
Setelah Niko keluar ruang kerja, Papa Windra menelpon seseorang untuk memberikan tugas.
" Halo..... jalankan rencana yang pernah tertunda, jauhkan dia dari kota ini, untuk orang tua itu biarkan dia tetap berada disitu, sebagai rasa belas kasih akan aku kirim
seseorang yang akan mengurus, secepatnya".
" Baik pak, selamat malam".
Papa Windra menutup telponnya kemudian keluar ruang kerjanya.
Sementara Niko masuk kamar, mendapati Arumi masih terduduk di sofa duduk bersandar dengan baju daster tanpa lengan.
" Kok belum tidur? kenapa sakit?".
" Gerah mas.... rasanya gerah terus walau AC sudah di nyalain". jawab Arumi tanpa melihat Niko.
Niko duduk di depan toalet agar kompres nya pas di lukanya. setelah beberapa saat dirasa bengkaknya sudah berkurang kemudian dia mengoleskan gel anti bengkak, setelah itu dia mendekat ke sofa tempat Arumi duduk.
" Yank..... maafin mas, maaf.... sungguh apa yang kamu lihat kemarin, bukan... mmm... maksud mas... bukan seperti itu yank", ucap Niko terbata bata tidak tau harus menjelaskan seperti apa.
" Maafkan Arum mas..... bukan maksud Arumi menguntit, kebetulan Alloh ngasih Arum lihat semua yang mas lakukan selama ini dengan Mba Cilia, sekali lagi maafkan Arumi.... Arum akan lupakan semuanya... maaf". Arum bicara tegas tanpa melihat Niko yang duduk di sebelahnya.
" Rum.... mas yang minta maaf, mas tidak akan mengulanginya lagi".
" Itu bukan urusan Arumi , mau mas ulangi mau mas Nikahi .... semoga Arum tidak akan lagi di kasih lihat drama seperti itu lagi".
" Yank.... mas sudah menerima hukuman atas kesalahan mas, mas dipindah kerja sama Papa, dan mas juga sudah berjanji tidak akan peduliin Cilia lagi.... maafin mas Yank".
" Arum sudah memaafkan sebelum mas bilang.... jadi mulai sekarang berhenti meminta maaf mas, Arum tidak mau dengar apapun dari mas".
Niko beranjak meninggalkan Arumi menuju tempat tidur, sementara Arumi masih duduk diam di sofa, air matanya mengalir tanpa suara. Tidak mau larut dalam sedihnya Arum kemudian menghapus air matanya dan tersenyum sendiri, perlahan ia rebahkan tubuhnya di sofa.
*******
Pagi harinya Papa sudah siap kembali ke perusahaan yang ia rintis, untuk sementara waktu dia akan menjalankan tugas kembali menggantikan Niko.
Dan Niko terlihat sedikit lebih santai dari biasanya, dia berangkat agak sedikit siang, Arumi berangkat kuliah, walaupun kehamilannya sudah sedikit besar, Arumi berangkat diantar Niko sekalian berangkat ke mini market.
__ADS_1
" Yank.... Mas ditugasin papa di mini market sebagai hukuman, mungkin uang mas tidak lagi sebanyak dulu, semoga bisa untuk kita dan debay".
" Arum dan debay, perasaan tidak meminta sesuatu yang berlebihan mas.... mungkin maksud mas bukan kami, tapi orang lain yang butuh uang banyak dari mas", ketus Arumi tanpa menoleh pada Niko, Niko mendadak mengerem mobilnya karena terkejut dengan jawaban Arumi yang tidak ia sangka, untung tidak ada mobil yang berada tepat dibelakangnya.
" Yank..... tidak, mas tidak pernah memanjakan siapapun, percayalah yank...".
" Sudah Arum bilang..... Terserah".
" Ya.... oke, terserah", akhirnya mereka sama sama diam tidak ada yang bicara sampai Arumi turun dari mobil dia langsung salam dan mencium punggung tangan Niko kemudian masuk kampus. Dan Niko pun tidak bertanya Arum pulang jam berapa, hanya jawab salam kemudian putar balik dan pergi.
Niko sampai di mini market dan memang betul seperti Papa bilang bahwa mini market tersebut lumayan laris.
Niko mengamati sekeliling kemudian masuk ke dalam dan menuju ruang kerjanya, kemudian dia memanggil salah seorang karyawan untuk mengikuti dia di meja kerjanya.
" Halo, siapa namamu?".
" Iya pak, saya Deni".
