Cinta Terakhirku

Cinta Terakhirku
BAB. 18.


__ADS_3

Karena hari libur telah berakhir, hari ini Aura akan bekerja seperti biasa. Saat tiba di rumah sakit, penampilannya seperti seorang anak SMA sehingga orang tidak akan percaya bahwa dia adalah salah satu dokter di sana. Jika pasien tentu saja akan sangat mengenal Aura, tapi jika ada pasien yang baru berobat di rumah sakit itu, mereka selalu mengira Aura adalah salah satu keluarga pasien yang sedang menjenguk.


Dengan riang, Aura memasuki rumah sakit dan menuju ruangannya. Saat sampai di depan ruang prakteknya, sudah banyak orang, padahal jadwal prakteknya belum dimulai. "Sus ini kenapa orang-orang berkumpul di depan ruang praktek saya?" tanya Aura pada salah satu suster yang selalu mendampinginya saat memeriksa pasien.


"Entahlah dok, saya datang juga di depan ruangan dokter sudah ramai orang. Bahkan saya sudah memanggil security tapi dari tadi belum ada yang datang kemari," jawab salah satu orang berpakaian hitam yang sepertinya pemimpinnya.


"Ini ada apa ya? Kok kalian berkumpul di depan ruang praktek saya?" tanya Aura.


"Maaf dokter, kami harus melakukan ini karena tuan kami memerintahkan untuk membawa Anda padanya, makanya kami menunggu Anda di sini," ucap salah satu orang tersebut.


"Siapa sih tuannya? Kok ngotot banget pengen ketemu dengan saya?" tanya Aura.


Semua orang di sana hanya diam, tak ingin menanggapi pertanyaan Aura. Mereka hanya ingin tugas mereka cepat selesai. Karena Aura setiap hari mereka mendapatkan amukan dari bos karena belum bisa membawa Aura ke hadapan bos mereka.


Dengan terpaksa, Aura mengikuti para bodyguard tersebut karena jadwal prakteknya sebentar lagi akan dibuka. Pasiennya pasti tidak akan nyaman jika mereka masih berada di sana. Aura dibawa ke lantai lima belas di mana kamar ruang rawat VVIP berada. Dari situ, Aura yakin bahwa orang yang ingin bertemu dengannya adalah orang yang terkena tembakan saat Aura melakukan operasi saat itu.

__ADS_1


Padahal, Aura sudah berkali-kali menolak untuk bertemu. Lagi pula sebagai dokter, tugas Aura berusaha semaksimal mungkin agar pasien selamat dan sembuh. Benar saja, Aura dibawa pada pasien tersebut. Tapi, apa ini? Aura menjadi heran sendiri karena sosok pasien tersebut ditutupi gorden.


"Dokter Aura!" sapa si pasien. Degh! Aura seperti mengenal dengan baik suara itu, suara yang selalu Aura rindukan dan yang membuat Aura menutup diri pada orang lain.


"Secara pribadi, saya mengucapkan terima kasih pada Anda karena telah menyelamatkan nyawa saya. Sebagai imbalannya, saya akan menghadiahi Anda sebuah rumah. Dan saya harap rasa terima kasih saya cukup bagi Anda. Dan saya berharap kita tidak lagi untuk bertemu," ucap pasien VVIP.


Aura menjadi kesal. "Tuan yang sok kaya, saya menolong Anda karena saya seorang dokter dan memang tugas saya untuk menyelamatkan Anda dari luka Anda. Dan untuk hadiahnya, mohon maaf sekali saya tidak dapat menerimanya. Dan apa tadi Anda bilang kita tidak usah berjumpa kembali? Saya bahkan berharap tidak pernah bertemu dengan Anda. Sudah kan bicaranya? Kalau begitu, saya permisi karena masih banyak pekerjaan. Satu lagi, jangan sekali-kali membuat kegaduhan di tempat praktek saya lagi!"


