
Masalah kesalahpaham pria bernama bara dan aura akhirnya selesai dengan bara yang meminta maaf kepada aura dan gilang. Ia juga di haruskan untuk membersihkan nama aura di lingkungan sekitar.
Bara juga diminta untuk memberikan pernyataan bahwa apa yang dia tuduhkan pada aura dan gilang hanya fitnahnya semata. Dan dia juga diminta untuk tidak lagi mengusik hidup aura.
Karena memang selama ini, bara sering mengganggu aura, dan aura benar- benar terganggu akan tingkah bara selama ini.
Penolakan aura pada bara membuat bara dendam pada aura dan kehadiran gilang semakin membuat bara membenci aura.
Karena kejadian penggerebekan warga pada aura dan gilang. Akhirnya pak haji meminta gilang untuk menginap dirumahnya saja. Takut- takut ada warga yang masih tidak terima dengan panjelasan dari aura dan lak haji.
Baik gilang maupun aura setuju- setuju saja, hanya mereka menjadi agak sungkan karena terlalu banyak merepotkan pak H. Ali.
Pukul enam pagi, gilang mengetuk kamar aura. Aura muncul dengan muka bantalnya. Sehabis shalat subuh aura dan dara tertidur kembali jadilah aura sekarang berhadapan dengan gilang menunjukkan wajah bantalnya.
Gilang meminta aura untuk membangunkan dara, karena memang ia harus segera pulang dan bersiap pergi ke kantor. Aura menuruti keinginan gilang.
Keduanya pamit pada aura dan tak lupa pamit pada pak H. Ali yang telah begitu baik pada mereka.
Setelah kepergian gilang dan dara, aura melanjutkan tidurnya karena ia ada jadwal prakteknya siang nanti.
Kejadian dini hari tadi membuat aura teramat lelah. Lain aura lain lagi dengan gilang. Pria tersebut sudah sibuk di jam yang masih pagi, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan karena kemarin gilang memang menundanya.
Untuk masalah acara pernikahannya gilang menyerahkan semua nya pada ibu dan tantenya dibantu oleh WO yang sudah mereka pilih.
Pernikahan sesuai dengan keinginan aura, aura meminta acara pernikahannya diadakan secara sederhana. Hanya mengundang saudara dan rekan kerjanya dan rekan bisnis gilang. Yang terpenting semua orang di sekitarnya tahu bahwa aura dan gilang telah menikah.
Dengan tema outdoor dan suasana pantai, itulah pesta pernikahan yang di inginkan aura.
******
Menjelang hari pernikahan aura dan gilang, hubungan keduanya semakin dekat, walaupun keduanya di sibukkan dengan pekrjaan masing- masing dan persiapan menjelang pernikahan mereka.
Dua minggu lagi keduanya akan mengikat janji suci pernikahan. Sebelum mereka dipingit, gilang meminta aura untuk ke suatu tempat sehabis aura selesai praktek.
Gilang mengirimkan supir untuk menjemput aura. Selama perjalanan aura bertanya kepada pak supir. Tapi setiap ia bertanya pak supir hanya mengucapkan agar aura mengikuti saja kemana pak supir bawa.
__ADS_1
Mobil mulai keluar dari kota, karena mungkin aura sangat lelah akibat padatnya pekerjaannya. Mata aura terpejam dan dia hanya mempercayai kemana pun ia akan dibawa.
Sebelumnya gilang meminta aura untuk mengikuti kemana pak supir membawanya. Supir yang menjemput aura juga adalah supir kepercayaan gilang, jadi aura hanya bisa mempercayainya.
Mobil yang di naiki aura telah sampai ditempat yang gilang minta. Aura masih nyenyak dalam tidurnya.
Gilang yang melihat betapa nyenyaknya aura tidur, tersenyum simpul. Seperti sudah menjadi kebiasaan aura, akan tertidur jika dalam perjalanan jauh.
Gilang membelai pipi aura yang lembut, aura melengkuh karena terkena tangan gilang yang dingin.
Tak lama aura mengerjapkan matanya, hal yang pertama ia lihat adalah wajah tampan gilang. Aura tersenyum berpikir itu adalah mimpi. Wajah gilang yang tampan membuat aura tersenyum tersipu.