" Sudah berapa lama kerja disini Deni?".
" Oke, ada berapa karyawan disini?".
" Ada 12 pak termasuk cleaning service, dan ada 2 shif pagi jam 6-2 dan siang 2-9:30 malam".
" Sip... terima kasih, nanti jam 2 kumpul semua ya, tolong beri tahu yang lain".
" Siap pak, permisi".
Niko melihat dan meneliti dalam toko kemudian menimbang dan memikirkan sesuatu untuk kemajuan mini market tersebut.
Dihari pertama kerja Niko sengaja kerja sampai toko tutup karena ingin tahu bagaiman keadaannya jika sampai malam.
Ternyata walau tidak sampai berjubel tapi memang mini marketnya selalu banyak yang keluar masuk untuk belanja.
Bisnis ini ternyata lumayan tidak bisa di remehkan, asal persediaan barang selalu lengkap ternyata bisa untuk hidup, gumam Niko manggut mangut.
Setelah toko tutup Niko baru beranjak pulang, tidak terlalu buruk pengalamannya di pindah kerja sama sang Papa, selain suasana baru dan pengalaman baru ada satu lagi, pikirannya makin semangat untuk lebih memajukan Mini market milik Papanya itu.
__ADS_1
Niko memarkirkan mobilnya kemudian masuk rumah yang sudah terasa sepi, hampir jam 10 malam jadi ke dua orang tuanya sudah dikamar begitupun Chiki dan Arumi.
Perlahan dia memasuki kamarnya, diedarkan matanya mencari sosok istrinya, ternyata istrinya sudah berlindung di balik selimut sudah tidur pulas.
Rasa lega dalam hati Niko, walaupun istrinya tidak menunggunya pulang dengan mata terjaga, setidaknya dia ada di kamarnya.
kemudian Niko masuk kamar mandi, rasa gerah sepanjang hari ini ingin segera di segarkan dengan guyuran air hangat untuk melepaskan rasa cape nya.
*****
Sementara Cilia bingung kenapa saat dia kontrol dan menanyakan jadwal kemoterapy nya dokter yang menanganinya ternyata dipindah kerjakan di Medan, dan ada penawaran untuknya jika mengikuti dokter pindah tugas akan diberikan pengobatan gratis.
Cilia kemudian berpikir, terasa aneh dan janggal tapi kemudian menanyakan di daerah mana medannya, Suster menjawab di Medan di daerah xx kemudian Cilia pun tersenyum, oke saya ikut dokter tapi hanya selama kemoterapi saja selebihnya nanti akan di pikir lagi. Cilia berpikir kalau di Medan dia bisa melihat anaknya setiap saat, karena kebetulan anak dari suami pertamanya juga di Medan di Asuh sama Neneknya karena mantan suaminya sudah menikah lagi di Jakarta dan istrinya seorang wanita karir makanya tidak bisa mengasuh anak dari Cilia.
" Oke sus, fix saya ikut dokter ke Medan .... yakin!". jawan Cilia mantap.
" Baiklah kalau begitu, satu minggu lagi anda menjalani Kemo dan itu di RS Medan ya, dengan Dokter Ivan".
" Baik terima kasih ".
Cilia kemudian bersiap untuk pulang, masih bertanya tanya seperti ada yang janggal, tapi dia sedang butuh pengobatan gratis saat ini makanya dia terima sudah begitu dia ingin bertemu dengan anak anaknya.
Dan satu lagi kebingungannya Niko sudah hampir dua minggu tidak menghubunginya meskipun hanya lewat chat atau telpon.
*Ya sudahlah..... aku harus sembuh, dan kembali sehat dan cantik lagi agar aku bisa menginsprasi banyak orang, mungkin dunia model sudah bukan milikku lagi, setelah itu aku bisa jadi inspirator pejuang kanker, kalau sudah begitu pelan pelan julukan model tukang kawin akan hilang dan menjadi seseorang yang mengagumkan, aku rasa kalau begitu adamanya, akan mudah masuk kekeluarga Santoso, bathinnya penuh semangat sambil menunggu taksi online pesanannya.
-
-
-
**TERKADANG BUTUH MASUKAN, KARENA IDE ITU AKAN SELALU KURANG....
TERIMA KASIH .... BUAT KALIAN YANG SETIA MENUNGGU DAN MEMBACAπππ
KRISAN KALIAN SELALU AKU TUNGGU DENGAN SENANG HATIππ***
__ADS_1