Cinta Terakhirku

Cinta Terakhirku
BAB. 22.


__ADS_3

" Apa hubungannya profesi dengan maksud ucapanmu!" Gerutu aura sambil mulutnya komat kamit.


Melihatnya gilang jadi gemas sendiri. Terkadang aura memang segemas itu.


" Aku juga cinta sama kamu aura!" Tekan gilang.


Seketika hati aura berbunga-bunga, tak dia sangka cintanya terbalaskan. Padahal dari kemarin aura sudah ingin melupakan cintanya pada gilang.


Aura memeluk gilang yang sedang sibuk menyetir, membuat gilang memekik kaget. Tapi gilang tidak melarang aura untuk memeluknya.


" Bagaimana jika kita menikah saja!" Ajak gilang tiba- tiba.


Jelas saja aura kaget, dengan ajakan gilang.


" Kamu ini kok ngajak nikah kayak ngajak main ke aku. Gak ada romantis- romantisnya." lagi- lagi aura menggerutu.


" Memang kamu mau lamaran seperti apa?" Tanya gilang ingin tahu.


" Ya seenggaknya lamaran yang romantis dan penuh kejutan dong!" Keluh aura.


" Ya udah aku gak jadi lamar kamu, nanti saja lamarnya setelah aku nyiapin lamaran romantis buat kamu!" Ucap gilang kemudian.


" Loh kok gitu sih! Jadi gak jadi kita nikahnya." Ucap aura lemas. Gilang mengacak rambut aura.


Mereka sampai di sebuah restoran yang menjadi favorit aura. Aura bukan main senangnya di bawa kesana. Entah dari gilang tahu bahwa itu adalah restoran favoritnya atau hanya kebetulan, aura tidak mau ambil pusing. Yang terpenting dia sudah berada disana.


Perut aura juga sudah minta di isi, sejak siang aura tidak makan makanan berat, hanya sedikit ngemil biscuit, itu juga agar magh nya tidak kambuh. Karena memang tidak ada nafsu makan.


Tapi sekarang aura meraskan lapar yang sangat. Mungkin karena suasana hatinya yang bahagia, makanya nafsu makannya kembali.


Mereka duduk di meja paling pojok agar tidak menjadi perhatian banyak orang disana. Pelayan datang membawa buku menu. Gilang meminta aura untuk memesan makanan apapun yang diinginkan oleh aura.


Tentu saja aura akan memesan makanan kesukaannya.


" Saya pesan ayam bakar, sop iga, nasi dan gorengannya, serta minumnya ingin jus jeruk. Gilang kamu mau makan apa?" Tanya aura setelah menyebutkan pesanannya.

__ADS_1


" Saya soto ayam dan teh hangat saja." Ucap gilang pada pelayan.


" Kok cuma pesan soto aja sih?" Keluh aura. Ia malu sendiri karena memesan lebih dari satu menu.


" Gak apa- apa, lagian aku masih kenyang. Yang terpenting kamu saja. Aku tahu akhir- akhir ini kamu makan dengan tidak baik." Kata gilang kemudian.


Aura hanya mengembangkan seyumnya. Ia tidak tahu gilang tahu dari mana bahwa akhir- akhir ini nafsu makannya menghilang dan membuat makannya tidak teratur dan kadang aura tidak makan, hanya mengemil saja.


Yang jelas ia bahagia diperhatikan seperti itu oleh gilang. Tak lama pesanan datang dan meja penuh dengan makanan. Aura makan dengan lahap tanpa memperdulikan penilaian gilang padanya saat makan.


Gilang bahkan belum menyentuh makanannya tapi aura sudah hampir menghabiskan seluruh makanan yang ia pesan.


" Kamu kok gak makan sih?" Kata aura saat sadar gilang hanya menatapnya yang sedang makan, sedangkan makanan gilang masih utuh.


" Aku rasanya sudah kenyang dengan melihat kamu dengan lahap makan." Jawab gilang sambil menampilkan giginya yang rapi.


Aura mencebikkan bibirnya. Jengah dengan gombalan yang gilang ucapkan.


Aura meneruskan sisa makanan dan segera menghabiskannya. Tiba- tiba telepon aura berdering.


