
Sebelum masuk ke dalam mobil, Aura sibuk dengan ponselnya, yang sedang berbalas pesan dengan Vani, sampai-sampai ia tidak menyadarinya ada penumpang lain di sana. Dan lagi, mobil yang ditumpangi Aura bukanlah taksi online yang dia pesan. Malah, sekarang supir taksi online menghubungi Aura, karena saat sampai titik penjemputan, Aura tidak ada.
Kening Aura berkerut melihat ponselnya berdering dan menampilkan nomor si supir taksi online. Sebelum mengangkat telepon, Aura menatap si supir di depan yang fokus mengemudi. Jelas saja Aura semakin heran.
"Allo!" sambut Aura.
"Allo dengan Bu Aura, ini saya supir taksi online yang Ibu pesan, saya sudah sampai titik penjemputan, sekarang Ibu di mana ya?" tanya si supir online.
"Pak, sepertinya saya salah naik mobil, saya sudah di dalam mobil. Bapak, tunggu sebentar nanti saya hubungi lagi!" putus Aura langsung mematikan teleponnya.
"Maaf, Pak!" panggil Aura pada si supir.
"Ya, Mbak. Ada apa?" tanya si supir.
"Sepertinya, saya salah naik mobil, tolong turunkan saya di depan saja Pak. Dan sekali lagi, saya minta maaf karena kekeliruan saya," ucap Aura lagi.
"Tidak apa-apa, Mbak. Lagi pula sudah malam begini tidak baik menurunkan seorang wanita di daerah rawan kejahatan. Lagi pula bos saya juga tidak keberatan," ucap si supir berpendapat.
"Tapi, saya jadi tidak enak hati, lagi pula saya yang salah," ucap Aura dengan penuh kegelisahan. Ia tidak tahu mobil siapa yang sekarang ia tumpangi, dan dia takut orang-orang ini berniat jahat padanya.
"Tidak apa-apa, Mbak. Saya akan mengantarkan Mbak dengan selamat ke tempat tujuan Mbak. Tapi, tolong kasih saya alamatnya," ucap si supir sambil tersenyum canggung karena memang dia tidak tahu harus mengantar Aura ke mana.
"Iya, Pak. Terima kasih. Dan terima kasih juga untuk bosnya, Pak, yang sudah mau mengantarkan saya," ucap Aura ragu.
Dengan terpaksa, Aura menghubungi taksi online dan membatalkan pesanannya. Sebagai rasa bersalahnya, Aura tetap membayar ongkos taksi online tersebut.
__ADS_1
Dalam hati, Aura berdoa semoga orang-orang yang sekarang berada dalam satu mobilnya adalah orang-orang baik. Akibat terlalu asik berchating dengan Vani, Aura jadi kurang fokus dan salah naik mobil.
Untuk kedepannya, Aura berjanji akan lebih teliti lagi. Aura telah memberikan alamatnya pada si supir, tapi sepanjang perjalanan, Aura melihat bahwa jalan yang dilalui adalah bukan jalan yang selalu ia lalui.
Terus terang, Aura sudah bersiap-sedia jika orang-orang tersebut adalah orang jahat, ia akan lompat dari mobil. Aura hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun, otaknya sibuk merencanakan pelarian agar bisa lolos dari orang-orang itu jika mereka memulai aksi kejahatannya.
Tapi hal itu tidak terjadi, sekarang Aura sudah ada di depan kost-kostannya dengan selamat. Segera, Aura keluar dari dalam mobil dan mengucapkan terima kasih. Ia sempat melirik orang yang dikatakan bos oleh si supir.
Mata mereka sempat bertatapan dan orang itu langsung memutus kontak saat Aura menatapnya dengan wajah sendu. Entah kenapa saat mereka bertatapan, Aura seolah melihat mata Gilang dalam orang tersebut, dan itu membuatnya seketika jadi merasa sedih.
Aura sangat berharap bisa bertemu dengan Gilang kembali. Tak jauh beda dengan Aura, orang yang tadi Aura tatap pun merasakan hal yang sama dengan Aura.
Ya, orang itu adalah Gilang. Sejak Aura berdiri di depan lobi rumah sakit, entah kenapa Gilang meminta supirnya untuk menghentikan mobilnya tepat di depan Aura.
