CINTA TAK BERJODOH

CINTA TAK BERJODOH
Disuapi


__ADS_3

" Mas Arum suapi ya...", Ucap Arum saat petugas mengantar jatah makan malam Niko.


" Iya.. ", Arum membetulkan posisi tidur Niko untuk sedikit terduduk dengan mengatur tempat tidur.


Dengan telaten Arum menyuapi Niko sesekali memperhatikan kondisi Niko yang terlihat gondrong, matanya cekung, bulu bulu jambang dan kumisnya seperti tidak pernah diurus.


" Mas..... kenapa rambutnya digondrongin sih, jadi jelek, besok kalau sudah sembuh di rapikan ya!", ucap Arumi menatap lembut pada Niko.


" Habisnya mas frustasi.... kirain Sayang tidak akan balik lagi, rasanya mas mau gila saja", jawab Niko lirih dengan tertunduk tidak berani menatap balik mata istrinya.


" Kenapa? kalau Arum tidak balik kirain mas bahagia, karena tidak ada lagi yang ngitip mas saat janjian sama mba Cilia", dengus Arumi sinis.


" Enak saja, mas ga seperti itu, mas sayangnya sama istri imut mas aja".


" Iya, tapi cintanya sama mbak Cilia", sinis Arumi seraya menyuapkan satu sendok penuh bubur ke mulut Niko sampai membuat Niko terbelalak kaget disuapin penuh dan ditekan pula.


" Yank..... sudah dong, maafin mas!".


" Halah..... maaf, udah sakit saja baru nyadar", Chiki menyibirkan bibirnya.


Setelah beres makan, Arumi mengelap mulut Niko dengan tisu basah dan meminggirkan meja tempat nampannya.


" Mas, udah malam kita pulang ya... Arum ikut kita pulang sampai mas sembuh", ucap Bunda pada Niko.


Rasanya berat berpisah, baik Arumi dan Niko mereka sama sama tidak mau melepaskan genggaman tangannya, tapi para orang tua tidak mengijinkan Arumi tidur di rumah sakit, mengingat kondisi Arumi yang tengah hamil.


" Mas cepatlah sembuh, biar ga pisah lagi bobonya", bisik Arumi pada Niko lirih, Niko pun sedih mendengarnya karena rasa rindunya belum terbayarkan walau sudah lebih dari dua jam bertemu istrinya.


" Iya, besok mas minta pulang, sayang pulang kuliah langsung pulang ke rumah Papa ya". jawab Niko masih menggenggam Arumi benar benar tidak rela melepas Arumi pulang, Papa yang melihat kemanjaan Niko pada Arumi tersenyum, semakin yakin jika putranya itu memang sangat sayang sama Arumi.


" Kita pulang dulu ya Nik..... gimana pisah sama istri rasanya? sampai tumbang begini, tolong jangan disia siakan gadis kecil Ayah, kalau masih ingin tidur bareng dia", goda Ayah Ery yang membuat seisi ruangan tertawa.


" K O langsung Ayah.... Niko janji akan bikin putri kecil Ayah bahagia ". suara lemah Niko terdengar bersemangat.


" Mas.... kita pulang dulu ya", Arum berjongkok dilantai agar bisa mencium pipi suaminya, Niko mengangguk melepas tangan Arumi.


" Jaga dirimu jangan sampai sakit, sampai ketemu besok ya". Niko membelai kepala Arumi.


" Ma, Pa , Chiki Arum pulang dulu", Arumi memeluk mereka satu persatu mertua dan adik iparnya.

__ADS_1


Niko melambaikan tangannya, cairan bening leleh disudut matanya.


" Diihhh..... cengeng, makanya jangan suka nyakitin cewek apalagi istrinya... rasain tuh sampai sakit begini", ketus Chikita sambil memonyongkan bibirnya.


" Mas sedih bukannya menghibur malah seneng, dasar bocah ingusan, lap tuh ingus!", sahut Niko kesal.


" Iya tuh Nik.... kerasa kan sekarang? makanya jadi suami jangan semena mena sama istri, kena betunya kan?", ucsp Mama seraya melirik pada Papa.


" Diihhh.... yang salah putra cengeng mu kenapa bicaranya melirik ke Papa, apa salah papa coba!", kesal Papa.


