
Bilqis terlihat sangat lemas dan pucat, bahkan sesekali terlihat menahan sakit di perutnya. Richard membawa mobil dengan lebih cepat dan akhirnya sampai di sebuah rumah sakit. Segera Arumi memanggil dokter dan perawat di IGD untuk segera menolong sahabatnya itu.
Bilqis segera dibawa ke ruang perawatan, dokter segera memeriksa dan hasil diagnosa Bilqis kena mag akut, tukak lambungnya terluka, dan harus dirawat inap.
" Mba.... temannya ini kena mag dan lambungnya ada yang luka, sebaiknya di rawat untuk beberapa hari", saran dokter pada Arumi setelah memeriksa Bilqis.
" Iya Dok".
" Mohon diurus dulu admin nya mba, agar temannya segera mendapat kamar dan bisa istirahat".
" Baik Dok!".
" Rum...... maaf ini ATM ku..", ucap Bilqis lemah, setelah mendengar dokter berbicara.
" Nanti saja, simpan dulu, biar pakai punyaku dulu ya..., ".
" Tapi Rum.... ".
" Iya nanti, ini ga gratis.... jangan dipikirin, yang penting cepet sembuh". Ucap Arumi dengan nada bercanda.
" Dengerin tuh... istri bos, kamu tenang saja Bil.... cepet sembuh dan jangan kambuh kambuh lagi ya". Ucap Richard memberi semangat.
Bilqis manggut dengan senyum tipisnya, masih merasa sakit di perutnya.
" Temani Bilqis dulu.... ", ucap Arum saat hendak ke bagian admin, Arum membayar deposito dan setelahnya hendak ke toilet namun saat berjalan seperti melihat seseorang yang dia kenal, tidak yakin tapi penasaran dengan baju serta sepatu, cara jalan orang tersebut. Hampir saja Arum berteriak setelah yakin bahwa yang dia lihat barusan adalah Niko suaminya, namun terlanjur masuk kedalam lift dan pintunya telah tertutup.
Apa mas Niko sakit? tapi tadi kelihatannya baik baik baik saja, mungkin hanya jengukin teman atau rekan kerjanya", gumam Arumi dalam hati kembali menuju toilet.
Setelah sampai kembali di ruang inap Bilqis, Arum berencana mengabari orang tua Bilqis, tapi ternyata Richard suda hebih dulu mengabari.
" Kita tunggu orang tua Bilqis datang, baru kita pulang... gapapa bumil? masih kuat?", tanya Richard.
" Haii.... aku ini bumil yang sehat dan kuat, lagi pula kehamilann ku baru 4 bulam jadi masih kecil", teriak Arumi seraya melototi Richard.
Tak butuh waktu lama orang tua Bilqis pun akhirnya datang. Mereka mengucap salam dan kemudian menyalami Arumi dan Richard, kemudian langsung memeluk anak gadisnya yang terbaring lemas.
" Kok bisa kena mag .... kamu ini, suka bandel sih", gerutu ibu Irin ibunya Bilqis.
" Iya tuh dek kamu kalau dikasih tahu jangan telat makan, jangan makan kripik yang pedes pedes ga nurut", Papa Agung menimpali omelan istrinya.
" Mungkin mah.... tadi pagi adek ga sarapan terus tadi waktu jam makan siang adik makan bakso sama es jeruk, sejam kemudian Bilqis merasa mual, pingin muntah terus .... jadinya begini dech... hehee", kekeh Bilqis membuat papa mamanya memasang wajah marah.
__ADS_1
" Tuh kan.... bandel sih, gimana sekarang kerasa kan? enak? ", gerutu ibu Irin.
" Tante, Om Arumi pamit dulu.... Ayo Chard, mau bareng apa nanti? ", Pamit Arumi kemudian menarik tangan Richard.
" Iya bareng lah... Om tante Richard juga pamit, mau ngawal bumil takut sawan sudah kesorean", celetuk Richard membuat semuanya jadi tertawa.
" Iya... makasih ya buat kalian sudah ngurusin Bilqis hari ini", ucap ibu Irin dan pak Agung bersamaan.
" iya Tan, Om.... haiii.... kita pamit ya, cepet sembuh... muach", pamit Arumi seraya memeluk sahabatnya itu.
" Pamit dulu Bil... lekas sembuh oke!", Richard memberikan tos pada telapak tangan Bilqis.
" Iyaaa.... makasih buat kalian, mungkin kalau tidak ada kalian Bilqis udah kolep hari ini... secara sakit banget... kalian sehat selalu ya... makasih", ucap Bilqis lemah.
" Assalamualaikum...",
" Waalaikum salam", Mereka kemudian keluar ruang inap Bilqis, saat hendak ke parkiran Arumi melihat seseorang saat melewati depan kamar yang pintunya terbuka sedikit lebar.
