
Hampir 3 jam Niko menunggu tapi lampu masih merah, hatinya sedikit kawatir tapi kemudian Niko beranjak meninggalkan ruang tunggu mencari Mushola untuk sholat Ashar, sejenak dia menghadap Illahi memanjatkan doa untuk kelancaran operasi Cilia.
Setelah selesai Niko melihat ponselnya yang sedari tadi dia silent. Ada beberapa pesan dan email masuk. Dan juga dari istrinya Arumi.
โก๏ธ" Mas.... masih sibuk ya? Arum mau dibeliin rujak sama Mas, yang agak pedas ya mas, jangan pakai nanas, terima kasih, Arum tunggu ya, nanti pulang kerja bawain!".
Deg
Hati Niko terasa teremas, istri kecilnya minta rujak, berarti ini anaknya yang menginginkannya sementara dia di rumah sakit menungguin Cilia dan dia sudah janji.
" Pantesan dia menelpon beberapa kali, bahkan pesan ini sudah di kirim 2 jam lalu, maafin mas sayang.... ", bathin Niko.
Kemudian Niko bergegas pergi untuk mencari rujak," mumpung Cilia masih di ruang operasi dan mungkin masih butuh waktu beberapa jam untuk pemulihan, mending cari Rujak dulu dan diantarkan pulang baru balik lagi kesini", batin Niko.
Niko melajukan mobilnya pelan, sambil sesekali celingak celinguk mencari penjual rujak di pinggir jalan, setelah beberapa saat kemudian dia melihat tapi rupanya sedikit ngantri. Akhirnya dia meminggirkan mobilnya untuk parkir, kemudian mengantri, tak butuh waktu lama hanya sekitar 20 menit pesanan yang sesuai Arumi minta selesai. Kemudian dia kembali melajukan mobilnya ke rumah.
Dicari istrinya ternyata sedang asyik mengasih makan ikan di kolam halaman belakang.
" Nih pesanannya, harus dihabiskan ya... nyarinya susah!", Niko menyerahkan Rujak pesanan Arumi sambil fokus pada ponselnya.
" Terima kasih... Tapi Arum pingin makan berdua sama mas!.... Bi... maaf, tolong Ambilkan piring dan 2 sendok, bawa kesini ya bi.. ",Teriak Arumi membuat Bibi yang sedang santai di teras belakang kemudian bergegas ke dapur dan mengantar sendok juga piring pada Arumi.
" Tadi sudah makan nasi belum? kalau belum wajib makan dulu, biar ga sakit perut! ", ucap Niko mengingatkan sebelum Arumi menyuapkan rujak ke mulutnya.
" Sudah mas... iihh mas kok sibuk terus sih sama ponselnya... hayo makan rujaknya, Arum mau ditemani!", gerutu Arumi.
" Iya... sini mas mau coba, hiiii... bikin air liur mas langsung menetes!".
" Idiihhh... jorse .... hahaaa jorok sekali".
" Mas yang habisin ya... Arum pingin liat makan rujaknya, Arum dah ga pingin lagj!".
" Diiihhh.... kenapa jadi mas sih... tapi ini rujak enak banget Rum, segerr.... ".
Niko jadi yang menikmati dengan rakus, sementara Arumi hanya melihat dengan seksama.
" Mas mau mandi, terus balik lagi, mungkin nanti pulangnya malem jangan di tunggu, kemungkinan juga ga makan malam di rumah, Arum sendiri ya, nanti kalau mas sampai malam banget boleh minta temani Chiki tidurnya".
" Ya", jawab Arum singkat dengan wajah kesal.
Setelah beres mandi Niko langsung bergegas pergi lagi. Dengan langkah cepat dia menuju dimana Cilia dioperasi.
" Sus pasien yang bernama Cilia tadi, operasinya apakah sudah beres?".
__ADS_1
" Sebentar pak, saya cek dulu di ruang pemulihan". Suster itu memasuki sebuah ruangan dan kemudian keluar lagi memberi tahu Niko.
" Belum pak, tadi mulai Operasi jam 2:20, diperkirakan. beres jam 19:00 pak semoga sesuai jadwal, ditunggu saja, sebentar lagi, tapi nanti setelah keluar ruang operasi di ruang pemulihan dulu baru dibawa ke ruang inap", jelas suster.
" Ya sus... terima kasih".
******
Benar saja ternyata Niko sampai jam 11 malam belum pulang, akhirnya Arumi mengendap masuk ke kamar Chiki.
" Chik... kakak ikut tidur disini ya, mas Niko entah pergi kemana, belum pulang pulang, Kakak takut tidur sendiri", Bisik Arumi pelan, Chiki hanya ber " hmmmm" aja, menandakan masih mendengar tapi enggan membuka mata.
Akhirnya malam itu Arumi numpang tidur di kamar Chiki.
