
"Aku ajak tetangga dan pasang status di media sosial agar mereka datang ke sini dan belanja di toko kamu"
Belum sempat berterima kasih rombongan pelanggan pun datang lagi, memborong banyak kosmetik di toko Kirana. Iqbal menawar kan banyak prodak kosmetik pada pelanggan yang datang agar pelanggan banyak membeli prodak kecantikan di toko Kirana.
"Terima kasih untuk semuanya ya," bisik Kirana dengan senyuman manis di bibir tipis Kirana.
Karna toko sudah mulai sepi, jam 7 malam Kirana menutup tokonya dan pulang ke rumah pamannya. Penghasilan hari ini ******* banyak karna pembeli banyak yang memborong kosmetik di toko Kirana.
"Aku pulang dulu ke rumah paman ku, besok kamu datang seperti biasa ya. Jam 8 sudah di sini dan ini gaji dan bonus hari ini, terima kasih atas bantuannya hari ini ya," ucap Kirana memberi kan sejumlah uang pada Iqbal.
"Aku antar ke rumah paman mu ya Kiran, biar besok aku bisa jemput kamu lagi," ucap Iqbal menawar kan tumpangan.
"Boleh tapi besok aku libur kuliah, biar paman ku yang antar kan aku ke sini. Sekalian aku ada keperluan lain sama paman ku besok," ucap Kirana menolak secara halus.
Selesai mengunci pintu toko dan rolling door, Iqbal mengantar Kirana pulang ke rumah Arif. Sepanjang perjalanan Iqbal terus mendekati Kirana dengan caranya sendiri. Kirana terus menunjuk kan arah ke rumah pamannya karna selama pacaran sampai saat ini Iqbal belum pernah mengantar Kirana sampai di depan rumah.
"Stop di sini aja Bal, rumah paman sudah dekat," ucap Kirana dan Iqbal langsung menghentikan motornya sesuai perintah Kirana, lalu Kirana pun turun dari motor dan membuka helm yang di pakainya dan memberikannya pada Iqbal.
"Kenapa ga sampai depan rumah aja Kiran?" tanya Iqbal heran.
"Aku jalan kaki aja, ga apa-apa. Terima kasih ya udah di antar sampai sini, sampai jumpa besok ya. Bye bye," ucap Kirana melambai kan tangannya lalu pergi meninggal kan Iqbal.
Tanpa berpikir panjang Iqbal pun pergi dari tempat Kirana turun dan melanjut kan perjalanan menuju rumah orang tuanya. Sedang kan Kirana terus berjalan sampai di rumah pamannya, dari kejauhan sudah terlihat Arif yang sedang duduk di teras depan rumah.
"Aku pulang paman," ucap Kirana saat sampai di halaman rumah Arif lalu Kirana mencium punggung tangan Arif.
__ADS_1
"Kenapa kamu jalan kaki nak, kenapa ga bilang sama paman? kan bisa paman jemput ke toko," ucap Arif dengan heran melihat Kirana pulang berjalan kaki.
"Aku naik ojek online kok paman, cuma sampai depan sana. Oh iya bibi Lia mana?"
"Bibi mu ada di dalam, kamu cari aja dia di dalam,"
Kirana mencari Lia ke dalam rumah, dan ternyata Lia ada di dalam bersama anaknya sedang menonton tv. Anak perempuan Lia kini berusia 4 tahun, sejak kecil memang dekat dengan Kirana.
"Hai cantik, lagi apa nih?" sapa Kirana langsung di sambut dengan teriakan dari Keyla dan berlari menghampiri Kirana.
"Kak Kiraaaaaaaannnn," teriak Keyla memeluk Kirana dengan erat lalu Kirana menggendongnya.
"Aku kangen kakak, kenapa kakak baru pulang sih. Aku kan mau main sama kakak," ucap Keyla dengan manja.
"Kakak kan sibuk kuliah sama cari uang sayang, jadi kakak pulangnya kalau kuliah libur aja. Maaf ya kakak ga bawa apa-apa hari ini," ucap Kirana memberi pengertian pada Keyla.
