
Tak ada yang tidak menitihkan air mata melihat bagaimana kondisi aura saat ini. Baik keluarga aura maupun keluarga gilang yang kini telah berkumpul di lobi hotel.
Dan akhirnya keputusan di ambil oleh seno sebagai ayah dari aura. Ia bersedia menikahkan aura dengan gilang namun dengan syarat jika aura menolak pernikahan tersebut. Maka pernikahan tersebut akan batal.
Dengan sangat yakin gilang menyetujui keputusan pak seno.
Sedangkan arfa masih belum mau menerima keputusan yang di ambil oleh ayahnya.
Karena mempelai wanita tidak ada maka acara ijab kabul di adakan di lobi hotel dengan pak penghulu dan orang dari dinas KUA. Gilang mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan di sah kan oleh semua orang uang hadir disana.
Sementara arfa, sally, bu fatma dan baby killa sudah terbang terlebih dahulu ke jakarta untuk melihat keadaan aura.
Minus ayahnya aura, semua orang menuju rumah sakit dimana aura berada.
Penjagaan ketat terlihat di depan pintu kamar aura. Arfa yang ingin masuk di halangi oleh orang- orang gilang. Kekesalan arfa semakin menjadi dan terjadilah perkelahian antara arfa dan orang- orang gilang.
Bahkan pihak rumah sakit sampe harus turun tangan akibat kekacauan yang mereka sebabkan.
Sally yang menyaksikan arfa dilawan oleh beberapa orang langsung menghubungi gilang dan meminta orang- orangnya untuk menghentikan pencegalan terhadap mereka.
Walaupun sebenarnya orang- orang gilang tidak melawan sama sekali mereka hanya menghindari serangan dari dari arfa. Karena mereka tahu bahwa orang yang mereka hadapi adalah kakak dari aura. Tapi karena perintah gilang yang melarang siapapun selain dirinya yang diperbolehkan masuk ke kamar aura. Maka terjadilah perkelahian itu.
Gilang, pak seno, dan seluruh keluarga gilang sedang dalam perjalanan kembali kejakarta.
Setelah gilang memerintahkan anak buahnya untuk memperbolehkan arfa dan yang lain masuk kamar aura. Suasana menjadi berubah sedih.
Aura terbaring di ranjang dengan mata tertutup dan aira mata yang menetes. Sesekali ia memanggil nama gilang dalam tidurnya.
Fisik aura memang tidak terlihat luka yang parah, tapi kata dokter aura mengalami trauma yang sangat dalam. Sehingga membuatnya seolah tidak ingin bangun dari tidurnya.
Arfa mendekati aura dan mengelus aura dengan sayang. Begitu juga dengan bu fatma, memeluk aura dengan erat sambil menangis. Keadaan aura membuat hatinya amat terluka.
__ADS_1
Sebegitu kuatnya gilang mempengaruhi kehidupan aura. Bu fatma jadi mengerti kenapa suaminya menikahkan aura dengan gilang walaupun tanpa kehadiran aura dan yang lainnya.
Karena baby killa tiba- tiba menangis dan rewel bu fatma meminta arfa dan sally untuk pulang kerumah mereka. Tidak mungkin pula membiarkan bayi yang sangat rentan akan penyakit terlalu lama berada di rumah sakit.
Dengan terpaksa arfa meninggalkan aura hanya ditemani oleh ibunya. Tetapi keadaan tidak memungkinkan dirinya untuk berada di dekat aura lama karena ada baby killa yang harus ia jaga kesehatannya.
Selain itu arfa juga tidak mungkin membiarkan sally hanya pulang berdua sengan baby killa, terlalu berbahaya bagi keduanya.
Satu jam setelah kepergian arfa, gilang beserta keluarga dan ayahnya aura tiba dirumah sakit. Rumah sakit mendadak jadi sesak karena kedatangan keluarga gilang.
Terpaksa gilang meminta keluarganya untuk pulang terlebih dahulu. Bagaimana pun sekarang mereka di area rumah sakit, ketenangan sangat di butuhkan di sana.