" Pa.... pokonya besok Niko mau pulang, boleh atau tidak sama dokter Niko mau di rumah, mau di rumah bareng Arum", rengek Niko lagi.


" Hmmm..... dasar tua tapi kayak bocah, siapa yang terlihat ingusan sekarang hah!", ledek Chikita sambil mendengus.


" Kayaknya bagus tuh Pa kalau besok mas Niko pulang terus mbak Cilia suruh ke rumah jadi biar mereka sakit berjamaah... hihiii", kekeh Chikita yang membuat papa, mama juga Niko melotot ke arahnya, tapi sedetik kemudian Papa pun tersenyum.


" Syukurin tuh, jadi bahan candaan adik mu". ketus Mama.


" Ma..... ".


" Hmmm.....".


" Ayo, kita pulang Ma... ", ujar Papa. Sementara Niko pasrah kalau malam ini tidak ada yang menemani tidur.


" Kamu gapapa Nik, malam ini sendiri?", tanya Mama kawatir.


" Gapapa ma, Niko sudah lebih baik".


" Ya sudah kita pulang, jangan banyak pikiran, Arum pasti besok pulang ke rumah, dia sayang sama kamu Nik, jangan sakiti lagi, nyesel nanti kamu kalau ga bisa jaga dia", ucap Mama memeluk Niko sebelum pulang.


" Dada mas.... selamat tidur ditemani suster ngesot.... Hihiiii.... ". Chiki menggoda Niko dengan mitos horor itu.


" Huh.... ga takut, mas mau vc sama istri mas wek...".


" Diihhh..... ketahuan, berarti takut..... iya kan???", ledek Chiki seraya menutup Pintu dan segera menyusul mama papanya yang telah lebih dulu keluar.


Kini Niko tinggal sendiri di kamar, tapi setelah Papa mama sampai rumah nanti bakal ditemani oleh pak Ngat.


Hati Niko tengah berbunga bunga rasanya sakitnya sembuh seketika, rasa kantuk akibat pengaruh obat pun sudah tidak mempan lagi.

__ADS_1


Memang tidak salah jika orang bilang suasana hati bisa mempengaruhi pikiran, tindakan dan juga sugesti yang besar.


Nyatanya Niko yang lemah dan lemas serta tak berdaya, dengan kedatangan Arumi dan dengan suapan Arumi, menu yang biasanya tidak pernah disentuh tadi habis ludes tak tersisa sehingga kini tenaganya kembali pulih walau belum sepenuhnya.


" Kalau kondisinya terus membaik seperti ini mungkin besok siang juga bisa pulang", ucap Dokter yang baru saja memeriksa Niko.


" Betul Dok.... iya saya sudah rindu sama istri, saya ingin cepat pulang", cerita Niko saking bahagianya sampai bercerita pada Dokter yang memeriksanya.


" Rupanya obatnya sudah ketemu, ya sudah selamat beristirahat, semoga lekas sembuh".


" Terima kasih Dok", ucap Niko memandangi kepergian dokter dan suster yang baru saja memeriksanya.


Sebentar kemudian pak Ngat datang dan membawa beberapa makanan untuk Niko.


" Mas.... sudah sehat?", tanya pak Ngat setelah menaruh makanan yang dibawanya di nakas.


" Alhamdulillah pak, bawa apa?".


" Sebelum berangkat Nyonya minta beliin bubur sumsum dan martabak untuk Mas Niko nyemil katanya".


" Terima kasih pak!, Bapak buka saja martabaknya mumpung masih hangat kita makan bareng yuk!", Niko semangat ingin segera sembuh.


" Iya mas", pak Ngat segera membuka bungkus martabak dan menyodorkan pada Niko dengan piring kecil tatakan cangkir.


" Hmmm..... enak Pak, Ayo habiskan mumpung masih hangat".


" Mas.... sudah terlihat segeran sekarang!".


" Iya dong pak.... tadi sudah makan banyak sampai habis, soalnya disuapin Istriku pak hee...", senyum sumringah Niko diiringi oleh tawa renyah pak Ngat.


" Ooh.... obatnya sudah cocok, pantes langsung seger".


" Hahaaa....", Niko hanya tertawa menanggapi ucapan pak Ngat.


-


-


-

__ADS_1


Lanjutttt....


__ADS_2