CINTA TAK BERJODOH

CINTA TAK BERJODOH
Bab 30. Kios baru.


__ADS_3

Sesuai janji pagi sekali Arka sudah ada di rumah Kirana untuk membantu mengisi kios baru yang memang jauh dari rumah Arif.


"Arka kamu kirim dulu paket ke ekspedisi sekalian bawa barang jualan ke kios," ucap Kirana.


"Tinggal beri kan aja kan ya, timbang langsung bayar. Gitu kan," ucap Arka.


"Iya, ini buat ongkos kirimnya dan ini kunci kiosnya. Mudah-mudahan bisa selesai hari ini ya," ucap Kirana memberi kan uang untuk ongkos kirim barang di ekspedisi.


Arka memindah kan satu dus besar di jok belakang motor dan satu kantong besar di simpan di bagian depan motor.


"Aku berangkat ya," ucap Arka menghidup kan motornya lalu melaju kan secara perlahan.


"Iya hati-hati di jalannya ya, cepat balik lagi ya. Masih banyak yang harus di angkut," teriak Kirana.


Kirana masuk ke dalam rumah untuk mengemasi barang-barang yang belum di masuk kan ke dalam dua besar.


"Bukan saatnya sedih memikir kan kasih sayang dan pengakuan dari ayah dan ibu, sekarang saatnya aku cari uang yang banyak buat bahagia kan paman dan bibi. Semoga usaha ku makin lancar, biar aku bisa kuliah," batin Kirana.


"Kiran sarapan dulu, bibi udah masak sayur kesukaan kamu. Sayur sop ayam, kamu sarapan dulu ya biar ada tenaga pindahan kiosnya," ucap Lia.


"Iya bi," jawab Kirana singkat menghentikan kegiatannya lalu pergi menyusul Lia ke dapur untuk sarapan.


"Bi uang belanja masih ada?" tanya Kirana.


"Ada nak, sampai buat besok. Ya udah nanti aku tambahin ya, nanti kayanya aku ga pulang. Setelah selesai kirim barang, aku mau beres-beres kios untuk menyiap kan pembukaan untuk besok," ucap Kirana.


"Oh iya, semalam paman ga pulang ya bi. Aku belum sempat bilang kalau aku udah sewa kios," sambung Kirana terus melahap makan yang ada di piring.


"Eh iya, paman mu kemana ya?" tanya Lia baru ingat kakak lelakinya ga pulang.

__ADS_1


"Kemarin sore kan ibu masuk rumah sakit, aku dan paman yang membawa ke IGD karna suami barunya ga bertanggung jawab. Ibu di biar kan gitu aja tanpa mau membawanya ke klinik atau periksa ke dokter," ucap Kirana menjelas kan.


"Terus kondisi ibu mu bagaimana sekarang?" tanya Lia.


"Aku ga tau, kemarin aku pergi karna ibu ga mau ada aku. Ya udah aku pergi aja," jawab Kirana.


"Terus biaya rumah sakit siapa yang bayar?" tanya Lia.


"Mana ku tau bi, mungkin paman atau suami barunya. Aku ga perduli, ibu aja ga pernah perduli pada ku kenapa aku harus perduli pada ibu," jawab Kirana dengan perasaan yang biasa saja karna terlalu sering sakit hati oleh Rose.


"Jangan seperti itu nak, biar bagaimana pun dia tetap ibu mu. Kamu harus tetap hormat dan jangan seperti orang yang tidak tau berterima kasih, bibi dan paman tidak mengajar kan mu seperti itu nak. Tetap rendah hati apa pun yang terjadi, jangan pernah tinggi hati nanti kamu bisa celaka," ucap Lia.


"Bi aku udah bosan terus-terusan ga d anggap ada oleh ibu, setiap aku mendekat pasti ibu menolak," ucap Kirana.


Di tengah perdebatan antara Lia dan Kirana, terdengar bunyi klakson motor dari luar.


"Ini tinggal angkut Ka, ada satu dus besar dan satu dus kecil," ucap Kirana memberi arahan pada Arka.


"Iya," ucap Arka langsung masuk ke dalam rumah dan mengangkut dus besar yang ada di dekat pintu.


"Yang ini di bawa juga atau gimana Kiran?" tanya Arka menunjuk satu kantong besar paket yang sudah di pack.


"Itu untuk paket yang COD, nanti setelah kamu antar dus itu ke kios kita antar paket yang COD seperti biasa. Udah beres antar paket kita ke kios, beresin semua barang-barang di kios," ucap Kirana menjelas kan rencana hari ini.


"Oke deh, aku antar ini dulu ya," ucap Arka.


Arka segera pergi mengantar dus-dus yang berisi kosmetik ke kios baru milik Kirana.


"Aku mandi dulu ah, biar Arka datang nanti tinggal pergi," gerutu Kirana masuk ke dalam rumah lalu masuk ke kamar untuk mengambil handuk.

__ADS_1


Tak sengaja Kirana mendengar Lia sedang ngobrol dengan seseorang di ujung telpon yang menyebut nama dirinya. Kirana sengaja mendengar kan dari balik tembok menuju ke dapur.


"Bibi ngobrol di telpon sama siapa ya, kok bawa-bawa nama ku," gerutu Kirana.


Setelah Lia selesai menelpon, Kirana pun berpura-pura tidak mendengar apa pun lalu masuk ke kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, Lia memberi tau Kirana kondisi ibunya saat ini.


"Kiran, tadi paman mu telpon. Kasih tau kondisi ibu mu saat ini, ibu mu terkena paru-paru dan lambung. Saat ini rumah sakit minta deposit untuk rawat inap," ucap Lia.


"Terus kenapa bilang sama aku, kan dia punya suami. Minta aja sama suami tercintanya, giliran butuh uang aja inget sama aku. Aku sampai ngemis-ngemis cuma minta di peluk aja dia ga mau, apa lagi ngakuin aku sebagai anaknya," ucap Kirana meluap kan rasa sakit hatinya pada Rose.


"Bi kemarin aku dengan niat baik ku ingin membawa ibu ke rumah sakit karna aku ga mau liat ibu menderita dengan penyakitnya, tapi apa yang ku dapat hanya penolakan dari ibu yang ku dapat. Sekarang giliran biaya rumah sakit baru cari aku," sambung Kirana.


"Tapi Kiran paman mu lagi ga ada uang, paman belum gajian," ucap Lia meyakin kan Kirana.


"Bukan urusan ku, suruh aja suaminya bayar biaya rumah sakit kenapa harus aku. Aku kan bukan siapa-siapa untuk ibu," ucap Kirana melangkah pergi masuk ke kamarnya.


Kirana pun berpakaian rapih dan sedikit bersolek, bersiap untuk pergi dengan Arka mengantar paket pesanan pelanggan sekitar rumah Kirana yang memang jaraknya dekat.


"Maaf kan aku bu, bukannya aku ga mau bantu biaya rumah sakit tapi aku juga mau ibu merasa kan apa yang aku rasa kan selama ini. Rasa sakit yang ibu beri kan pada ku selama ini membekas di hati ku bu, ibu tega pada ku dan aku pun bisa melaku kan hal yang sama," gerutu Kirana memandang wajahnya di depan cermin.


Suara klakson motor terdengar, Kirana segera keluar dari kamar dan keluar rumah dengan membawa satu kantong besar paket.


"Tolong dong Ka," ucap Kirana, Arka pun turun dari motor dan membawa kantong besar berisi paket untuk COD.


"Bi aku pergi dulu," teriak Kirana.


Kirana pun pergi dengan Arka untuk mengantar paket-paket pesanan pelanggan.

__ADS_1


__ADS_2