
"Paman," panggil Kirana.
"Kiran, kalian udah sampai?" ucap Arif.
"Iya paman, gimana kondisi ibu? Apa kata dokter?" tanya Kirana.
"Dokter masih memeriksa ibu mu," ucap Arif.
Serangkaian pemeriksaan di lakukan agar penyakit yang di derita oleh Rose bisa di ketahui. Rose sudah di pasang infus oleh suster untuk mengganti cairan yang hilang.
"Kenapa baru di bawa ke sini bu?" tanya dokter.
"Saya tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit dok, ini pun adik saya yang membawa saya ke sini," ucap Rose dengan badan yang masih lemas.
"Ya sudah, untuk beberapa hari ke depan ibu di rawat dulu di sini ya. Untuk memasti kan kondisi kesehatan ibu Rose," ucap dokter.
"Iya dok," ucap Rose.
"Saya pamit mau periksa pasien yang lainnya, nanti suster akan mengantar makan dan obat untuk ibu," ucap dokter.
Dokter pun keluar dari bangsal tempat Rose berdiri dan menemui Arif dan Kirana untuk menjelas kan kondisi Rose yang sebenarnya.
"Gimana kondisi kakak saya dok?" tanya Arif saat dokter berjalan keluar dari bangsal Rose.
"Begini pak, kondisi fisik memang sangat lemas karna tidak adanya nutrisi yang masuk. Awalnya pasien hanya kelelahan tapi pasien tidak memperhati kan kondisi badannya sendiri," ucap dokter.
"Saya saran kan agar pasien untuk di rawat dulu di sini untuk observasi dan ada pemeriksaan lanjutan untuk pasien," sambung dokter.
"Berapa hari dok untuk di rawat di sini?" tanya Kirana.
"2 sampai 3 hari, karna saya butuh pemeriksaan lebih lanjut. Kalau pihak keluarga setuju, nanti suster akan menjelaskan lebih jelasnya," ucap dokter.
"Iya dok, lakukan apa pun itu untuk kesembuhan ibu saya. Asal kan ibu saya bisa sehat lagi," ucap Kirana.
"Baik kalau begitu, saya pamit periksa pasien lain," ucap dokter melangkah pergi meninggal kan Kirana dan Arif.
Suster mengantar makanan dan obat untuk Rose, saat Arif dan Kirana masuk ke bangsal Rose.
"Suster tadi kata dokter, ibu saya harus di rawat dan untuk administrasinya saya urus kemana sus?" tanya Kirana.
__ADS_1
"Sebentar ya mba saya ambil kan dulu," ucap suster pergi setelah menyimpan makanan dan minuman untuk Rose.
"Bu, makan dulu ya. Aku suapin ya," ucap Kirana.
"Ga usah, saya bisa sendiri," ucap Rose.
Seketika hati Aira sakit atas penolakan Rose, air mata pun mengalir begitu saja.
"Segitu bencinya ibu sama aku, sampai ibu terus-terusan menolak ku dan tidak menginginkan aku di dekat mu. Apa salah ku pada mu bu? Sampai ibu setega ini pada ku," ucap Kirana.
Rose hanya memaling kan wajahnya ke arah lain dan Kirana terus menangis karna rasa sakit atas penolakan Rose, Kirana pun pergi keluar dengan air mata di pipinya.
"Kiran kamu kenapa?" tanya Arif.
"Arka tolong susul Kirana, paman takut terjadi sesuatu pada Kirana," sambung Arif.
Kirana terus berjalan keluar gedung IGD, di susul oleh Arka dari belakang.
"Kiran... Kiran," panggil Arka setelah keluar dari gedung IGD.
"Kiran tunggu, kamu kemana?" teriak Arka berlari mengejar Kirana dan memegang tangan Kirana agar Kirana berhenti berlari.
"Aku ga tau harus kemana, sakit hati ku Ka. Kenapa ibu selalu menolak ku? Apa salah ku?" ucap Kirana terus menangis dan Arka memeluk Kirana mencoba tenang kan hati Kirana.
