Cinta Terakhirku

Cinta Terakhirku
MALAM PERTAMA


__ADS_3

Gilang mendarat di bandara dengan pesawat pribadinya. Ia langsung menanyakan keberadaan aura pada anak buahnya.


Gurat kecemasan terlihat jelas di wajahnya. Bagaimana ia bisa tenang membiarkan aura tinggal di sana, sementara keselamatan aura terancam.


Anak buahnya gilang memberi informasi tentang keberadaan aura saat ini.


Setelah perdebatan yang alot, akhirnya keluarga pasien memberikan izin pada aura, tapi dengan syarat aura harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang buruk pada anak tersebut.


Aura yang sangat yakin bahwa diagnosanya benar, menyetujui persyaratan tersebut.


Mobil yang dinaiki gilang melesat cepat menuju rumah sakit di mana aura berada sekarang.


Rencananya gilang akan menarik paksa aura pulang, dengan cara apapun.


Dalam waktu satu setengah jam gilang sampai di rumah sakit yang sudah lenggang. Memang saat ini sudah tengah malam.


Anak buah gilang menunjukkan dimana aura berada. Aura duduk di salah satu kursi dengan mata terpejam. Seharian ini memang aura belum beristirahat sama sekali.


Saat tiba di camp, ia sudah di sibukkan dengan memeriksa kesehatan anak- anak. Ditambah kejadian anak tadi.


Gilang mendekati aura dan memakaikan jaketnya ke tubuh aura. Pakaian yang aura pakai masih sama dengan pakaian saat tadi pagi berangkat.


Bahkan gilang juga sangsi aura sudah makan atau belum. Satu kebiasaan aura, akan melupakan dirinya sendiri saat sibuk menolong orang lain.


Gilang mendekap aura dalam pelukannya. Aura malah sangat nyaman didekap seperti itu. Tak sedikitpun tindakan gilang membuat tidurnya terusik. Mungkin karena sudah sangat lelah, makanya aura begitu nyaman.


Gilang malah jadi kesal sendiri dengan tingkah aura. Bagaimana jika yang sekarang memeluk aura adalah pria lain bukan dirinya. Lagi pula aura begitu ceroboh tidur di sembarang tempat.


Beruntungnya gilang memberikan pengawal bayangan untuk aura, jika tidak mungkin akan ada orang yang memanfaatkan aura saat ini.


Karena terlihat aura begitu nyenyak dan tidak terusik. Gilang memutuskan membawa aura ke hotel di dekat sana. Kasihan juga jika aura semalaman tidur dalam posisi seperti itu.


Dengan pelan gilang menggendong aura dan menuju mobilnya untuk membawa aura ke hotel yang sudah gilang pesan melalui anak buahnya.


Mereka sudah sampai hotel, dengan pelan gilang meletakkan aura di ranjang. Gilang membersihkan wajah dan kaki aura dengan air hangat yang dia minta melalui room servis.

__ADS_1


Setelahnya gilang memutuskan untuk membersihkan diri. Saat keluar dari kamar mandi gilang mendapati aura sedang terduduk dengan wajah heran, matanya meneliti sekitar. Tepat saat mata mereka bertemu aura sedikit terkejut melihat ada gilang.


" Gilang! Kenapa kamu ada di sini?" Ucap aura dengan bimbang. Sesungguhnya ia pun merasa sangat asing dengan tempatnya berada sekarang. Tapi melihat ada gilang disana kekhawatiran aura lenyap begitu saja.


" Sayang kenapa kamu bangun hem? Apa ada yang tidak nyaman?"


" Ini dimana? Kenapa kamu ada di sini?"


Gilang tersenyum dan duduk di depan aura. Tidak ada jawaban dari mulut gilang, tapi ia mencium aura dengan sangat lembut, bahkan saat aura memberontak gilang menekan tekuk aura, agar aura tidak dapat menghindar dari ciumannya.


Semakin lama ciuman keduanya semakin dalam bahkan aura yang tadi sempat memberontak mulai membalas ciuman gilang.


Kabut gairah terlihat jelas di mata gilang dan entah bagaimana awalnya mereka akhirnya melakukan malam pertama mereka yang sudah sangat lama tertunda.