" Kok kayak mbak Cilia.... sakit apa dia? Apa Aku harus mampir atau..... besok saja iya, Arum sekalian jenguk Bilqis lagi", gumam Arum sambil berjalan.
" Haiii....... bumil... ayo kok jalannya lambat banget.... cape? sini Richard tuntun!", Richard mengulurkan tangannya.
" Terima kasih.... tidak perlu, tapi jalannya pelan ya... biar Arum bisa bareng".
" Mas..... mas Niko.... mas?", teriak Arumi melihat Niko melintas.
" Merasa ada yang menyebut namanya Niko pun mengedarkan pandangannya, benar ternyata Arumi istrinya.
' Rum.... kok disini? apa kamu sakit yank? sakit apa? debay nya kenapa?", tanya Niko tak berjeda dengan wajah kawatir, setelah benar bahwa istrinya yang memanggil.
" Tidak mas... kami nganterin Bilqis yang sakit", jawab Richard ramah.
" Mas send....( mau bilang" mas sendiri ngapain, tapi diurungkan) owh Arum tahu, ya sudah ayo pulang, udah sore, apa mau nginep disini?", cerocos Arumi dengan wajah dingin, ada raut kecewa tapi Arum mencoba untuk menutupinya.
" Iya mas juga sudah mau pulang, tadi mas menjenguk teman yang sakit", alasan Niko melihat wajah istrinya menyimpan kecewa.
" Yank... mana kunci mobilnya, Sayang bareng mas saja, biar mobil dibawa Richard pulang baru besok bisa bawa pulang".
" Ini mas tadi yang bawa mobil Richard, karena panik dengan kondisi Bilqis", Richard memberikan kunci mobil Arumi pada Niko.
" Oke, mas minta tolong boleh?".
__ADS_1
" Iya mas".
" Kalau mobil Arum di bawa pulang Richard baru besok ketemu di kampus?".
" Iya mas boleh".
" Makasih ya Chard... maaf merepotkan!", icap Arumi lembut.
" Gapapa... memang sebaiknya bumil harus dikawal suaminya, gue mah seneng aja Rum suruh bawa mobil.... hahaaaa...", kekeh Richard.
" Oke, sampai jumpa Richard... Assalamualaikum".
" Waalaikum salam". Mereka berpisah diparkiran, sementara Niko dan Arumi menuju tempat parkir mobil Niko yang sedikit agak jauh.
Niko langsung menggenggam tangan Arumi supaya jalan sejajar dengan dirinya.
" Lepasin... Arum lagi ga mau di pegang mas...", Arumi menepiskan tangan Niko kasar.
" Kenapa? kok marah sih.... salah mas apa lagi?". ucap Niko bingung dengan tingkah Arumi, mereka sudah sampai mobil Niko, kemudian Niko membukakan pintu untuk Arumi, setelah Arumi masuk kemudian dia memutari mobilnya untuk masuk mobil dan menyalakan kontak mesinnya.
Niko menundukkan wajahnya dan memajukannya kearah Arumi, tapi Arum buru buru membuah mukanya, ternyata Niko memasangkan Safety belt untuk Arum, melihat istrinya membuang muka Nikopun jail dia mengendus telinga istrinya kemudian meniupnya lembut.
" Mas.... jail, Arum sebel". teriak Arumi.
" Kenapa kok marah tiba tiba, tadi mas dipanggil panggil sekarang sudah barengan kok malah cemberut sih... ".
" Udah jalan aja mas, Arum cape, lapar, ngantuk..... kesel... kecewa semuanya... puas!", teriak Arumi tanpa melihat Niko dia hanya menatap lurus ke depan.
" Mas mau jalan kalau Sayang jawab pertanyaan mas barusan".
" Iihhh.... ya udah Arum jalan saja". Arumi hampir membuka pintu namun Niko dengan cepat mengunci otomatis dari sentral tombol otomatis.
" Mas....".
" Hmmm...", Niko sinis tanpa menatap Arumi.
" Siapa sih yang ga sebel, melihat suami selalu mementingkan mantan pacar, dan mengabaikan istrinya, bahkan istrinya dalam kondisi hamil... mas kira Arumi patung, tidak punya perasaan..... kenapa mas dulu mau dijodohkan dangan Arum kalau ternyata hanya membuat Arum merasa diabaikan mas, hanya istri yang tidak dianggap.... urus kekasihmu itu mas.... kenapa?", pekik Arumi dengan jeritan tangis, untung saja didalam mobil kalau diluar mungkin sudah jadi tontonan banyak orang".
-
-
__ADS_1
-
Lanjutttt....