Cinta Terakhirku

Cinta Terakhirku
HATI - HATI SAYANG


__ADS_3

Perlahan dan pasti gilang semakin mengikis jarak antara dia dan aura. Bibir merah alami aura membuat gilang ingin sekali merasakannya. Gilang semakin mendekat kepada aura, dan 'cup' Seperti biasa ia hanya mengecup singkat bibir aura.


Jelas saja aura berlonjak kaget.


" Ish kamu apa-apaan sih! Lupa dengan janji sendiri!" Ucap aura sambil mengerucutkan bibirnya.


" Maaf! Aku kelepasan. Janji gak bakal ngulangin lagi." Ucap gilang sambil tersenyum lima jari menampakkan gigi putihnya.


Aura kembali tenang, ia diam menunggu apa yang ingin di sampaikan oleh gilang."


" Aura sayang, memangnya keberangkatan kamu tidak bisa di batalkan ya?" Ucap gilang sendu.


" Ya gak bisalah, lagi pula kamu juga udah tanda tangan surat persetujuan."


" Tapi aku nyesel loh udah kasih tanda tangan aku. Kamu gak usah pergi ya! Aku kayaknya gak bisa deh hidup jauh dari kamu."


" Ih gak bisa gitu dong. Lagi pula aku pergi juga kan gak lama cuma sebulan." Ucap aura tanpa dosa.


Gilang mengusap wajahnya frustasi. Salahnya sendiri yang menandatangani surat persetujuan.


" Tidur yuk udah malam juga, lagi pula esok hari aku harus bangun pagi sekali." Ajak aura.


" Malam ini boleh ya, aku tidur sambil meluk kamu." Pinta gilang memelas.


Aura hanya menganggukkan kepalanya. Yang sesungguhnya aura juga berat untuk berpisah dengan gilang. Di sadari ataupun tidak gilang sudah menjadi bagian dalam hidupnya.


Walapun mereka sama- sama sibuk, tapi setidaknya setiap hari mereka dapat bertemu.


Aura tidur dengan di pelukan gilang. Tak perlu menunggu waktu yang lama aura sudah terlelap dalam alam mimpi.


Berbeda dengan gilang yang sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Berkali- kali ia mencuri ciuman dari aura, tapi malah semakin membuatnya tak bisa tertidur.


Sesuatu yang seharusnya tidak terbangun malah terbangun, membuat gilang menyesali janjinya pada aura, tidak akan berbuat macam- macam pada aura.


Gilang memutuskan untuk menenangkan dirinya, ia pergi ke kamar mandi dan mendinginkan otaknya.

__ADS_1


Baru satu jam kemudian, gilang dapat tertidur menyusul aura ke alam mimpi.


*****


Gilang mengantarkan aura sendiri ke bandara, karena perjalanan aura dan teman seprofesinya memang berada di luar pulau.


" Ra, ingat ya kamu jangan pernah melepaskan kalung yang aku berikan. Kasih kabar juga jika kamu sudah sampai disana."


" Iya ih! Bawel banget sih!" Gerutu aura. Bukan apa- apa aura mengatakan hal tersebut. Sepanjang perjalanan gilang tak hentinya mengingatkan aura untuk selalu memakai kalung pemberiannya. Belum gilang juga meminta pada aura agar ponsel aura selalu aktif.


Banyak lagi wejangan yang gilang katakan, bahkan orang tua aura sendiri saja tidak memberikan wejangan sepanjang itu pada aura jika aura berpergian jauh dari mereka.


Rekan aura meminta aura segera cek in, dan dengan terpaksa gilang dan aura harus berpisah.


Semenjak kepergian aura, gilang tidak dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya. Pikirannya selalu tertuju pada aura. Bahkan berkali- kali ia menghubungi nomor aura. Tapi sayangnya nomor aura sampai saat ini belum aktif.


Mungkin aura masih berada di pesawat dan pesawatnya belum mendarat.


Belum juga sehari aura pergi, tapi gilang sudah sangat merindukannya. Akhirnya gilang memutuskan untuk menyusul aura.


Gilang meminta asistenya untuk mengosongkan jadwalnya selama seminggu kedepan. Tapi sayangnya ternyata jadwalnya gilang tidak dapat di undur selama beberapa hari kedepan.


