
"Gilang," ucap Aura dengan tatapan merindu. Tidak disangka ternyata pasien yang telah diselamatkan dan membuat Aura sibuk beberapa hari ini adalah Gilang, laki-laki yang selalu dirindukannya.
Berbeda dengan Aura, Gilang kaget karena akhirnya Aura mengetahui siapa pasien yang selalu menutup muka dan menyembunyikan identitas dari Aura. Gilang memerintahkan bodyguardnya untuk keluar dan meninggalkannya berdua dengan Aura.
Saat Aura tahu bahwa pasien itu adalah Gilang, Aura membuka maskernya dan membuat Gilang kaget. Gilang juga meminta dokter Fadli, suster, dan perawat meninggalkan mereka berdua.
Aura berlari menyeruduk Gilang, dengan erat memeluknya. "Gilang, kenapa kamu dulu meninggalkan aku begitu saja!" keluh Aura dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Gilang menghela napasnya dengan berat, penyembunyiannya dari Aura telah berakhir dengan sekarang Aura ada di depannya. "Memang kenapa aku tidak boleh meninggalkan kamu?" jawab Gilang datar.
"Karena aku mencintaimu!" ucap Aura masih dengan tangisnya.
Gilang tersenyum samar, sesungguhnya ia bahagia bahwa ternyata Aura mencintainya. "Apa kamu tidak malu mengatakan cinta pada laki-laki!" goda Gilang mengejek.
"Biar saja, aku tidak malu sama sekali. Jika kamu orangnya," ucap Aura lagi.
"Benar kamu tidak malu, walaupun di sini ada banyak orang?" tanya Gilang lagi.
"Ish, kamu banyak omong. Lagi pula, di sini cuma ada kita berdua," ucap Aura percaya diri, padahal sejak ia menghambur ke dalam pelukan Gilang, semua orang kembali karena tidak sengaja Gilang memencet tombol khusus memanggil para bodyguardnya dalam keadaan darurat. Saat itu juga, tombol itu terpencet oleh Gilang karena posisinya sempat oleng.
Semua orang yang menyaksikan tingkah Aura hanya bisa menahan senyum. Mereka juga tidak mau tertawa karena akan terkena hukuman dari Gilang.
"Aura, sekarang kamu berbalik deh!" ucap Gilang.
"Kenapa? Nanti kamu pergi dari aku lagi," ucap Aura lagi.
Dengan terpaksa, Gilang melepaskan pelukan Aura dan mengarahkan Aura pada para bodyguardnya. Seketika muka Aura merah padam. Ia langsung berjalan keluar dari ruangan Gilang. Sungguh, Aura tidak punya muka lagi di depan para bodyguard Gilang.
Padahal, saat tadi ia melihat semua orang keluar dari kamar rawat Gilang, Aura tidak tahu bahwa mereka semua sudah ada di depan Gilang. Dan sepertinya hanya Aura yang mengatakan bahwa ia mencintai Gilang, Gilang sendiri belum menjawabnya. Apakah itu artinya Aura ditolak oleh Gilang?
__ADS_1
Sungguh, ini adalah perbuatan yang sangat memalukan yang pernah Aura lakukan. Hanya karena takut Gilang menghilang lagi, Aura sampai melupakan gengsinya sendiri.
Tapi, biarlah itu menjadi pengalaman tersendiri untuk Aura saat Gilang menolak cintanya. Yang terpenting, Gilang tidak lagi menghilang begitu saja dan Aura sudah mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.
Berbeda dengan Aura yang masih malu atas tindakannya, tidak dengan Gilang. Senyum tak lepas dari bibirnya setelah pernyataan cinta dari Aura. Gilang tidak menyangka Aura akan berterus terang seperti itu padanya, bahkan di hadapan banyak orang, walaupun itu diluar sepengetahuan Aura.
Gilang yakin saat ini Aura pasti malu karena ketahuan mengungkapkan cintanya pada Gilang di depan banyak orang. Sudah dipastikan Aura pasti akan menghindari para bodyguardnya. Untuk sementara, Gilang akan memberikan Aura waktu untuk mengurangi rasa canggungnya pada para bodyguardnya.
