
" Yank...kok ninggalin mas sih", saat masuk kamar mendapati Arumi sudah diatas tempat tidur dan berselimut rapat.
Tak ada jawaban, Arumi asyik memainkan ponselnya.
" Yank... ", rengek Niko seraya membelai pucuk kepala Arumi.
" Yaaankk...", tak ada jawaban. Arumi memang sedang kesal dan juga pembawaan baby nya diusia trimester ke dua ini jadi sebel dengan Niko.
" Jawab dong.... kamu ini kenapa? marah!!".
Masih diam Arum tetep dengan ponselnya kemudian memiringkan badannya membelakangi Niko.
Niko akhirnya menyerah, dia kembali pada ponselnya. Dan membiarkan Arumi tidur.
Dihatinya selalu saja ragu jika harus bercerita tentang dirinya dan Cilia, Niko takut jika Arumi marah dan pergi meninggalkannya.
******
Papa sampai rumah hampir jam sebelas malam, rasa ya ingin segera bertemu Niko dan menghajar anak itu. Tapi Niat itu ia urungkan, mengingat sudah malam semua penghuni rumah sudah menuju alam mimpinya.
" Pa... dari mana saja kok sampai malam?".
" Tadi menanyakan pada hal pada Kevin... anakmu itu lho, ternyata kejadian kemarin kepergok itu belum juga kapok, bahkan papa lihat sendiri saat di parkiran rumah sakit, Papa hanya takut Arumi jika melihat kelakuan Niko, gimana sama kandungannya... kecewa papa ma, sama anakmu yang payah itu", umpat papa karena geram dengan Niko.
" Hmmm.... mama juga geram pa, apa sebaiknya perusahaan sementara yang handel papa, kita lihat dia mau gimana, kalau di rumah tidak ada kerjaan!", usul mama.
" Papa lagi memikirkan cara untuk memberi dia leluasa dengan Cilia tanpa Arumi tau".
" Kok gitu pa..... berarti papa memberi peluang anak itu untuk menyatukan cintanya dong... Mama ga setuju pa!", ketus mama.
" Oke kita pikirkan langkah kita besok lagi, sekarang sudah malam sebaiknya kita tidur".
******
Pagi hari Arumi dan Niko berangkat bareng, Niko mengantarkan Arumi ke kampus kemudian berangkat kekantor. Di dalam mobil mereka hanya saling diam.
Niko merasa sangat bersalah karena tadi pembicaraan papanya, yang membahas Cilia dan kejadian di rumah sakit saat papa melihat dirinya dengan Cilia serta telpon Arumi yang dia abaikan saat minta diantar periksa.
Sampai Akhirnya sampai dikampus, dan Arumi turun dia langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Niko dan mencium punggung tangannya, salam dan langsung jalan tanpa menoleh lagi.
Niko melihat kepergian istrinya sampai hilang dibalik dibalik tikungan lorong menuju
__ADS_1
kelasnya. Kemudian dia melajukan mobilnya menuju kantor.
Pikirannya sedikit kacau, antara ingin melanjutkan pengobatan Cilia atau setia pada Arumi tapi bagaimana Cilia dia hanya hidup dengan ibunya yang sudah terbaring lemah ditempat tidur.
" Haaahhhh...." Niko mengacak rambutnya setelah tiba di ruang kerjanya.
" Bos.... sepertinya suasana hatimu tidak baik? bagaimana kemarin konsultasinya?", Kevin menyelidik.
" Tidak bagus, dan Papa mengancam jika aku membiayai pengobatannya", terang Niko dengan wajah murung.
" Maksudnya?"
" Iya tadi pagi papa marah padaku, dia tahu semuanya, karena kemarin saat aku sedang bersama Cilia Papa melihatku".
**Flashback on
" Niko** sudah berapa kali papa ingatkan jauhi wanita itu, tinggalkan dia, masa depanmu bersama Arumi bukan dia".
" Pa... Niko cuma ingin memberikan dia pengobatan, bukan maksud apa apa.... tolong lah pa... ijinkan Niko memakai uang perusahaan untuk biaya pengobatannya".
