
Iqbal terus menghubungi Kirana dan menemui Kirana setiap pulang sekolah tapi Kirana terus menghindar, selalu ada alasan untuk menghindar dari Iqbal.
"Maaf kan aku Bal, bukan maksud ku begini pada mu. Tunggu aku sampai aku siap menemui mu lagi," batin Kirana saat melihat Iqbal dari kejauhan.
Setiap hari Iqbal datang ke sekolah untuk menemui Kirana tapi Kirana tetap menghindar dan tak mau menemui Iqbal.
"Kok kalian berdua, Kirana mana?" tanya Iqbal.
"Kirana ga masuk sekolah, katanya sih dia sakit," ucap Selly beralasan.
"Sakit apa? Kok ponselnya ga bisa di hubungi ya?" tanya Iqbal.
"Ponsel Kirana rusak, jatuh dari ke selokan terus ga nyala lagi," ucap Citra terus menutupi keberadaan Kirana dari Iqbal.
"Kalau kalian ketemu sama Kirana, sampai kan salam rindu ku padanya," ucap Iqbal.
Karna yang di cari tidak ada, akhirnya Iqbal pun pergi dengan rasa kecewa dan rindu di hatinya.
Selly dan Citra segera memanggil Kirana dari persembunyiannya, lalu Kirana pun berjalan mendekati kedua sahabatnya.
"Tadi dia bilang apa?" tanya Kirana melihat ke arah Iqbal pergi.
"Katanya salam rindu dari Iqbal untuk princes Kirana Larasati Rahayu yang paling cantik yang sudah membuat seorang Iqbal jadi gila karna terus di cuekin," ucap Citra dengan nada sindiran.
"Kamu ini, bisa aja," ucap Kirana.
"Jadi kan kita kumpul di rumah ku?" tanya Citra.
"Jadi dong," ucap Kirana dan Selly bersamaan.
Mereka pun pulang dengan menggunakan angkutan umum menuju rumah Citra.
Sesampainya di rumah Citra yang sederhana tapi bersih dan asri dengan halaman yang cukup luas, Citra langsung mengajak ke 2 sahabatnya masuk ke dalam kamarnya.
"Kalian mau minum apa?" tanya Citra menyimpan tasnya di atas meja belajar.
"Apa aja deh asal jangan racun aja," ucap Selly dengan asal.
__ADS_1
"Ya kali aku kasih kalian racun, nanti siapa yang nemenin aku pas aku lagi galau," ucap Citra lalu keluar dari kamarnya dan membuat kan minuman di dapur untuk Kirana dan Selly.
Tak lama Citra pun datang membawa 3 gelas Jus jambu dan toples kue lalu menyimpannya di atas meja belajar miliknya.
"Kalian lapar ga? biar bunda ku siap kan makan untuk kita," tanya Citra.
"Ga usah, tapi kalau maksa sih boleh juga, hehehe" ucap Kirana dengan candaannya.
"Boleh deh, aku juga lapar," ucap Selly.
"Ya udah aku bilang bunda ku dulu ya," ucap Citra kembali lagi ke dapur untuk menyampai kan pesan dari teman-temannya.
"Bunda teman ku mau pada makan, bunda mau masak apa biar aku bantu," ucap Citra.
"Ga usah, cuma mau masak ayam aja kok. Tinggal di goreng aja ga usah di bantu, kamu temani aja Selly dan Kirana nanti bunda panggil kalau ayamnya udah mateng," ucap bunda Susan.
Citra pun kembali ke kamarnya, sementara Kirana dan Selly yang sedang curhat tentang Iqbal dan Citra langsung ikut nimbrung.
"Curhat apa lagi ini?" tanya Citra.
"Biasa lah kalau ga Iqbal siapa lagi," jawab Selly.
