Cinta Terakhirku

Cinta Terakhirku
HUKUMAN


__ADS_3

Sadar dimana sekarang ia berada, kiran berteriak kencang dan meraung menangis. Ia ketakutan bukan karena kapal yang membawanya tapi takut tidak bisa menikmati gaya hidup mewahnya.


Orang yang bertugas untuk mengawasi kiran menutup telinganya rapat- rapat tidak ingin mendengar teriakan kiran.


Untuk sekelas gadis manja dari kaum orang kaya seperti kiran kehilangan hidup mewahnya berarti berakhir pula hidup mereka.


Kiran yang sedari kecil dilimpahi kemewahan membuatnya menjadi manusia borjuis.


Makanya ia mengejar gilang sampai segitunya, karena gilang termasuk pria kaya yang dapat menopang hidupnya jika mereka menikah, walaupun kiran juga mencintai gilang.


Berhari- hari kiran berada dalam kapal. Dan selama itu pula ia hanya berada di dalam kamar. Kiran tak layaknya seorang penjahat yang saat ini sedang di penjara.


Tetapi dengan penjara yang sedikit berbeda dari biasanya.


Sampailah mereka di suatu pulau yang kiran sendiri tidak tahu ada di negara mana sekarang ia berada, tapi mengingat perjalanan hanya beberapa hari saja tidak mencapai berbulan- bulan, sudah jelas ia masih di indonesia.


Kiran diturunkan dengan kasar, dan ia sudah di sambut oleh warga asli pulau tersebut. Setelahnya kiran di tinggalkan begitu saja di sana bersama dengan orang lokal.


Jelas saja kiran ketakutan bukan main, ia takut orang- orang yang saat ini bersamanya adalah kaum kanibal. Ia berpikir dirinya akan menjadi santapan warga pulau tak dikenal tersebut.


Berbeda dengan nasib yang dialami kiran, setelah dua hari di rumah sakit, aura di perbolehkan pulang, karena memang kondisi aura sudah bagus.


Gilang menyiapkan segala keperluan aura dan membantu aura merapikan barang- barangnya. Walaupun di sana ada keluarga aura, sepertinya gilang tidak mau perannya diambil oleh orang lain, sekalipun itu ibu ataupun keluarga aura yang lain.


Aura sedari awal meminta untuk pulang kerumah orangtuanya, tapi gilang melarangnya. Baginya aura sudah menjadi istrinya yang sah dimata hukum dan agama maka aura harus ikut bersamanya kemanapun gilang pergi.


Tak ada yang berani menentang keputusan gilang, karena kenyataannya pak seno sendiri yang menikahkan putrinya dengan gilang.


Sedangkan arfa sekarang sedang di sibukkan dengan kondisi baby killa yang tiba- tiba saja sakit pasca perjalanan mereka ke bali beberapa waktu yang lalu. Jadi bukannya arfa tidak memperdulikan aura, tapi fokusnya sekarang untuk kesembuhan putri tercintanya baby killa. Lagi pula aura sudah banyak yang menjaganya.


Dengan terpaksa aura menuruti perintah dari gilang, tak ada satupun yang mendukungnya jadi aura memutuskan untuk menuruti keinginan gilang.

__ADS_1


Mereka sampai di depan sebuah rumah yang terbilang mewah, bahkan di depan pos jaga ada dua sekurity yang bertugas disana.


Gilang membantu aura turun dari mobil, tapi dengan kasar aura menolaknya. Bagi gilang itu bukan masalah karena mungkin aura masih marah padanya.


Dengan ragu aura memasuki rumah yang sudah gilang siapkan. Tepat aura membuka pintu kompeti berterbangan ke udara dan terdengar suara orang menyambut kedatangannya.


Keluarga gilang datang untuk menyambut kepulangan aura dari rumah sakit. Ada ibunya gilang, dara, paman, tante dan keponakan- keponakan gilang yang lain belum aura kenal.


Tulisan besar " WELCOME HOME AURA!!!" menghiasi ruang tamu di mana saat ini berdiri.


