
Gilang membawa aura ke mobilnya, setelah aura sudah memasang seatbellnya dengan benar, gilang menjalankan mobilnya.
" Bagaimana pekerjaan hari ini? Sepertinya istriku begitu sibuk hingga melupakan suaminya!" Sindir gilang.
Aura membolakan matanya, padahal setiap tiga jam sekali gilang menghubunginya. Bahkan aura sampai mengabaikannya karena apa yang dikatakan oleh gilang tidak penting sama sekali. bahkan pasien aura sempat terganggu dengan bunyi ponsel aura. Makanya aura akhirnya mengsilent ponselnya.
" Kamu lapar? Mau makan dulu sebelum sampai di rumah atau makan malam dirumah saja?" Tawar gilang.
" Bisa tidak makan malamnya dengan mie ayam, rasanya hari ini begitu berat dan aku ingin makan mie ayam." Pinta bunga.
Tanpa banyak bicara gilang melajukan mobilnya pada pusat jajanan di malam hari. Karena ini juga sudah larut, ia juga tidak yakin apakah masih ada kedai mie ayam yang masih buka.
Mobil alam memasuki pusat jajanan yang memang sudah sangat terkenal di daerah sana.
Matanya sibuk mencari makanan yang di inginkan oleh aura. Sejauh mata gilang melihat hanya ada pedagang mie ayam gerobak. Ia juga ragu aura mau makan di tempat seperti itu.
" Sayang, sepertinya kedai mie ayam sudah pada tutup, hanya ada penjual mie ayam gerobak." Ucap gilang pada aura.
" Gak apa- apa penjual mie ayam gerobak juga, kita makan aja di situ." Tunjuk aura pada salah satu gerobak mie ayam.
Aura turun di ikuti oleh alam di belakangnya. Aura memesan mie ayam, tapi sayang mie ayamnya habis hanya tinggal satu porsi itupun sudah ada yang memesan.
Wajah aura mendadak sendu, dan gilang melihat perubahan wajah aura.
Gilang mendekati orang yang ditunjuk oleh pedagang mie ayam sebagai konsumen terakhirnya.
" Mas maaf boleh tidak mie ayam yang mas pesan untuk istri saya, kasihan istri saya sedang hamil dan ingin makan mie ayam. Saya sudah berputar- putar tapi tidak menemukan tukang mie ayam yang buka." Ucap gilang dengan wajah memelas. Setelah sebelumnya ia mengajak berkenalan dengan pria terakhir yang memesan mie ayam.
Usaha gilang akhirnya membuahkan hasil, pria tersebut dengan suka hati memberikan pesanan mie ayamnya pada aura, bahkan ia memberikan secara gratis. Padahal hilang sebelumnya sudah menawarkan untuk menggantinya dengan harga sepuluh kali lipat.
Tapi sepertinya pria tersebut juga sudah punya anak, jadi ia mengerti posisi gilang sebagai suami yang mempunyai istri dalam kondisi hamil muda.
Padahal itu hanya akal- akalan alam agar aura dapat menikmati mie ayam yang dia mau.
Binar kebahagiaan terlihat jelas di wajah aura, saat semaangkuk mie ayam sudah tersaji depan matanya.
Aura makan dengan lahap, ia menambahkan sedikit saus dan sambal, karena ada gilang yang memperhatikan. Gilang sudah mengultimatum aura jika aura makan mie ayam dengan pedas maka selamanya aura tidak diperbolehkan memakan mie ayam lagi.
Dengan cepat semangkuk mie ayam telah berpindah pada perut aura. Sebenarnya gilanf juga merasakan lapar, tapi ia mengalah pada aura.
__ADS_1
Sekarang mereka telah menuju rumah mereka.
" Sayang boleh tidak aku minta sesuatu pada kamu setelah kita sampai rumah?"
" Apa?"
" Kamu mau ya! Please!" Pinta gilang.
" Ya kamu mau apa dari aku?"
" Aku mau seperti kemarin malam." Ucap gilang ambigu.
" Apa!!! Kamu masih berani setelah pagi tadi aku marah sama kamu!" Ucap aura.
" Ya udahlah kalau kamu gak mau. Nanti aku minta sama bibi aja!" Ucap gilang kemudian.