Gilang mendekati ranjang aura dengan hati yang hancur. Bu fatma memberikan ruang untuk gilang dan aura.
Bagaimana pun status aura sekarang sudah menjadi istri dari gilang. Dan tanggung jawab aura telah berpindah pada pundak gilang.
" Aura sayang, bangun dong! Maafin aku ya kalau aku udah bikin kamu sakit hati. Tapi sungguh aku gak pernah ada hubungan dengan perempuan lain. Hanya kamu satu- satunya perempuan yang ada di dalam hatiku!" Ucap gilang, walaupun ia tidak tahu aura dapat mendengar atau mengerti apa yang ia ucapkan.
Puas dengan berbicara pada aura, gilang menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di dekat ranjang aura. Karena mungkin terlalu lelah akhirnya gilang tertidur dengan masih menggenggam tangan aura.
Bu fatma dan pak seno memasuki ruangan aura dan melihat perlakuan gilang pada aura.
Mereka memutuskan untuk meninggalkan aura bersama dengan gilang. Esok hari baru mereka akan kembali.
Aura Pricillia Arnandi
*Gilang Semesta
__ADS_1
Autor kasih nih pic. Nya aura dan gilang*.
Menjelang malam aura tersadar dari pingsannya. Ia menatap sekeliling dan merasa tangannya hangat. Seseorang tertidur di samping ranjangnya dengan posisi duduk dan menggenggam tangannya. Seolah takut aura akan pergi jika genggamannya terlepas.
Aura mencoba untuk melepasnya tapi usahanya malah membuat orang yang tertidur tadi bangun. Gilang tersenyum sangat manis pada aura.
" Kamu sudah sadar sayang!" Ucap gilang. Dengan mata yang masih mengantuk.
Aura hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan dari gilang. Aura masih kesal dengan apa yang ia lihat kemarin malam.
Walaupun aura hanya diam dan enggan untuk berbicara dengan gilang. Tapi gilang tetap mengajak aura mengobrol bahkan gilang menjelaskan kejadian kemarin malam pada aura.
Dari dulu sifat aura jika sedang marah pastia akan diam dan memedamnya sendiri. Jadi tanpa di minta gilang menjelaskan semuanya bahkan gilang juga memberitahukan perihal status mereka yang sudah menjadi suami istri.
Awalnya aura biasa saja, tapi saat mendengar gilang sudah menikahinya aura jadi marah. Kenapa bisa ayahnya menikahkan aura tanpa kehadiran dirinya.
Tetapi aura tak mengeluarkan suaranya ataupun protes dengan yang di ucapkan oleh gilang. Ia ingin bertanya langsung pada ayahnya akan apa yang gilang katakan.
Saat ini untuk melarikan diri dari gilang sepertinya hal yang mustahil jadi aura memutuskan untuk memejamkam matanya kembali.
Tetapi perutnya sungguh mengkhianati aura, di saat itu perut aura berbunyi nyaring pertanda meminta untuk di isi.
Gilang hanya mengulum senyumnya, ia menghubungi seseorang untuk membawakan makanan untuk aura juga dirinya.
Aura masih terdiam dan memunggungi gilang. Tak lama makanan datang, seketika ruang rawat aura di penuhi aroma makanan enak. Perut aura semakin berbunyi nyaring.
Aura terlalu gengsi dan malu untuk langsung menerima makanan dari gilang. Ia masih mengacuhkan gilang saat gilang memintanya untuk makan.
Aura masih tidak mengganggap gilang. Tak lama suasana jadi hening dan aura mengira gilang sudah tidak ada di dalam kamarnya karena memang tadi aura mendengar suara pintu di buka dan tertutup kembali.
Dengan ragu aura menoleh dan betapa terkejutnya aura mendapati gilang sudah tertidur di sampingnya. Dan makin terkejutnya aura dengan apa yang dilakukan oleh gilang.
__ADS_1
{ Bersambung }