"Tanya dulu hati mu, apa kamu masih mau sama dia atau gimana? Aku sih terserah kamu, kalau kamu mau terusin hubungan kamu sama Iqbal ya boleh asal kan kamu tetap begini. Dan tetap pada niat awal mu, kesuksesan tidak akan datang dengan sendirinya. Kita tetap harus sekolah dan belajar agar kita sukses di masa depan," ucap Selly mencoba mengingat kan.
"Apa aku putusin dia aja ya?" tanya Kirana.
"Itu terserah kamu, kan kamu yang menjalani hubungan sama dia. Kalau dia memang yang terbaik buat kamu dia ga akan mungkin menjerumus kan kamu ke dalam hal-hal yang ga baik, dia pasti mengingat kan kamu untuk hal-hal yang baik," ucap Citra.
Selly dan Citra terus memberi masukan yang baik untuk Kirana, mereka berdua tidak mau melihat Kirana sedih karna hal apa pun.
Tok tok tok
Sampai akhirnya pintu kamar Citra di ketuk oleh bu Susan dan bu Susan pun membuka pintu kamar Citra.
"Citra, ayo ajak teman-teman mu makan, bunda sudah selesai masaknya," ucap bu Susan.
"Iya bunda," ucap Citra lalu berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Ayo kita makan dulu, tadi katanya pada lapar. Nanti kita lanjut lagi curhatnya," ajak Citra.
Kirana dan Selly ikut berdiri dan berjalan beriringan dengan Citra menuju meja makan di dapur.
"Maaf sudah merepot kan bunda," ucap Kirana.
Kirana tetap merasa kan kasih sayang dari seorang ibu hanya saat Kirana berada di rumah Citra atau Selly, Kirana menganggap ibu Selly dan Citra sebagai ibunya sendiri dan kedua sahabatnya pun tidak pernah merasa keberatan dengan hal itu.
Setelah makan selesai, Kirana membantu mencuci piring bekas makan mereka bertiga.
"Kapan-kapan kita ke rumah mu ya Kiran, biar kita kenal dengan paman dan bibi mu," ucap Citra.
Bu Susan yang kebetulan ikut makan bersama Citra dan ke 2 temannya, mendengar percakapan anaknya dan temannya merasa heran dengan apa yang di sampai kan oleh Citra.
"Memangnya ayah dan ibu mu kemana nak?" tanya bu Susan.
"Ayah dan ibu ku sudah bercerai tante sejak aku masih bayi dan aku di besar kan oleh paman dan bibi dari ibu," jawab Kirana.
"Oh begitu, kenapa ga ada salah satu dari mereka yang merawat mu?" tanya bu Susan merasa penasaran dengan Kirana.
"Sejak aku di lahir kan, ibu menitip kan ku pada paman dan bibi karna ibu harus menjadi tkw ke Arab Saudi untuk membiayai kebutuhan ku. Sedang kan ayah sudah menikah lagi setelah menikah dengan ibu," cerita singkat dari Kirana membuka luka lama yang sengaja ia pendam.
"Bunda kepo deh, ayo ah kita masuk lagi ke kamar. Kalau terus cerita Kirana bisa sedih," ucap Citra mendorong tubuh kedua temannya.
"Terima kasih ya bunda, makanannya enak," ucap Kirana.
"Iya sama-sama nak," ucap bu Susan.
"Kasian sekali anak itu, di terlantar kan oleh kedua orang tuanya. Semoga kamu mendapat kan kebahagiaan dari orang-orang di sekitar mu nak," gerutu bu Susan.
Sore menjelang, Selly mengajak Kirana untuk pulang. Kirana pun berpamitan pada bu Susan.
"Bunda, aku pamit pulang ya. Terima kasih udah mau masak buat aku makan di sini," ucap Kirana mencium punggung tangan bu Susan.
"Iya sama-sama nak, jangan kapok main ke sini ya nak," ucap bu Susan.
"Aku juga pamit ya bun," ucap Selly mengikuti Kirana mencium punggung tangan bu Susan.
__ADS_1
"Iya hati-hati di jalan ya nak," ucap bu Susan.