Jadi terjadilah yang seharusnya terjadi antara suami dan istri. Di kota yang jauh dari tempat tinggal mereka.


Malam pertama yang tak akan terlupakan bagu keduanya.


Pagi hari aura terbangun dan melihat ke jendela hari sudah pagi, ia juga terlewat untuk shalat subuh, aura segera bangun. Ia melihat disampingnya gilang begitu terlelap. Perlahan aura menginjakkan kakinya dilantai, tapi saat ia akan berjalan ke kamar mandi ia merasakan sakit di bagian intinya.


Dengan sekuat tenaga aura berjalan dan tidak mengganggu tidur gilang. Saat akan masuk kamar mandi ia menoleh ke arah gilang.



Suara gemericik air, mengganggu tidur gilang. Ia meraba-raba ke samping, kosong. Aura sudah tidak ada.


Gilang membuka matanya dan ia tersenyum bahagia mengingat kejadian semalam. Ia jufa melihat ada noda darah di serpei yang mengalasi kasur yang ia tiduri. Semakin berbanggalah gilang. Ia yang pertama untuk aura. Dan ia sangat bangga akan hal itu.


Saat gilang masih senyum- senyum sendiri, aura keluar dari kamar mandi. Ia sebentar melihat ke arah gilang. Dan dengan pelan meminta gilang untuk segera bangun dan melaksanakan kewajibannya.


Sedangkan aura sendiri dengan cepat memakai mukena yang memang sengaja gilang sediakan untuknya.


Gilang melompat dari ranjang dan berlari ke kamar mandi menyadari hari mulai pagi. Dengan cepat ia mandi wajib dan keluar melaksanakan dua rakaat.


Aura duduk di balkon kamar sambil memandang jauh. Pemandangan di hotel ini memang sangat indah. Ia juga melihat ke bawah ada kolam renang. Beberapa orang terlihat berenang disana.

__ADS_1


Sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Tentu saja aura tahu siapa pelakunya.


" Sudah lapar? Ingin memesan sesuatu atau di antar ke kamar saja?" Ucap gilang lembut.


" Aku sebenarnya ingin ke bawah saja, tapi..." Ucap aura sungkan.


" Tapi kenapa?"


" Ehmmm.... Sakit untuk di bawa berjalan." Ucap aura pelan, dengan pipi yang sudah merona.


Gilang tertawa sangat kencang, membuat aura kesal. Sudah tahu itu karena ulah gilang, tapi dengan enaknya gilang tertawa.


Aura melepaskan diri dari pelukan gilang. Aura begitu sangat kesal.


" Aku mau kerumah sakit." Ucap aura kemudian, ia juga tidak mau dijadikan bahan lelucon oleh gilang.


" Ish gitu aja marah, aku hanya menggodamu sayang. Maaf ya!" Ucap gilang sambil mengatupkan kedua tangannya tanda meminta maaf pada aura.


Aura seperti tidak peduli, dia masih sangat kesal dengan gilang.


Gilang kembali memeluk aura dan mendaratkan ciumannya oada kening aura. Ia juga membujuk aura agar tidak lagi marah padanya.


Suara ketukan pintu menghentikan permintaan maaf gilang. Gilang segera membuka pintu dan seseorang membawa troli makanan. Ia menerimanya dan mengucapkan terima kasih setelahnya.


" Sayang sini!" Perintah gilang, tapi aura masih diam saja tak berniat sedikit pun menghampiri gilang.


Dengan memaksa gilang menghampiri aura dan menarik aura untuk mendekat pada troli makanan.


Berbagai macam makanan terhidang di sana.


" Kamu harus makan banyak dan tidak boleh terlalu capek. Setelah ini kita akan pulang!"


Aura sangat kaget mendengarnya, apa tadi gilang bilang pulang. Maksudnya pulang kerumah mereka?"


" Maksudnya apa dengan kata pulang?" Tanya aura penuh selidik.

__ADS_1


" Ya siang ini kita akan pulang kerumah kita!" Ucap gilang tegas, tak ingin mendengar kalimat bantahan dari aura.


{ Bersambung }


__ADS_2