Cinta Terakhirku

Cinta Terakhirku
SEMUA KARENAMU


__ADS_3

Dalam ke bimbangan ponsel gilang tak berhenti berdering dan suara ponselnya membuat aura terbangun. Dengan posisi masih berhadapan dengan gilang. Hal yang pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan gilang.


Wajah aura sudah memerah dan ia tersenyum cantik, membuat gilang semakin resah.


Gilang membelai pipi aura dengan lembut. Barulah aura mendapatkan kesadarannya penuh.


" Apa yang kamu lakukan?" Ucap aura sambil mendorong tubuh gilang.


" Kamu tidak ingat apa yang kamu lakukan padaku?" Tanya gilang ambigu.


" Emang aku ngapain? Trus kenapa kamu ada dikamarku?" Tanya aura penuh selidik.


" Tadinya aku cuma mau pamit, karena siang ini aku harus ke kantor, tapi seseorang malah menarikku untuk tidur di sini!" Goda gilang.


" Siiaappaa? Kalau kamu cuma mau pamit kenapa gak langsung pergi aja!" Jawab aura gugup. Ia sama sekali tidak ingat kejadian yang gilang maksud.


" Ya udah, aku pamit ya. Kamu jangan kemana- mana. Mungkin aku pulang agak telat." Ucap gilang menyudahi pembicaraan mereka. Lagi pula ponsel gilang berbunyi terus.


Sebelum pergi, gilang menberikan ciuman di kening aura dan ia menyodorkan tangannya untuk di cium aura. Dengan malas aura mencium punggung tangan gilang.


Gilang sungguh puas dengan apa yang aura lakukan. Walaupun aura masih menolaknya tapi ternyata aura tidak melupakan kewajibannya sebagai istri untuk selalu menghormatinya sebagai suami.


Lambat laun, gilang yakin aura dapat kembali kepelukan dan luluh padanya. Tinggal menunggu waktunya akan datang.


Gilang mengangkat teleponnya, ternyata asistennya meminta gilang untuk cepat datang, karena memang klainnya sudah tiba dari beberapa menit yang lalu.


Secepat kilat gilang menuju kantornya, dan beruntungnya jarak kantor dan rumahnya tidak terlalu jauh. Gilang sengaja mencari rumah yang dekat dengan kantornya agar saat ada hal seperti ini, ia bisa dengan cepat sampai kantornya.


Sementara aura masih terdiam di atas ranjangnya. Ada rasa sedih saat tahu gilang meninggalkan dirumah dan ada rasa yang menyelesup merasakan ciuman gilang di keningnya.


Hatinya mulai goyah, untuk menerima gilang kembali. Tapi kejadian di bali masih belum bisa aura lupakan.


Gilang pulang sudah sangat larut malam. Ia memasuki rumah dan mendapati aura sedang menonton televisi di ruang santai. Posisi aura terlihat tiduran di sofa dengan membelakangi gilang datang.

__ADS_1


" Belum tidur?" Tanya gilang sambil duduk di samping aura yang rebahan. Gilang juga melonggarkan dasinya dan membuka beberapa kancing bajunya.


Terlihat begitu seksi di mata aura, sampai- sampai mata aura tidak berkedip.


Gilang mengibaskan tangannya di depan wajah aura.


" Kenapa? " Tanya gilang heran karena aura hanya diam sambil melihat ke arahnya.


" Eh tidak apa- apa. Filmny lagi seru nanggung kalau ditinggal tidur." Alasan aura pada gilang. Padahal di depan sana tidak sedang menampilkan sebuah film. Malahan hanya acara komedi.


Gilang mengerutkan dahinya, aneh dengan jawaban aura. Sejenak ia sadar bahwa itu hanya alasana aura saja. Aura mungkin sengaja menunggu kepulangannya? Pikiran hati gilang.


" Udah malam, cepet tidur atau mau aku temenin?" Goda gilang pada aura.


Aura melengos dan saat akan menaiki tangga aura berhenti sejenak berbalik pada gilang.


" Apa kamu sudah makan?" Tanya aura kemudian. Sore tadi aura sengaja memasak untuk gilang, tapi ternyata gilang pulang sudah sangat malam.


" Kamu belum makan?" Tanya gilang balik.


" Ayo kalau begitu, aku juga belum makan." Padahal yang sesungguhnya adalah gilang sudah makam malam bersama dengan kliennya. Mendengar aura belum makan, sudah jelas aura menunggu dirinya. Jadi gilang berpura- pura belum makan untuk menyenangkan hati aura.