" Apa kamu mau tidur bareng sama bibi!" Teriak aura kesal.
Gilang jadi bingung, padahal ia hanya ingin di masakkan oleh aura. Karena perutnya juga lapar.
Tapi seketika tawa gilang pecah dengan pemikiran aura.
Aura jadi malu sendiri dengan pemikirannya sendiri. Ternyata alam hanya ingin memintanya memasak.
Aura baru ingat memang gilang belum makan apapun bahkan saat tadi aura makan mie ayam.
Aura jadi merasa bersalah karena membiarkan gilang kelaparan.
" Maaf!" Cicit aura pelan.
Gilang malah mengacak rambut aura gemas.
Sampai rumah aura segera memasak untuk gilang. Ia membuka kulkas dan mengecek stok bahan yang ada. Tadi gilang langsung pamit ingin membersihkan diri. Sementara aura langsung menuju dapur, kasihan juga gilang jika harus menunggunya membersihkan diri dahulu.
Aura mendial nomor gilang, ia ingin menanyakan pada gilang makanan apa yang ingin gilang makan.
Beberapa kali aura menghubungi gilang, tapi gilang tak kunjung mengangkat teleponnya dan aura memutuskan untuk menanyakannya langsung.
Bertepatan dengan kedatangan gilang yang sudah segar, dengan rambut basah yang acak- acakan membuatnya terlihat lebih tampan.
__ADS_1
" Kamu mau di masakkan apa?" Tanya aura padahal jantungnya berdetak tidak karuan melihat penampilan gilang saat ini.
" Apapun yang kamu masak aku pasti makan." Jawab gilang membuat aura semakin bingung.
Tapi akhirnya aura memutuskan untuk membuat ayam rica- rica. Semua bahannya sudah komplit aura tinggal mengulek bumbu saja.
Gilang dengan sabar menunggu aura memasak, peluh membanjiri wajah aura. Sesekali aura menyekanya pada lengan bajunya.
Gilang sungguh gemas melihat aktivitas yang di lakukan oleh aura. Waktu juga sudah menunjukan hampir jam dua belas malam.
Sebenarnya gilang juga sudah sangat mengantuk, tapi perutnya juga perlu di isi.
Dalam waktu dua puluh menit masakan yang di buat aura selesai juga. Aura menyajikannya depan gilang yang memang duduk di depan meja pantri. Aura juga menggoreng tahu tempe yang memang selalu aura stok di dalam kulkas.
Merasa tugasnya selesai, aura beranjak ingin ke kamarnya untuk membersihkan diri tapi gilang memintanya untuk menemani gilang makan.
Tak ada bantahan ataupun sanggahan dari aura, ia begitu penurut malam ini.
Gilang juga menikmati setiap suapan makanan yang sudah susah payah aura buat.
Di sudahi dengan sendawa gilang yang cukup nyaring, menandakan gilang sudah benar- benar kenyang.
" Aku ke kamar dulu ya, mau bersih- bersih dan bersiap tidur. Kamu tidak menginginkan sesuatu lagi kan?" Pamit aura pada gilang.
" Ra, nanti aku ke kamar kamu ya!" Pinta gilang. Tapi aura hanya diam tidak mengiyakan ataupun melarang gilang. Gilang anggap itu suatu kode bahwa aura tidak keberatan jika ia masuk ke kamar aura.
Aura segera mandi dengan air hangat walaupun hari sudah sangat larut. Kegiatannya selama seharian ini membuat semua badannya lengket. Jadi aura memutuskan untuk mandi. Selesai dengan ritual mandinya, pintu kamar aura di ketuk.
Gilang meminta izin pada aura untuk masuk. Aura duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair driyer.
Gilang mengambil alih hair driyer dari tangan aura dan membantu aura mengeringkan rambutnya. Lagi- lagi aura hanya diam mendapat perlakuan manis dari gilang.
Tiba - tiba gilang meletakkan kotak berwarna merah beludru di depan aura. Aura mengernyit tidak mengerti dengan maksud gilang.
" Apa ini?" Tanya aura.
" Buka saja!" Perintah gilang.
Aura membuka kotak tersebut dan melihat isinya.
__ADS_1
{ Bersambung }