
Lima belas tahun kemudian
Seorang pria berdiri dengan gagah di pintu masuk kedatangan di bandara udara. Matanya tidak lepas melihat jam tangan yang bertengger di tangannya.
Sesekali ia menghembuskan napas dengan berat. Hari ini ia kembali ke tanah air setelah beberapa tahun menyelesaikan kuliahnya di luar negeri.
Seharusnya sudah setengah jam yang lalu jemputannya datang, tapi sampai sekarang ia masih belum dijemput.
Berkali- kali ia menelepon ke nomor si penjemput tapi tak di angkat sama sekali. Ingin sekali ia menggunakan taksi agar cepat sampai, tapi pesan dari bundanya sebelum ia tiba ditanah air membuatnya harus bersabar menunggu penjemputnya.
Killa berlari ngos- ngosan menghampiri arkan yang sudah menampilkan wajah sangarnya. Ya orang yang baru tiba adalah arkana putra dari gilang dan aura. Dan si penjemput adalah killa kakak sepupu arkan putri dari arfa dan sally.
Bertepatan dengan kedatangan arkan, hari itu juga semua keluarga sedang melakukan pesta kejutan pernikahan bu fatma dan pak seno.
__ADS_1
Jadi memang baik aura dan gilang tidak dapat menjemput arkan di bandara, kebetulan killa dengan senang hati menjemput adik sepupunya itu. Walaupun sangat- sangat terlambat.
" Sory de... Aku terlambat, bos aku hari ini rese banget gak biarin aku cepat izin pulang sebelum tugas yang dia kasih selesai." Ucap killa dengan penuh rasa bersalah.
Killa memang tidak mengikuti jejak ayah ibunya yang menjadi dokter, ia lebih tertarik pada desain grafis. Jadilah saat ini ia kerja di salah satu perusahaan.
Bahkan gilang selalu menawari killa agar bekerja dengannya saja, tapi sayangnya killa selalu menolaknya. Menurutnya bekerja di bawah asuhan keluarga tidak ada tantangan sama sekali, orang akan segan padanya hanya karena hubungan kekerabatan dengan pemilik perusahaan bukan karena kemampuannya. Untuk itu killa memilih bekerja di tempat dimana tidak ada yang mengenalnya.
Hanya mengenal killa saja, bukan anak dari seorang dokter ataupun keponakan dari seorang pengusaha sukses.
Walaupun arkan masih enggan tapi ia juga ingat dan ingin dekat selalu dengan bundanya. Menjadi anak semata wayang memanglah tidak mudah.
Kewajibannya untuk selalu membuat bundanya bahagia. Dan ya, arkan selalu melakukan itu.
__ADS_1
Arkan tidak menimpali alasana yang di berikan oleh kakak sepupunya, inginnya saat ini adalah segera bertemu dengan bundanya.
Tanpa berbicara arkan langsung masuk ke mobil killa, ia duduk di samping kursi pengemudi. Sedangkan killa hanya berdecak kesal kepada sepupunya.
Sebenarnya killa berharap arkan yang mengemudikan mobil, bukan dirinya. Killa masih menyelaraskan jantungnya, karena tadi ia membawa mobil dengan sangat kencang. Bahkan hampir saja dirinya bertabrakan dengan pengemudi lain.
" De... Kamu masih marah?"
Masih hening, dan arkan juga malah memejamkan matanya. Kebiasaan arkan saat marah adalah diam, karena ia tidak mau kelepasan mengucapkan kata- kata buruk pada orang lain. Terlebih pada kakak sepupunya yang sangat dia sayangi.
Arkan menganggap killa dan adik- adiknya bukan hanya saudara sepupu tapi sudah seperti kakak dan adik kandung bagi arkan.
" Kakak, bisa kita jalan sekarang? Dan gak usah bahas keterlambatanmu lagi!" Ucap arkan tegas, dan itu langsung membuat killa menjalankan mobilnya meninggalkan bandara.
__ADS_1
Mereka menuju villa keluarga arkan, karena memang acara kejutan anniversary kakek neneknya di adakan di sana.
{ Bersambung }