Cinta Terakhirku

Cinta Terakhirku
KELAKUAN GILANG


__ADS_3

Malamnya aura dan gilang menginap di villa menemani vina. Aura di kuasai penuh oleh vina. Bahkan gilang tidak di beri kesempatan untuk berdekatan dengan aura.


Tentu saja hal itu membuat gilang kesal bukan kepalang. Bahkan saat ini aura sudah berada di kamar vina, ingin tidur disana.


Mendapati kenyataan seperti itu, gilang tidak kebahabisan cara. Gilang mengetuk pintu kamar vina, aura membukakan pintu dengan malas, karena siapa lagi yang berani menggangunya kecuali suaminya.


Gilang meminta aura ikut ke kamarnya dan beralasan bahwa dirinya tidak enak badan. Aura tidak percaya begitu saja, ia menempelkan punggung tangannya di dahi gilang. Dan ternyata dahi gilang memang hangat.


Aura tidak tahu saja, bagaimana gilang membuat tubuhnya hangat agar di kira tidak berbohong dan sandiwaranya ketahuan.


Akhirnya aura meninggalkan vina dan ikut ke kamarnya untuk mengobati gilang.


Sampai kamar gilang masih berakting sakit. Bahkan ia berpura- pura kepalanya pusing. Aura memeriksa gilang sekali lagi untuk menyakinkan.


Dengan stetoskop yang selalu ada di tasnya, aura memeriksa gilang. Mata aura menyipit dan manatap gilang dengan instens.


Di tatap begitu oleh aura, gilang menjadi takut sendiri. Ia mencoba menenangkan diri agar kebohongannya tidak di ketahui oleh aura.


" Wah sepertinya kamu mengalami sakit yang parah, kita harus segera kerumah sakit, aku gak mau sesuatu yang buruk terjadi sama mas." Ucap aura mengikuti permainan suaminya.


" Gak usah sampai kerumah sakit sayang, aku cukup di rawat sama kamu saja disini."


" Gak bisa gitu mas, kalau di diamkan nanti penyakit kamu makin parah!" Ucap aura memaksa.


" Sayang, gak usah kerumah sakit ya, aku deket sama kamu aja, udah bisa cepet sembuh kok!" Rayu gilang lagi.


" Kamu jangan protes mas, ini semua aku lakukan biar kamu cepet pulih kambali."


Aura akan menelepon supirnya gilang, tapi gilang langsung mengambil ponsel milik aura. Hingga tak sengaja ponselnya jatuh dan mengakibatkan keretakan di layarnya.


Aura diam dan memasang wajah kesal, karena kebohongan yang gilang lakukan, ponsel aura jadi pecah layarnya.


Bukannya bermanja- manja dengan aura, malah sekarang gilang menyesali kebohongannya yang membuatnya merusak ponsel milik aura.

__ADS_1


" Sayang kamu jangan marah dong, ponsel kamu besok aku ganti dengan yang lebih bagus dan canggih."


Aura mengabaikan gilang dan tetap diam. Ingin sekali ia ke kamar vina, tapi dalam keadaan hati yang kacau seperti ini mana bisa aura menyembunyikannya dari vina.


Bukan apa- apa aura hanya takut vina salah sangka padanya, dan membuat vina nantinya menolak bantuannya.


Terlebih sekarang gilang selalu membuat ulah yang bikin aura kesal.


Dengan dongkol aura tertidur di ranjang dengan posisi membelakangi gilang. Bahka saat tangan gilang memeluknya dari belakang aura menepisnya kasar.


Bagaimana pun gilang juga salah karena merusak ponsel aura, diam- diam malam itu juga gilang meminta asistennya untuk membelikan aura ponsel terbaru dan lebih canggih dari ponsel aura yang rusak.


Lama kelamaan aura tertidur juga, tapi tidak dengan gilang. Rasa bersalahnya dan sikap cuek aura membuatnya tidak dapat memejamkan matanya.


Sampai asistennya menghubungi nomor ponselnya dan menyatakan bahwa pesanan gilang sudah sampai.


Bahkan secara khusus asiatennya datang hanya untuk memberikan ponsel yang gilang mau.


