CINTA TAK BERJODOH

CINTA TAK BERJODOH
Bogem mentah dari Papa


__ADS_3

Ada sedikit lega di hati Arum, setelah papa mertuanya mau melihat Video dan mendengarkan kegundahannya.


Arumi melangkahkan kakinya menuju kamar, sudah lewat waktu magrib tapi suaminya belum juga pulang.


Akhirnya Arumi memilih untuk merebahkan dirinya diatas kasur.


Sebentar kemudian terdengar pintu kamar terbuka, muncullah sosok Niko suaminya.


" Assalamualaikum, Yank.... apa kamu sakit? kok tidur jam segini?", sedikit panik Niko mendekati Arumi dan mengecek keningnya dengan punggung tangannya.


" Hmmm.... Arum baik baik aja mas, ga usah lebay deh". Mata Arumi tertutup tanpa berniat membukanya dan melihat kehadiran suaminya.


" Syukurlah, mas panik bukan lebay yank....".


Tak ada jawaban mata Arumi tetap tertutup. Akhirnya Niko ke kamar mandi, setelah 10 menit kemudian keluar dengan handuk terlilit di pinggang kemudian mencari ganti baju.


" Yank.... turun yuk kita makan, temani mas yuk", tak ada jawaban atau reaksi apapun dari Arumi.


" Yank.... kenapa sayang ini, marah sama mas? kenapa dari kemarin menghindari mas, jawab yank?


" Kalau mas mau jawabannya tanya saja sama papa ".


" Papa? kok papa! ada apa sih?".


" Hmmm....".


" Yank.... jawab dong, jangan diam saja".


" Hmmmm". Arumi tetap memejamkan matanya tanpa merespon rasa penasaran suaminya.


" Ya sudah mas mau ke papa", akhirnya Niko beranjak meninggalkan kamar.


" Mas.... minta tolong sama bibi untuk bikinin susu sama makanan apa saja tapi tidak pakai nasi". Ucap Arumi sebelum Niko berada di luar pintu kamar mereka.


" Hmmmm", Kali ini Niko membalas jawaban Arumi kata sama.


Niko ke dapur dan membuat susu untuk Arumi dan menyuruh bibi untuk buatin salat buah serta membuatkan stiek ikan untuk Arumi.


" Bi... tolong kalau sudah selesai antarkan ke kamar ya!", Ucap Niko kemudian dia menuju meja makan untuk makan, hatinya sudah sedikit tenang karena istrinya ada di rumah, berbeda dengan tadi siang karena kepikiran terus dengan Arumi dia lupa makan siang dan bahkan sampai berdebat dengan Kevin yang membuat tambah kacau sehingga tertidur sampai hari gelap, masih berada diruang kerjanya.


" Nik.... habis makan papa tunggu di ruang kerja", Papa Windra yang sedang menonton tv bareng Mama sedikit mengeraskan suaranya.


" Baik Pa...".


Bibi yang sudah beres menyiapkan makanan untuk Arumi kemudian menuju kamar untuk mengantarkan makanan pesanan Arumi.

__ADS_1


Tok tok tok


" Non.... makanannya siap!", suara bibi akhirnya membuat Arumi beranjak dari tempat tidur menuju sofa.


" Masuk bi...".


" Ini susu bikinan mas Niko suruh ngabisin dan ini juga makanan yang pesanin mas Niko, katanya non harus makan banyak karena porsinya untuk berdua".


" Iya bi.... terima kasih Arum memang makannya banyak banget sekarang".


" Iya... silahkan di makan bibi ke dapur lagi ya!".


" sekali lagi terimakasih bibi".


*****


" Nik...... Kamu ada apa sama Kevin?".


" Dia kesal sama Niko, terus bilang mengundurkan diri Pa".


" Bodoh kamu ini, Kevin itu orang yang bisa diandalkan.... bisa bisanya kamu bertengkar, macam anak kecil saja!".


" Mulai minggu depan untuk sementara kantor papa yang pegang, Kevin papa tarik kembali, biarkan minggu ini dia libur dulu".


" Jangan protes.... kamu Papa tugaskan mengurus Mini market usaha sampingan Papa yang di depan pasar itu, meskipun tidak seberapa tapi itu cukup lumayan bisa untuk kamu makan dan mencukupi kebutuhan Arumi, ya.... mungkin kamu jadi tidak bisa seenaknya memberikan uang pada ****** mu itu".