Sementara gilang begitu galau disana, aura malah terlihat sangat bahagia saat sampai di camp kegiatannya. Bahkan dia begitu menikmati kegiatannya bersama anak- anak yang sedang mengecek kesehatan mereka.


Bahkan aura sampai melupakan untuk mengaktifkan ponselnya dan mengabaikan pesan dari gilang.


Walaupun begitu, gilang yang telah memberikan aura pengawalan melalui pengawal bayangan tetap bisa memantau aura. Dengan begitu gilang sedikit lebih tenang.


Tiba- tiba saja keadaan camp jadi rusuh karena salah seorang anak mengalami kejang- kejang.


Aura dengan sigap mencoba untuk menangani anak tersebut. Karena alat dan obat- obatan di sana kurang lengkap jadi aura dan timnya memutuskan untuk membawa anak tersebut ke rumah sakit di kota.


Walaupun jaraknya berpuluh- puluh kilo meter tidak membuat aura patah semangat memberikan penanganan terbaik untuk anak tersebut.


Saat aura dan timnya ingin membawa anak tersebut, pihak keluarga anak tersebut menghentikan aura.

__ADS_1


Mereka melarang aura membawa anak tersebut. Maka terjadilah adu argument antara aura dan keluarga pasien.


Memang tempat aura sekarang sangat terpencil dan warganya juga tidak mengeyam pendidikan yang tinggi.


Mereka ingin anak tersebut di sembuhkan oleh orang pintar yang sudah terkenal di sana. Sementara penyakit anak tersebut harus segera dilakukan tindakan.


Selain adu argument mereka juga berani menyerang aura, tentu saja pengawal bayangan yang gilang sewa tidak akan tinggal diam melihat istri atasan mereka di kasari.


Ketika salah seorang keluarga pasien ingin melayangkan pukulannya pada aura, pengawal banyangan gilang langsung menghentikan dan memelintir tangan orang tersebut.


Jelas saja keluarga yang lain tidak terima, tapi apa peduli pengawal bayangan gilang. Mereka hanya menjalankan tugas untuk melindungi nyonya mereka dari bahaya.


Aura juga merasa heran, dari mana orang- orang tersebut datang. Tiba- tiba mereka sudah mengelilingi aura.


Sedangkan gilang yang mendapat laporan dari salah satu anak buahnya tentang aura.


Ia memutuskan untuk pergi ke tempat aura dan meninggalkan semua pekerjaannya. Tidak peduli dengan jadwal kerjanya. Ia hanya ingin aura aman dan baik- baik saja.


Tentu saja yang akan pusing dengan tindakan gilang adalah asisiten dan sekertarisnya.


Mereka bukan hanya mereschejul jadwal gilang tetapi melobi kliennya agar mengundur jadwal meeting mereka.


Dengan pesawat pribadinya gilang menyusul aura. Amarahnya sudah tidak terbendung mendengar aura mendapatkan perlakuan kasar dari warga sekitar.


Kembali pada aura dan keluarga pasien. Suasana semakin panas, sampai bapak kepala desa datang dan melerai orang- orang.


Dirasa aura sudah dalam keadaan yang aman, secara perlahan pengawal bayangan hilang begitu saja. Bahkan aura juga yang tadinya fokus pada pak kepala desa tidak menyadari kepergian orang- orang tersebut.


Tadinya orang- orang itu ada di belakang dan di depan aura. Tapi saat aura mencari mereka, mereka lenyap begitu saja. Seperti ninja- ninja yang aura tonton di televisi.


Bahkan keluarga pasien juga tidak bisa membuktikan keberadaan orang- orang tersebut.


Mereka bahkan sampai berpikir, bahwa orang yang tadi mereka lawan adalah pasukan setan. Maklum saja kepercayaan terjadap hal yang seperti itu masih sangat kental.


Aura melihat celah itu, jadi untuk menyakinkan keluarga pasien aura berargument bahwa leluhur mereka saja membantu aura untuk membawa anak tersebut berobat ke rumah sakit di kota.

__ADS_1


Keluarga pasien jadi gamang. Apakah akan menuruti aura yang di lindungi pasukan gaib atau mengikuti tradisi mereka. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran keluarga pasien anak tersebut.


{ Bersambung }


__ADS_2