Setelah ponsel baru aura dalam genggamannya, gilang memindahkan kartu sim aura ke ponsel baru yang gilang beli.


Pagi harinya aura terbangun karena mendengar alarm dari hp. Tadinya ia masih berpikir bahwa itu suara dari ponselnya, tapi setelah mengingat kejadian semalam ia ingat ponselnya rusak di jatuhkan oleh gilang.


Tapi suara alarmnya sama seperti suara alarm di ponselnya.


Aura melihat ada ponsel keluaran terbaru di nakas samping ranjangnya. Dan suara alarm tersebut berasal dari ponsel tersebut.


Ternyata gilang benar- benar membelikan ponsel terbaru dengan harga belasan juga tersebut.


Aura menghela napasnya panjang, bukannya aura tidak senang ponselnya di ganti dengan yang lebih baru dan canggih, tapi ponsel lamanya memiliki kenangan tersendiri untuk aura.


Ponsel pertama yang paling mahal pada saat itu yang ia beli dengan uangnya sendiri. Bahkan menggunakan gaji pertamanya sebagai seorang dokter di rumah sakit terkenal.


Ponsel tersebut memiliki histori tersendiri untuk aura. Walaupun memang seharusnya ponsel tersebut harus sudah di ganti.

__ADS_1


Gilang yang tadi memang sudah terbangun saat aura terusik oleh suara alarm yang ia pasang, memperhatikan perubahan mimik wajah aura. Ada kesedihan saat aura melihat ponsel lama dan ponsel yang di belikan oleh gilang.


Seperti seorang kekasih yang tidak rela berpisah dengan kekasihnya.


" Kenapa hem? Kamu tidak suka dengan ponsel yang aku belikan?" Tanya gilang lembut, sambil mengelus rambut panjang aura dengan lembut.


Aura hanya menggeleng tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.


" Mau aku ganti dengan yang lebih baru? Atau kamu mau memilih sendiri? Kalau mau seperti itu ayo siang ini kita ke gerai ponsel dan kamu boleh pilih ponsel yang kamu mau." Bujuk gilang. Tapi aura hanya menggelengkan kepalanya membuat gilang semakin pusing dan serba salah dengan tingkah aura sekarang.


Gilang turun dari ranjang dan duduk di bawah lantai di kaki aura. Melihat gilang seperti itu, aura jadi tidak enak hati.


" Kamu masih kesal sama aku? Mau hukum aku? Atau terserah mau apain aku, aku akan terima. Tapi please jangan marah dan memeprlihatkan wajah sedih kamu. Aku gak akan sanggup." Ucap gilang mulai putus asa.


" Maaf!" Lirih aura.


" Hey... Kamu gak ada salah apapun sama aku, jadi gak perlu minta maaf." Jawab gilang.


Aura sekarang malah menangis, dan itu membuat gilang panik. Gilang memeluk erat aura dan menepuk punggung aura dengan halus, mencoba menenangkan aura.


Tak ada kata dari keduanya yang ada hanya suara tangis aura. Gilang membiarkan aura meluapkan perasaannya.


Yang gilang lakukan saat ini hanya memberikan support pada aura.


Perlahan tangis aura mereda dan sayup- sayup suara azan subuh terdengar telinga aura maupun gilang.


" Kita shalat dulu, setelahnya kamu boleh menangis lagi." Ucap gilang meledek aura. Aura memukul pelan dada bidan gilang yang kini sudah basah oleh air matanya.


Keduanya menjalankan kewajiban mereka dengan khusu. Gilang tentu saja menjadi imam untuk aura. Kegiatan rutin mereka setiap pagi hari.


Kenapa gilang tidak melaksanakan shalat subuh di masjid, karena gilang ingin selalu menjadi imam dalam shalat aura, dan dalam rumah tangga mereka.


Tangisan aura juga sudah berhenti dan mereka memutuskan untuk ke bawah menikmati sarapan pagi mereka.

__ADS_1


Vina sudah ada di meja makan dengan pakaian yang sudah sangat rapi. Aura menyipitkan matanya melihat penampilan vina. Mau kemana vina pagi- pagi begini?


{ Bersambung }


__ADS_2