" Ya ampun, bahkan dalam mimpi pun gilang tetap terlihat tampan dan nyata." Racau aura sambil tersenyum. Bahkan aura mencubit pipi gilang. Tapi kenapa mimpinya serasa amat nyata. Pikir aura, masih belum sadar bahwa yang dihadapannya adalah kenyataan bukan mimpi seperti yang ada di pikirannya.
Tiba- tiba gilang menyentil dahi aura pelan.
" Sudah bermimpinya! Aku ini nyata bukan mimpi seperti yang kamu kira!" Kata gilang merasa geli dengan pemikiran aura.
" Loh kok dahiku sakit sih! Dan juga kenapa gilang tahu kalau aku sedang bermimpi." Ucap aura dan perkataannya di dengar oleh gilang.
" Ayo turun, udahan mimpinya!" Perintah gilang tanpa memperdulikan kebingungan yang aura rasa.
Gilang menarik tangan aura lembut, membawanya ke tempat mereka akan makan malam.
Aura dibawa ke tengah- tengah danau buatan, disana sudah ada meja untuk mereka berdua.
Terdengar alunan merdu lagu " A Thousand Year " dari cristina perri. Membuat aura tak terasa menitihkan air matanya.
Dilayar besar di depan meja mereka juga terputar video kebersamaan aura dan gilang dari mereka kecil.
Foto- foto masa kecil mereka hingga saat ini terslide menjadi sebuah video yang amat manis. Bahkan ada pula foto- foto aura saat di magang, menjadi dokter koas, dan kegiatan kemanusian yang aura lakukan.
Setahu aura gilang tidak ada bersamanya saat masa- masa itu, tapi dari mana gilang mendapatkan foto- fotonya.
Aura tidak tahu saja bahwa selama ini gilang selalu mengawasi segala kegiatannya. Bahkan pertolongan yang aura dapatkan saat dia kesusahan sebenarnya adalah bantuan dari gilang.
__ADS_1
Aira mata begitu deras mengalir di pipi aura, ia tidak menyangka bahwa gilang begitu memperhatikannya.
Suara jangkrik dan suara binatang malam mengiringi lagu yang begitu bermakna dalam bagi aura.
Gilang memeluk aura dari belakang dan membisikkan kata kata cinta yang begitu manis di telinga aura sambil mengucapkan.
" Aura Pricillia Arnandi. Mau kah kamu menjadi istriku, tua bersamaku sampai ajal memisahkan kita?" Ucap gilang lembut.
Tanpa berpikir aura menganggukan kepalanya.
" Ya aku mau... Aku mau...!" Pekik uara dengan senang.
Walaupun lamaran secara resmi kepada kedua orangtua aura sudah dilakukan dan mereka tinggal menunggu hari pernikahan mereka, gilang tetap melakukan lamaran romantis untuk aura. Karena memang itulah keinginan aura.
Apapun akan gilang wujudkan jika itu bisa membuat auranya bahagia.
Malam romantis begitu terasa bagi kedua insan yang dimabuk cinta. Rasa kagum dan sayang melebur jadi satu dalam hati aura.
Gilang juga benar- benar bersyukur akhirnya tuhan benar- benar mendengar doanya agar aura menjadi jodohnya.
" Besok hari terakhir kita untuk bertemu sebelum mas melangsungkan ijab kabul." Kata aura tiba- tiba. Tentu saja gilang amat sedih jika harus dipisahkan dan tidak melihat wajah cantik aura.
Wajah gilang seketika berubah sendu.
" Apakah hal itu bisa tidak kita lakukan?" Tanya gilang.
" Kamu mau membangkang aturan kedua keluarga kita?" Tanya aura balik.
" Lagi pula kenapa sih ada tradisi seperti itu. Aku mana bisa tidak bertemu dengan kamu!" Keluh gilang.
" Gaya mu mas, padahal siapa ya dulu yang ninggalin aku begitu saja. Hilang tanpa kabar!" Sindir aura.
Gilang mengusap wajahnya frustasi.
{ Bersambung }
__ADS_1