Mereka berdua menuju meja makan, sudah tersaji beberapa makanan yang memang kesukaan gilang. Dengan cekatan aura memanaskan makanan yang akan mereka makan.


" Kenapa bibi memasak banyak banget makanan malam ini?" Tanya gilang memancing aura. Padahal ia sendiri tahu bahwa bibi dirumah tidak akan memasak banyak makanan jika gilang tidak memintanya.


" Bukan bibi yang memasak tapi aku." Kata aura dengan masih sibuk menghangatkan makanan. Gilang tersenyum penuh arti.


Mereka makan dalam diam, sesekali gilang meminta aura untuk melayaninya. Dan sepertinya aura tidak keberatan akan hal itu.


" Aku besok akan pergi ke rumah sakit untuk praktek." Ucap aura setelah mereka selesai makan.


" Bagaimana keadaan kamu, apa sudah pulih sepenuhnya?" Gilang malah bertanya pada aura.

__ADS_1


" Ya aku sudah jauh lebih baik. Lagi pula aku sudah terlalu lama tidak masuk kerja. Bisa- bisa pihak rumah sakit memberhentikanku dari pekerjaanku." Keluh aura.


" Malah bagus jika rumah sakit memberhentikanmu, jadi kamu hanya akan fokus padaku saja." Jawab gilang dengan pelan.


" Apa kamu mengatakan sesuatu?" Tanya aura.


"Ehm... Pergilah besok ke rumah sakit, tapi ingat kamu tidak boleh terlalu lelah dan sampai dirumah sebelum aku pulang." Ucap gilang kemudian.


" Ish kenapa mesti ada syaratnya sih? Padahal kamu sudah berjanji setelah kita menikah kamu tidak boleh melarangku untuk bekerja, kenapa sekarang jadi berbeda?" Kesal aura.


" Akhirnya kamu mengakui status pernikahan kita." Ucap gilang, tidak memperdulikan protesan dari aura.


Memang saat pertama kali aura di beritahu tentang statusnya dengan gilang, aura menolak keras dan protes, sampai- sampai ayahya aura akan membatalkan pernikahan aura dan gilang.


Tapi dengan tak berdayanya gilang meminta pada pak seno untuk memberinya waktu, agar aura menerima pernikahan ini. Bu farma juga ikut meyakinkan suaminya agar memberi kesempatan pada gilang. Makanya sekarang mereka menyerahkan aura sepenuhnya pada gilang.


" Terserah ada atau pun tidak ada izin dari kamu, aku akan tetap bekerja dirumah sakit. Dan untuk syarat yang kamu katakan sebisa mungkin aku akan pulang sebelum kamu pulang." Ucap aura dan meninggalkan gilang sendirian.


Gilang hanya tersenyum puas akan sikap aura. Gilang yakin aura pasti mengikuti syarat yang ia katakan.


Gilang tahu benar bagaimana sifat aura. Jika aura sudah meminta izin padanya itu berarti aura akan mengikuti apa yang gilang mau.


Aura membanting pintu kamarnya dan menggerutu tentang gilang. Padahal tidak ada seorang pun di dalam kamarnya.


Gilang mengetuk kamar aura. Dengan alasan bahwa semua kebutuhannya masih ada di dalam kamar aura, gilang mencuri kesempatan agar bisa masuk ke dalam kamar aura.


Aura kira gilang hanya ingin mengambil pakaiannya saja, tapi ternyata gilang malah masuk kamar mandi dan mandi di sana.


Ingin marah, tapi ini memang rumah gilang. Jadi aura memutuskan untuk menunggu sampai gilang selesai.


Cukup lama gilang berada di kamar mandi, dan itu memang sengaja gilang lakukan agar aura tertidur lebih dulu. Harapannya terkabul saat keluar dari kamar mandi gilang mendapati aura sudah tertidur.


Tadinya aura memang ingin menunggu sampai gilang selesai, tapi lama- lama matanya terasa berat dan akhirnya aura tertidur.

__ADS_1


Gilang tersenyum penuh arti melihat aura yang sudah lelap. Ia naik ke atas ranjang dan tidur di samping aura. Urusan esok hari biarlah menjadi urusan esok hari. Yang terpenting malam ini ia dapat tidur sambil memeluk aura.


{ Bersambung }


__ADS_2