" Pa... tapi itu mini market bukannya sudah di urus sama Yuda?".


" Yuda sudah Resign satu minggu lalu untuk melanjutkan usaha orang tuanya dikampung karena sebentar lagi istrinya melahirkan ".


" Pa.... kenapa mesti Niko yang ngurusin usaha itu pa? Niko sebentar lagi mau punya anak, mana bisa Pa hanya mengandalkan mini market itu?".


" Wahhh..... Rupanya anak Papa ini sekarang lupa cara bersyukur, Jangan remehi mini market itu, meskipun tidak terlalu besar tapi tempat itu strategis, didepan pasar, disamping sekolah dan juga banyak perumahan disekitarnya, omsetnya bisa mencapai ratusan juta/bulan kalau diambil laba bersih / bulan 10%, Papa kira lebih dari cukup untuk kamu dan Arumi kecuali kamu memanjakan ****** mu seperti gaya hidupnya, ya... Papa ga yakin, usaha itu bertahan 5 bulan berada di tanganmu".


" Papa..... Niko cuma minta dana untuk pengobatan dia itu pun Papa kasih bertahap setiap bulan dan dibatasi untuk tiga bulan saja, tidak lebih, Niko tidak pernah memberikan apa apa untuk dia".


" Lha ini apa? coba kamu perhatikan!", Papa Windra memberikan ponselnya pada Niko disana ada Video yang Arum rekam.


" Maksud papa Apa ini?".


" Papa yang mestinya bertanya, maksud kamu apa? kamu sama ****** itu punya rencana untuk menikah hah?", wajah papa terlihat menegang menahan amarah.


" Pa..... Niko kasihan sama dia, tapi untuk menikah Niko belum terpikirkan, cuma.... rasanya tidak bisa ninggalin dia!".


" Aarrggghhh....", tiba tiba teriakkan dari mulut Niko menggema, untuk ruangan itu kedap suara, sebuah bogem mentah hadiah dari Papa mendarat di rahang kanannya, badan mereka sama sama terhuyung, Niko tidak menyangka akan mendapat sebuah pukulan, sehingga badannya terhuyung sementara Papa terhuyung karena tenaga yang dikeluarkan meluap begitu besar seiring dengan emosinya.

__ADS_1


" Asal kamu tahu, rekaman itu hasil dari bidikan Arumi sendiri, kamu tahu? betapa hancur hati dia, tapi apa? dia begitu tegar, wajar kalau Kevin saja sampai emosi dengan kelakuan kamu". Ucap Papa dengan nada bergetar seperti belum terlampiaskan kemarahannya.


Niko hanya terkaget saat Papa mengungkap itu, ada rasa tanda tanya besar, benarkah Arumi mengikutinya dan merekam itu? benak Niko tidak yakin.


" Papa serius... ini Arumi yang merekam?".


" Iya.... sangat yakin!".


" Haahhhhh.... sial", teriak Niko berusaha bangun dan berdiri.


" Kamu putuskan malam ini, kamu lupakan Arumi atau tidak bertemu sama sekali dengan ****** itu?".


" Pa.... ". Rintih Niko


" Jawab!". teriak papa


" Kamu bingung? baik kalau tidak bisa memilih, berarti jawaban mu adalah pisah dengan Arumi, baik Papa akan urus surat cerai kalian, Arumi berhak bahagia dengan orang yang mencintai dia dengan tulus".


" Pa.... jangan... Niko tidak bisa pisah dengan Arumi".


" Bagus kalau kamu sadar, kalau begitu, jangan pernah kamu temui ****** itu".


" Baik pa! ', ucap Niko pasrah. Kemudian dia melangkah keluar dengan luka lebam dan bengkak di rahangnya.


Setelah di dapur dia mendapati bibi masih membuat sesuatu, Niko menghampiri dan meminta sesuatu.


" Bisa minta tolong sesuatu yang bisa untuk mengompres pipi Niko?".


" Subhanalloh..... Mas Niko kenapa, gelut sama papa?".


" Tidak Bi.... ini urusan lelaki, ga usah ribut, ini tidak apa apa!".


Kemudian bibi mengambil sapu tangan bersih dan membuka magic com untuk mengambil secentong nasi.


" Ini untuk mengompres, tempel tempelin pelan".


" Makasih bi....". Niko menerima bungkusan nasi itu sambil menempelkan ke bagian memarnya dan menuju kamar.


-


-


-


Lanjuttttt

__ADS_1


__ADS_2