Setelahnya, Aura pergi begitu saja sambil membanting pintu dengan keras, membuat semua orang di sana jadi terkejut. Baru kali ini Aura sangat menyesal menyelamatkan pasiennya karena tahu bagaimana sifat orang yang saat itu Aura tolong seperti itu, sudah pasti Aura akan membunuhnya di meja operasi.


"Ternyata kamu tidak pernah berubah Aura, masih sama seperti yang dulu. Seenak hatimu saja," ucap pasien VVIP dengan sedikit senyum menghias di bibirnya.


Sepanjang perjalanan kembali ke ruang prakteknya, Aura tak hentinya merenung. "Cih, sok misterius segala nutupin diri. Gak pengen dilihat sama aku ya udah gak usah pengen ketemu, sombong banget! Emang aku penasaran gitu sama wajahnya, emang seganteng apa sih tuh orang? Atau jangan-jangan tuh orang jelek banget makanya gak mau nunjukin mukanya di depan aku."


"Dia sok kaya banget, sok-sokan mau ngasih rumah mewah segala. Dikira aku matre kali. Walaupun aku juga suka sama yang namanya uang. Ya kan kita harus realistis, hidup itu segalanya membutuhkan uang," gumam Aura.

__ADS_1


Orang-orang yang melihat Aura jalan sambil berbicara sendiri merasa aneh dan lucu akan yang dilakukan oleh Aura. Kadang Aura terlihat marah-marah, sedetik kemudian dia tertawa sendiri, seperti orang yang tidak waras.


Tiba di depan ruang prakteknya, pasien sudah menunggu dan antri untuk dipanggil namanya dan diperiksa oleh Aura. "Sus, hari ini ada berapa pasien yang harus saya periksa?" tanya Aura pada suster.


"Sekitar tujuh puluh orang, Dok!" jawab suster.


"Hadeuh, alamat pulang telat nih!" gerutu Aura.


"Langsung panggil saja, Sus. Antrian pertama," pinta Aura kepada suster agar tugasnya segera selesai.


Selesai liburannya, kesibukan Aura semakin padat karena saat dia libur, pasien-pasien yang datang menolak diperiksa oleh dokter yang lain. Mereka lebih memilih menunggu kehadiran Aura saja. Bahkan dokter pengganti Aura bekerja dengan sangat santai, berbeda dengan Aura yang selalu sibuk dengan jadwal yang padat.


Benar saja, pemeriksaan terjadi lewat dari waktu Maghrib, padahal praktek Aura dibuka setelah makan siang. Terjeda saat waktu Ashar tiba dan Maghrib. Aura meninggalkan aktivitas sejenak untuk menghadap Sang Khalik.


Kenapa begitu lama? Karena selain pasien Aura terbilang banyak, Aura juga sangat detail saat memeriksa pasien, sehingga memakan waktu yang cukup banyak. Aura meregangkan otot-otot tubuhnya dan membereskan semua peralatannya. Ia bersiap untuk pulang. Badan Aura juga sudah terasa sangat lelah.

__ADS_1


Hari ini, Aura datang ke rumah sakit tanpa membawa kendaraan karena ia malas mengemudikan mobil. Saat pergi ke sana, Aura menggunakan taksi online dan ketika pulang, Aura kembali memilih taksi online. Ketika seorang mobil berhenti tepat di depan Aura, Aura langsung naik ke dalam mobil tanpa bertanya ataupun memastikan bahwa mobil tersebut adalah taksi yang dipesannya. Orang yang berada di dalam mobil secara heran menatap Aura, tetapi Aura membiarkan saja dan naik ke dalam mobil tersebut. Pria tersebut buru-buru menggunakan masker dan tapinya agar tidak dikenali oleh Aura. Bahkan ia memberikan perintah pada sopirnya untuk segera melajukan mobil mereka. "Mbak mau diantar ke mana?" tanya sopir tersebut, sementara majikannya duduk di depan disamping sopir. "Sesuai aplikasi saja, pak!" titah Aura sambil masih tidak menyadari keberadaan penumpang lain di sampingnya.


__ADS_2