Selama beberapa hari di rumah sakit, setelah Aura mengatakan cintanya, Gilang memerintahkan semua bodyguardnya untuk menghindar jika berpapasan dengan Aura, dan selama itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
Hari ini, Gilang sudah diperbolehkan pulang, dan ia ingin Aura mengantar kepulangannya. Namun, sampai detik Gilang sudah mau memasuki mobilnya, nyatanya Aura tidak muncul di depannya. Terus terang, Gilang kecewa karena setelah kemarin menyatakan cintanya, sekarang Aura malah menghindarinya.
Padahal, dari balik tiang rumah sakit, Aura menyaksikan kepergian Gilang dengan sedih. Entah Aura akan bertemu lagi dengan Gilang atau tidak. Bahkan Aura tidak punya alamat rumah Gilang, karena Aura berpikiran Gilang menolaknya.
Untuk kali ini, Aura akan berusaha keras untuk melupakan Gilang. Yang jelas, ia sudah lega mengungkapkan cintanya. "Ehm," seseorang menyadarkan Aura dari lamunannya, di sampingnya sudah berdiri dokter Fadli yang menelisik Aura dengan penuh selidik.
"Ih, dokter, apaan sih!" ucap Aura kikuk. Aura tidak mau semua orang tahu bahwa ia sudah ditolak oleh Gilang.
"Cinta itu memang penuh perjuangan, Ladies!" ucap dokter Fadli memberi motivasi kepada Aura untuk mengejar cintanya.
"Kalau yang berjuang sendiri, mana bisa dicapai, Dok!" balas Aura sambil menghembuskan napasnya dengan berat. Aura meninggalkan dokter Fadli begitu saja. Ia malas untuk sekedar menanggapi candaan dokter Fadli.
Aura segera pulang, merapikan semua alat kerjanya. Sepanjang perjalanan pulang, Aura banyak melamun. Hari ini dia memutuskan untuk menaiki taksi online, sedangkan motornya ia titip di rumah sakit.
Sebenarnya, mobil Gilang sudah mengikutinya sejak Aura naik taksi. Gilang ingin berbicara empat mata dengan Aura. Saat Aura sampai di tempat kos-kosannya, Aura segera turun dan membayar ongkos. Namun, tangannya dijegal oleh Gilang.
"Boleh kita bicara?" tanya Gilang. Aura melongo tidak percaya Gilang berada di depannya. Refleks Aura langsung mengangguk kepalanya. Gilang membawa Aura ke mobilnya dan mendudukkan Aura di samping kursi pengemudi. Dengan telaten, Gilang memasangkan seatbelt pada Aura, sedangkan Aura hanya diam menerima perlakuan dari Gilang.
__ADS_1
Aura merasa mobil yang sekarang ia tumpangi terasa tidak asing. Dan boneka yang tergantung di kaca depan mobil juga rasanya pernah Aura lihat. Aura mencoba mengingatnya, ingatannya tertuju pada malam saat ia salah menaiki mobil. Apakah saat itu orang yang duduk di bangku depan adalah Gilang? Aura kaget dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa mukamu kayak gitu?" tanya Gilang.
"Apakah kamu yang mengantarkan malam aku salah menaiki mobil?" dan sialnya, Gilang hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan dari Aura.
"Kenapa kamu selama beberapa hari menghindar dari aku?" tanya Gilang.
"Aku malu!" jawab Aura sambil tertunduk.
"Kenapa malu?"
"Karena kamu menolak cintaku!" seru Aura, membuat Gilang seketika menyemburkan tawanya.
"Siapa yang menolak cinta kamu?" tanya Gilang serius.
"Ya, kamu lah. Kan kamu diam aja waktu aku mengutarakan cintaku." ucap Aura sedih.
"Kamu terlalu cepat menyimpulkan sendiri," jawab Gilang dengan lembut.
Aura mulai berpikir dengan dalam apa maksud dari perkataan gilang. Ia tak mau terlalu cepat menyimpulkan maksud ucapan gilang.
Bisa- bisa aura akan malu sendiri jika ternyata pemikirannya salah.
" Jangan buat aku salah paham gilang!" Ucap aura.
" Apa yang bisa membuat kamu salah paham padaku, aura!" Balas gilang.
" Maksud dari ucapanmu gilang!" Jawab aura lagi.
__ADS_1
" Masih belum mengerti apa maksudnya? Kamu itu seorang dokter masa tidak paham." Tegas gilang.
{Bersambung}