Aura tidak menyangka dia akan di sambut begitu heboh oleh keluarga gilang. Padahal aura hampir saja membuat keluarga gilang malu karena pergi semalam sebelum pernikahan mereka.


Gilang meminta semua keluarganya agar pulang kerumah masing- masing, termasuk ibu dan adiknya dara.


Ia ingin aura bisa beristirahat dengan baik tanpa gangguan dari siapapun termasuk keluarganya sendiri.


Gilang membawa aura ke kamar mereka, tapi saat sampai di depan kamar aura malah terdiam di depan pintu.


" Aku tidak mau sekamar denganmu!" Ucap aura ketus, membuat gilang harus memedam amarahnya.


Untuk sementara waktu gilang akan bersabar dan mengalah untuk aura.


Ia akan berusaha mewujudkan semua keinginan aura.


Ada sedikit rasa sesal dalam diri aura, setelah mengatakan permintaannya tadi. Tapi aura juga tidak mau terlalu dekat dengan gilang dan akan membuatnya kecewa kembali.


Aura memasuki kamarnya. Kamar yang di dominasi warna biru dan putih membuat aura merasa nyaman. Kamar yang lebih luas tiga kali lipat dari kamarnya di rumah orangtuanya. Di meja rias juga sudah di sediakan segala alat make up dan skin care yang biasa aura pakai.


Ternyata gilang menyiapkan segalanya dengan baik. Aura sejenak merebahkan badannya di ranjang besar. Ia berguling ke kanan dan ke kiri merasakan betapa empuknya ranjang yang saat ini ia tiduri.


Dalam otaknya aura berpikir, apakah di setiap kamar dirumah ini di fasilitasi dengan ranjang yang sama yang dia tiduri?

__ADS_1


Entah karena saking nyamannya atau memang aura yang lelah dengan cepat aura memejamkan matanya terbawa ke alam mimpi.


Di depan kamar gilang mengetuk pintu kamar aura, tapi sudah beberapa lama ia memanggil aura tak ada jawaban sama sekali dari dalam.


Dengan sedikit keberanian gilang memutar handle pintu. Clek!! Pintu terbuka, ternyata aura tidak mengunci pintu kamarnya. Dengan hati- hati gilang masuk ke kamar pandangannya langsung tertuju pada aura yang sudah terlelap dengan posisi kaki menjuntai ke bawah.


Dengan sangat hati- hati gilang membenarkan posisi tidur aura agar lebih nyaman.


Niatnya ke kamar aura memang untuk mengambil pakaian kerjanya sambil pamit pada aura. Karena memang ada pekerjaan di kantor yang harus gilang selesaikan.


Selesai berganti baju, gilang menghampiri aura. Begitu damai tidur aura. Bibir aura yang yang semerah ceri membuat gilang tak dapat memedam keinginannya untuk merasakan manisnya bibir aura.


Gilang mencondongkan badannya untuk mengecup bibir merah aura. Cup! Satu kecupan gilang berikan untuk aura, tapi hal tidak terduga terjadi.


Aura menarik gilang dalam pelukannya seolah- olah gilang adalah guling.


Sepertinya aura benar- benar terlelap sampai tidak menyadari perbedaan antara guling dan gilang.


Aura semakin mengeratkan pelukannya. Gilang yang memang lelaki normal harus menelan salivanya berulang kali.


Ia menarik napas yang dalam untuk menenangkan hati dan pikirannya. Lagi pula gilang juga sudah di tunggu dikantor oleh kliennya.


Dan kalau pun ia memutuskan untuk bersama aura, apakah aura mau melakukan hal tersebut dengan gilang.


Menilai bagaimana aura sekarang bersikap acuh pada gilang, tentu bukan hal baik jika gilang memaksa aura.


Perlahan gilang melepaskan dekapan aura tanpa membuat aura terbangun.


Saat akan terlepas, aura malah mengigau.


" Jangan pergi, tetaplah di sini! Ehm!!" Erang aura dalam tidurnya.

__ADS_1


Haruskah gilang menuruti keinginan dalam mimpi aura atau tetap akan pergi ke kantor?


{ Bersambung }


__ADS_2