang di rindui, tapi belum juga terlihat sampai sebuah dering ponsel membuyarkan keheningannya.
Dreettt dreettt dreettt
➡️" pagi pak, di toko ada sedikit masalah tolong datang secepatnya", rupanya telpon dari Deni.
➡️" Tunggu sebentar lagi saya sampai".
Tut tut...
Niko langsung memutuskan sambungan telponnya, kemudian menyatakan mobilnya dan pergi meninggalkan Area parkir kampus.
-
-
-
**SORRY READER SETIAKU AGAK LAMA UP NYA🙏 MIGRENKU LAGI KAMBUH NIH... PUSIANG TIDAK BISA MIKIR, MAAF KALAU BANYAK TYPO YA... 🙏🙏🙏
LANJUUTTTT**.....
__ADS_1