"Hallo assalamualaikum kak, ada apa?"


" Aura kamu belum pulang dari rumah sakit? Kakak ada di depan kostan kamu nih!"


" Aura udah pulang kok, sekarang aura sedang makan diluar. Kakak tunggu aura ya, paling tiga puluh menit lagi aura tiba disana." Ucap aura lagi.


" Ya udah kakak tunggu, kamu jangan kelamaan!"


" Siap boss!"


Aura meminta gilang untuk mengantarnya pulang dan aura juga menceritakan akan kedatangan arfa ketempat kostannya.


Kedatangan aura sudah sangat ditunggu oleh arfa, arfa sedikit terkejut saat aura menggandeng tangan seorang laki- laki. Semakin dekat arfa semakin jelas melihat sosok laki- laki tersebut.


Tak ayal membuat arfa semakin terkejut. Mengapa gilang ada bersama dengan aura?

__ADS_1


" Aura kenapa kamu bersama dengan gilang, dan sejak kapan di ada di tanah air?" sebelum aura menjawab, gilang terlebih dahulu mengulurkan tangannya untuk berjabat.


" Aku ada aura sudah resmi pacaran, dan dalam waktu dekat aku akan melamar aura." Ucap gilang tegas.


Mendengarnya arfa tidak suka. Bisa- bisa mereka dengan mudah menjalin hubungan setelah gilang meninggalkan aura begitu saja dan membuat aura menjadi berubah.


" Memangnya kau yakin, aku ataupun kedua orangtuaku akan merestui kalian berdua? Apa kau tidak ingat telah meninggalkan aura begitu saja?" Ucap arfa sarkas.


" Aku akan berjuang untuk mendapatkan restu kalian. Dan aku akan memperjuangakan aura." Ucap gilang dengan yakin.


" Kita lihat saja nanti, dan sekarang lebih baik kamu pulang. Aura pasti ingin beristirahat!" Ketus arfa.


Arfa yang dahulu selalu ramah dan mendukung gilang kini telah berubah. Sebenarnya arfa memang kecewa pada sikap gilang. Berkali- kali ia meminta gilang untuk menemui aura sebelum pergi, tapi seolah gilang tidak menggubris keingina arfa.


Dan hal itu membuat aura sangat terpuruk. arfa tidak mau jika nanti gilang berlaku hal yang sama dengan aura.


Sudah dipastikan aura akan semakin terpuruk, terlebih sekarang gilang berencana akan menikahi aura. Tentu saja arfa harus lebih siaga dari sebelumnya.


Arfa bukan tidak tahu bahwa setiap gilang pulang ketanah air, gilang dengan sembunyi- sembunyi memperhatikan aura. Tapi ia tidak mau lagi menaruh harapan pada gilang. Bahwa gilang bisa membahagiakan aura.


Orang yang sangat berpotensi menjadi sumber kebahagian, adalah orang yang sangat- sangat bisa membuat penderitaan.


Walaupun arfa tahu aura amat sangat mencintai gilang, tapi arfa tidak akan dengan mudah memberikan aura kepada gilang.


" Aura, kakak harap kamu jangan terlalu percaya pada perkataan gilang, tentunya kamu masih ingatkan bagaimana ia meninggalkan kamu begitu saja. Kakak tidak mau kamu semakin terluka." Ucap arfa memberi nasihat saat mereka sudah masuk kedalam kamar kost aura.


" Kakak tidak perlu khawatir, aura yakin gilang juga sangat mencintai aura. Jadi mana mungkin gilang akan menyakiti aura." Ucap aura meyakinkan arfa.


" Kakak hanya tidak mau kamu terluka aura!" Tegas arfa menekankan.


" Ya aura tahu, dan aura sangat berterimakasih akan hal itu. Tapi bahagianya aura hanya pada gilang kak!"


" Terserah kamu saja, yang jelas untuk saat ini kakak tidak bisa memberikan kalian restu, kakak hanya ingin gilang membuktikan bahwa dia memang pantas untuk kamu."


Aura menghela napasnya dengan berat, restu dari arfa sama artinya dengan restu dari kedua orangtuanya. Jika arfa sudah merestui mereka maka aura dan gilang juga akan mudah mendapatkan restu dari kedua orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2