Paginya ketika bangun Arumi langsung menuju kamarnya ternyata Niko Niko masih terlelap, Arumi pelan menuju kamar mandi.
Dengan khusyuk Arumi melaksanakan sholat malam dan mengaji pelan sampai kumandang Adzan terdengar dia baru membangunkan Niko.
" Mas sudah subuh, bangun...", pelan Arumi menggoyangkan kaki Niko, Niko menggeliat dan mengerjapkan matanya.
" Sudah Adzan... bangun dulu sholat, baru dilanjut lagi tidurnya, semalam pulang jam berapa?".
" Hmmm.... iya, pulang jam 12 lebih, Sayang tidur dimana semalam?".
" Dikamar Chiki, entah kenapa biasanya tidak pernah takut tapi semenjak hamil Arum takut mas tidur sendiri, soalnya kalau malam kaki Arum suka kram tiba tiba, Mas pulangnya jangan malam lagi ya!", gerutu Arumi.
Mereka akhirnya sholat berjamaah, kemudian Niko hendak balik tidur lagi dan Arumi hendak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan membantu Bibi.
" Yank... sini temani mas tidur..", rengek Niko.
" Idiihhh... semalam saja mas tega membiarkan Arum tidur sendiri, kenapa sekarang minta ditemani! nakal!".
" Apa... ulangi... bilang apa tadi...".
" Nakal".
" Sini... berani ya ngatain mas Nakal, awas saja...". Niko mengelitiki pinggang Arumi.
" Mas geli mas.... mas...". Niko bukannya menghentikan malah semakin mengeratkan pelukannya.
" Disini saja, ga usah turun..... tidur lagi sama mas, kan semalam membiarkan mas tidur sendiri.... jadi harus membayar denda...".
" Denda..., enak saja... ga ada, kayak Arum kena tilang saja... ".
__ADS_1
" Iya kena tilang.... jadi harus bayar denda... dengan... cup ( Niko menyambar bibir Arumi)".
" Hhuuhhh... maasss.... ", nafas Arumi tersengal, tapi Niko tidak menghentikan ulahnya, terus saja mulai dari meniupin telinga Arum, menciumi, menggigit kecil dan akhirnya pagi itu Niko dan Arumi menikmati paginya penuh kehangatan.
" Mama.... selamat pagi....maaf Arum ga bantuin nyiapin sarapan...",
" Tenang.... bibi sudah siapkan, o ya.... kenapa semalam kata Chiki kamu tidur di kamarnya? ada apa? ".
" Hmmm.... Arum takut tidur sendiri, soalnya mas Niko pulangnya lewat tengah malem mah".
" Oya? kemana dia kelayapan malem malem?". Arum hanya mengangkat dua bahunya, menandakan tidak tahu, mama jadi mengeryitkan keningnya.
" Nik.... semalam kamu kemana kok pulang larut?". tanya Mama saat di meja makan.
" Jenggukin klien yang sakit mah?".
" Kok Aneh? sampai tengah malam?", mamah penuh selidik.
" Hmmm.... ma, tolong buatin kopi", tiba tiba papa bersuara saat keluar dari kamar, membuat obrolan Niko dan mama Erina berhenti.
Mama bergegas membuat kopi ke dapur dan Arumi segera menyelesaikan sarapannya karena hari ini kuliah pagi.
******
Arumi tengah menunggu Bilqis di toilet kampus, dari tadi temannya itu mengeluh tidak enak perut.
Hoeeek hooeekkk hooieekkk...
Terdengar Bisqis muntah muntah hebat dikamar mandi, Arumi yang mendengarnya langsung menggedor pintu toilet dengan keras dan penuh kepanikan.
" Bilqis... buka pintunya... Bilqis... cepatlah".
Dengan lemas Bilqis akhirnya membuka pintu toilet tersebut.
" Bilqis kamu pucat... hayo sini Aku bantu, pegang erat erat punggungku... masih kuat jalan sampai parkiran kita ke rumah sakit Bil...", panik Arumi, untung ada beberapa mahasiswa yang masih di kampus, mendengar pekikan Arumi akhirnya bala bantuan pun datang untuk memapah tubuh Bilqis sampai mobil Arumi.
" Terima kasih teman-teman... saya akan membawa Bilqis ke rumah sakit".
" Arum tunggu.... Bilqis kenapa? sini biar aku yang bawa mobilnya", Teriak Richard yang baru keluar dari kelas.
-
-
__ADS_1
-
Buat para pembaca, mohon krisan dan masukkannya ๐ supaya lebih bsik lagi, karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan Author mungkin setiap tulisan yang Author buat, kurang bagus, baik bahasa, isi cerita, dan susunan katanya... ๐ Mohon maaf ya... ๐๐ Terima kasih yang sudah setia membaca tunggu terus kelanjutannya๐๐