"Menangis lah, sepuas mu sampai kamu merasa lebih tenang tapi jangan di sini karna di sini tempat umum dan banyak orang yang memperhati kan kita. Nanti di kira orang aku ngapain kamu lagi," ucap Arka menghapus air mata di pipi Kirana.
"Ayo ikut aku," sambung Arka menggenggam tangan Kirana ke arah parkiran motor.
"Kita mau kemana?" tanya Kirana.
"Ikut aja, nanti juga kamu tau. Ayo naik," ucap Arka memakai kan helm di kepala Kirana.
Arka menghidup kan motornya dan melaju motornya ke suatu tempat untuk membuat Kirana lebih tenang.
20 menit perjalanan akhirnya Arka membelokan motornya di sebuah tebing yang jauh dari keramaian.
"Kita sudah sampai, turun lah," ucap Arka.
"Kita mau apa ke sini?" tanya Kirana.
__ADS_1
"Di sini kamu boleh berteriak sesuka hati mu, luap kan semua rasa kecewa mu di sini tapi setelah pulang dari sini kamu ga boleh sedih lagi. Kamu harus kembali tersenyum, untuk ku dan orang-orang di sekitar mu," ucap Arka.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa...," teriak Kirana.
"Bu apa salah ku pada mu.. kenapa ibu terus menolak ku.. kenapa ibu tidak mengingin kan ku," teriak Kirana dan terus menangis.
"Tuhan, kenapa aku di lahir kan hanya untuk menerima semua penolakan dari kedua orang tua ku? Apa salah ku Tuhan, aku juga ingin merasa kan kasih sayang dari seorang ayah dan ibu," ucap Kirana dengan suara melemah.
Arka hanya mendengar kan apa yang di ungkap kan oleh Kirana.
"Sesakit ini dan serapuh ini kah kamu Kirana? Berharap kasih dan sayang dari ayah dan ibu mu yang tidak memperdulikan kamu dan tak pernah menganggap mu ada, Kiran jika Tuhan mengizin kan aku ingin membahagia kan kamu dan memiliki mu seutuhnya," batin Arka.
Setelah puas berteriak, Kirana duduk di batu besar di dekatnya lalu Arka menghampiri Kirana dan ikut duduk bersama Kirana.
"Udah teriaknya?" tanya Arka.
"Aku cape Arka, cape seumur hidup ku ga pernah mendapat kan kasih sayang dari ayah dan ibu. Apa salah ku Arka?" ucap Kirana terus menangis dan bersandar di pundak Arka.
"Sabar ya, Tuhan pasti punya rencana tersendiri untuk mu. Suatu saat nanti kamu bisa mendapat kan kebahagiaan yang membuat mu melupakan rasa sakit dan kecewa mu saat ini," ucap Arka.
"Menangis lah sepuas mu sampai kamu merasa lega, kita pulang setelah kamu puas dan merasa tenang," sambung Arka.
Kirana terus menangis, sedang kan Arka hanya duduk menemani Kirana tanpa mengeluar kan sepatah kata pun.
"Arka, aku cape nangis terus. Sekarang aku lapar, aku belum makan dari tadi siang aku belum makan," ucap Kirana.
"Udah ga sedih lagi sekarang?" tanya Arka.
"Aku udah jauh lebih tenang, terima kasih ya udah mau ajak aku ke sini dan kamu mau temani aku," ucap Kirana menegak kan kepalanya.
"Sekarang aku mau makan, aku lapar," sambung Kirana.
"Ayo lah, kali ini aku yang traktir kamu ya. Kita makan apa pun yang kamu mau, biar aku yang bayar ya," ucap Arka.
"Oh iya aku belum bayar upah kamu hari ini, nih upah mu hari ini bonus cari hadiah bonus temani aku saat ini," ucap Kirana memberi kan 5 lembar uang seratus ribuan.
"Ini terlalu banyak Kiran, 2 lembar aja cukup untuk ku traktir kamu," ucap Arka memberi kan 3 lembar uang pada Kirana.
"Kan kamu mau traktir aku jadi ini semua uang buat kamu sebagai upah hari ini. Jangan pernah menolak rezeki ya," ucap Kirana memberi kan kembali uang yang memang untuk Arka.
__ADS_1