Dan hal tak terduga pun terjadi, Aura malah langsung masuk ke dalam mobilnya. Gilang saat itu sangat senang, tapi dia harus menahannya. Jadilah Gilang mengantarkan Aura pulang ke kostannya.
Terkesan tidak adil untuk Aura, sementara Aura tidak pernah bisa melihat Gilang, Gilang dengan sesuka hatinya bisa melihat Aura, walaupun dari jauh.
Sejak kepergian Gilang ke luar negeri, Aura tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Dan tentu saja itu membuat Gilang bahagia karena dengan begitu, Gilang tidak perlu khawatir Aura akan segera menikah dan disakiti oleh lelaki lain.
Sudah hampir sebulan Gilang berada di tanah air, ia juga sudah sukses membangun kerajaan bisnisnya di luar negeri, dan sekarang ia sedang mengembangkan perusahaannya di tanah air.
Lagi pula, sekarang dia sudah punya power yang kuat untuk menghadapi para pelaku yang menyebabkan ayahnya meninggal. Tapi kedatangan Gilang masih dirahasiakan. Selain keluarga dekatnya, tidak ada yang tahu bahwa Gilang berada di tanah air.
Lagi pula, selain untuk mengembangkan perusahaannya, Gilang juga sudah memulai kembali menyerang orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya.
__ADS_1
Aura membuka matanya. Tadi malam, Aura langsung tidur setelah membersihkan dirinya. Pagi ini terasa berbeda bagi Aura; ia merasakan tidurnya sangat nyenyak tadi malam. Biasanya, setelah kepergian Gilang, setiap malam, Aura selalu mengalami mimpi buruk, mimpi ditinggalkan oleh Gilang. Kadang, Aura juga harus meminum obat tidur agar bisa tertidur nyenyak.
Tapi tadi malam, tidurnya begitu nyenyak tanpa ada mimpi buruk lagi. Tidak bisa ia pungkiri, tatapan laki-laki semalam membuatnya teringat akan Gilang. Sadar tidak sadar, alam bawah sadar Aura meyakini bahwa Gilang berada di dekatnya.
Kejadian kemarin tidak terjadi hari ini, semua kembali sedia kala. Aura pun merasa tenang. Tapi dia terlalu berharap, lebih nyatanya beberapa bodyguard menghampiri Aura dan meminta Aura untuk mengikuti mereka.
Sungguh, aura merasa sangat kesal. Hidupnya yang sebelumnya damai kini terganggu dengan kehadiran pasien VVIP. Jika saja tidak teringat dengan kelakuan mereka kemarin, pasti aura akan langsung kabur dan melarikan diri dari mereka. Namun, sebagai seorang dokter, rumah sakit adalah tempat kerjanya dan tidak mungkin untuk pindah hanya karena satu pasien.
Setelah sampai di dalam ruangan yang sama seperti kemarin, pria VVIP tersebut menutup dirinya dengan tirai.
"Ehm, sok misterius!" Gumam aura dengan sinis.
"Apa lagi tuan? Bukankah urusan antara kita sudah selesai kemarin?" ucap aura dengan nada yang sama sinisnya.
"Kamu lupa, ya? Saya meminta kamu datang ke sini untuk minta tanda tangan kamu!" jawab pria VVIP tersebut.
"Tanda tangan untuk apa? Kamu pasti akan memaksa saya dan menyalahgunakan tanda tangan saya!" pekik aura dengan kencang, membuat orang yang berada disana terkikik geli. Meskipun begitu, aura tidak bisa membendung amarahnya.
"Mampus kau!" bisiknya dalam hati.
Namun, pikiran aura tersebut salah besar karena ternyata orang tua kaya seperti bosnya tidak akan melakukan hal yang kotor seperti itu. Terlebih lagi, pengacara dan bodyguard yang sengaja dipanggil ke sana juga sudah mengetahui bahwa tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.
"Ayo, kamu tandatangani saja!" perintah si pria VVIP.
Aura merahasiakan rasa kurang suka pada suara dan nada pria tersebut. Mata aura melolot setelah membaca berkas yang harus ia tandatangani.
__ADS_1
{ Bersambung }