"Sini nak," panggil Lia.
"Begini paman dan bibi, aku udah daftar kan paman dan bibi untuk pergi umroh minggu depan. Tadi pulang kuliah aku mampir ke travel umroh, tinggal persyaratan yang lain belum di beri kan. Tadi aku baru bayar setengahnya dulu. Besok kita ke travel umroh sama-sama ya," ucap Kirana mengungkap kan niatnya dan maksud kepulangannya kali ini.
"Ya ampun nak, memangnya kamu ada uang untuk memberangkat kan kami umroh," ucap Lia seakan tak percaya bahwa Kirana telah mendaftar untuk Lia umroh.
"Untuk ongkos paman dan bibi sih udah cukup, aku tinggal cari buat bekal paman dan bibi aja. Tadi di bantu teman ku jualan di toko, alhamdulillah banyak pelanggan yang datang untuk memborong dan hasilnya lumayan buat tambahan bekal bibi sama paman saat umroh nanti," ucap Kirana bercerita singkat.
"Terima kasih ya nak, kamu sudah bekerja keras untuk paman dan bibi. Paman doa kan semoga rezeki kamu lancar terus dan kamu selalu sehat, nanti saat umroh paman akan berdoa untuk jodoh terbaik mu," ucap Arif penuh doa dan di amin kan oleh Kirana dan Lia.
__ADS_1
...***...
Pagi-pagi setelah selesai sarapan, Kirana mengajak Arif dan Lia untuk registrasi ulang pendaftaran umroh dan membayar sisa biaya umroh.
"Paman sama bibi pake motor ini biar aku pakai ojek online aja," ucap Kirana setelah memesan ojek online untuk pergi ke travel umroh.
Meraka pun pergi menuju travel umroh dengan membawa persyaratan yang belum di serah kan. 30 menit perjalanan mereka pun tiba di tempat yang di tuju dan langsung masuk ke dalam ruangan.Saat hendak masuk, ponsel Kirana berdering tanda panggilan masuk.
"Paman aku angkat telpon dulu ya, paman dan bibi masuk aja dulu ke dalam langsung bertemu dengan customer service ya," ucap Kirana lalu menggeser tombol hijau untuk menjawab telponnya.
š±"Halo, Iqbal ada apa?
š±"Aku udah di depan toko nih sama pegawai kamu, kamu dimana, kenapa belum datang?"
š±"Aku di travel umroh sama paman ku, kamu bisa ambil kunci ke sini ga. Tolong kasih tau mba Rani paket di kantong besar itu untuk di ambil kurir ekspedisi dan yang kecil untuk kamu kirim,"
š±"Siap bos, meluncur,"
š±"Aku tunggu ya,"
Kirana menutup telponnya dan langsung masuk menyusul paman dan bibinya. Kirana membayar sisa pembayaran ongkos umroh paman dan bibinya dan jadwal keberangkatan pun sudah di tentu kan karna Arif dan Lia adalah jama'ah umroh yang terakhir mengisi kursi yang tersisa.
"Alhamdulillah ya nak, semuanya lancar," ucap Arif penuh rasa syukur.
"Semoga ibadah paman dan bibi lancar, pulang dalam keadaan sehat dan selamat,"
__ADS_1
"Oh iya nak, kenapa ibu mu ga di daftarin juga? Kenapa harus paman dan bibi yang di utama kan oleh mu?" tanya Lia.
"Bibi kaya yang ga tau ibu aja, pas di rumah sakit aja ga mau lihat aku tapi biaya rumah sakit maunya aku yang bayar. Kalau paman dan bibi kan udah jelas yang merawat dan membesar kan aku dari aku bayi sampai sekarang, masa aku ga tau berterima kasih setelah aku besar dan punya penghasilan sendiri. Pasti aku mengutamakan paman dan bibi dari pada ibu yang jelas-jelas menolak ku," ucap Kirana menjelas kan.