" Oke... papa ngasih waktu untuk mu 3 bulan dan setiap bulannya kamu boleh ambil uang 100 juta untuk pengobatan dia, itung itung sedekahnya perusahaan, tapi.... kamu tidak boleh menikahinya apalagi sampai meninggalkan Arumi, jika itu terjadi, kamu tidak boleh menemui Arumi dan anakmu selamanya". ungkap Papa saat tadi pagi bicara di ruang kerjanya, sesaat setelah selesai sarapan.
"Oke Niko terima.... terima kasih atas kepercayaan dan juga dana bantuannya pa".
Seandainya Kamu tahu Niko papa sedih, sedih sekali dengan mu, papa marah, sangat marah, tapi papa merasa lemah, maafkan papa Arum disini kamu hanya korban dari keegoisan papa dan mama, semoga kamu kuat nak dan tidak pernah tau semua ini.
Akhirnya Niko pamit keluar dengan hati lega, rasanya ingin bersorak karena senang, dia bisa memberi bantuan pengobatan untuk wanita yang selama ini masih duduk manis di hatinya.
Tapi Arumi.... istrinya, bagaimana jika dia tau, apakah dia masih akan bertahan disisinya, dirinya jelas tidak bisa hidup tanpa ada Arumi, wanita itu juga sangat berarti di hidupnya, apalagi sebentar lagi akan ada baby.
Hatinya yang tadi girang ingin berlonjak menjadi bermuram durja, Arumi.... tidak, tidak dia tidak boleh tau, toh aku juga tidak akan menikahi Cilia, aku cuma mau dia sembuh dan berkarir lagi.
Flashback of
******
Tiba di kantor Niko disibukkan dengan berkas yang menumpuk, sebuah telpon masuk menghentikan kesibukannya.
Dreeetttttt....
Niko segera menjawab, ternyata dari dokter yang memberitahu bahwa hari ini ada jadwal Cilia untuk operasi pengangkatan sel kankernya.
__ADS_1
Sebenarnya Cilia kemarin sebelum tidur sudah mengabari tapi Niko tidak fokus saat membaca pesannya karena sudah mengantuk.
" Oke masih ada waktu 2 jam untuk pergi ke rumah sakit", batin Niko kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dua jam telah berlalu dan Niko segera bergegas untuk menuju rumah sakit setelah sebelumnya berpesan pada Kevin untuk menghandel pekerjaan kantornya hari ini.
Tak lupa dijalan berhenti disebuah restoran untuk makan siang dan sembahyang dulu.
Sesampainya di rumah sakit, dia buru buru menuju kamar Cilia karena sudah dua hari dia di rumah sakit ini sebelum akhirnya mendapat jadwal operasi hari ini.
Begitu masuk kamar Cilia ternyata 2 orang suster sedang merapikan tempat tidur karena akan di bawa ke ruang operasi.
" Pak.... operasinya 1 jam lagi, jadi pasien akan kami bawa dulu ke ruang persiapan untuk diberikan suntikan bius", terang seorang suster yang siap mendorong tempat tidur Cilia ke lantai 4, dimana Cilia akan dilakukan tindakan operasi.
" Oke....", jawab Niko singkat.
" Hai..... kamu harus kuat ya... ada aku disini akan menunggui mu, tenang... dan berdoa terus", Niko menguatkan Cilia sambil membelai rambut Cilia.
" Iya... makasih ya untuk semuanya", jawab Cilia pelan.
" Mari pak", suster mendorong tempat tidur itu keluar diiring Niko yang berjalan disampingnya.
Mereka menuju lantai 4, setelah lift terbuka mereka kelar, sebelum Cilia dibawa Masuk Niko menguatkan hati Cilia lagi.
" Kuat ya... tenang, Cici pasti bisa melewatinya".
" Takut.... Cici akan sendirian Ko didalam!".
" Ya ... tidak sendirian lah kan ada dokter, suster... banyak... mereka akan berjuang untuk kesembuhan mu... tenanglah", Niko terus mengusap rambut Cilia kemudian cup... satu kecupan lembut mendarat dikening Cilia, dan itu sukses membuat semangat Cilia langsung menyala.
" Terima kasih....", ucap Cilia sambil melambaikan tangannya saat suster membawanya masuk ke ruang persiapan.
-
-
-
-
Lanjuuttt
__ADS_1