Cinta Terakhirku

Cinta Terakhirku
BAB. 32.


__ADS_3

Menyesal gilang membahas tentang pingitan, seperti kejadian beberapa tahun silam akan selalu aura ungkit.


Gilang menutup mulutnya rapat- rapat agar suasana romantis yang tadi tercipta tidak hilang karena pembahasan tentang pingitan.


" Ra, setelah kita nikah kamu mau tinggal bareng sama ibu dan dara atau kita pisah ( rumah sendiri )?" Bahas gilang mengalihkan pembahasan tentang pingitan.


"Aku sih gak masalah kalau harus tinggal bareng sama ibu dan dara. Tapi sebaiknya kalau kita udah berumahtangga kita tinggal di rumah sendiri." Jawab aura pelan takut gilang tidak menyetujui pendapatnya. Padahal gilang sendiri berencana untuk pisah dari orangtuanya. Tapi sebagai orang yang nantinya memimpin keluarga gilang juga ingin mendengar pendapat dari aura.


Pondasi rumah tangga adalah sikap saling menghargai dan saling terbuka antara suami dan istri. Itulah yang saat ini sedang gilang bangun.


Setelahnya tak ada lagi pembicaraan antara keduanya. Mereka berdua asik menikmati waktu menjelang hari pernikahan mereka.


****


H-3 aura masih praktek di rumah sakit, rencananya sore nanti ia akan pulang kerumah orangtuanya dan H-1 ia dan seluruh keluarganya akan bertolak kebali dimana tempat ijab kabul dan resepsi pernikahannya akan di lakukan.


Sore hari arfa secara khusus menjemput aura di rumah sakit. Ia tidak mau terjadi sesuatu hal yang buruk pada aura menjelang hari pernikahannya.


Selama seminggu ini aura dan gilang tidak saling bertemu, mereka berkomunikasi hanya dengan telepon saja. Tidak ada video call atau semacamnya.


Itupun jika hal yang dibahas gilang tidak terlalu penting aura akan mematikan teleponnya, membuat gilang geram bukan main.


Semua itu bukan tanpa sebab aura lakukan. Bu fatma dan calon mertuanya mengultimatum jika aura ketahuan berkomunikasi dengan gilang tanpa adanya hal yang tidak penting, pernikahan mereka akan di undur dengan waktu yang tidak tentu.


Terus terang saja aura takut akan ancaman tersebut, lebih baik ia bersabar sedikit dari pada nanti ia sendiri yang rugi.


Tapi tidak dengan gilang. Rasa rindunya pada aura tak membuat gilang takut akan ancaman ibunya atau pun calon mertuanya.


Menurutnya selagi bisa sembunyi- sembunyi dan tidak ketahuan maka semuanya akan aman. Gilang tidak tahu saja ada orang dari om nya yang mengawasi gerak gerik dirinya dan juga aura.

__ADS_1


Arfa dan aura tiba di rumah sudah larut malam. Saat arfa tiba terdengar suara tangisan bayi yang sudah satu setengah bulan yang lalu dilahirkan oleh sally.


Bayi cantik milik arfa yang di beri nama syakilla putri arnandi.


Satu setengah bulan yang lalu sally melahirkan seorang bayi cantik, dan sesuai keinginan mertuanya sally, arfa dan baby killa tinggal sementara di rumah bu fatma dan seno.


Semenjak kehadiran baby killa suasana dirumah menjadi sangat ramai, apalagi jika baby killa sudah menangis. Membuat seisi rumah jadi panik.


Seperti malam ini, tangisannya menyambut kedatangan aura dan arfa di rumah. Seolah bayi tersebut sedang marah pada papahnya yang dari siang pergi menjemput auntynya.


Suasana rumah jadi ramai, belum lagi kebisingan yang dibuat aura karena begitu senangnya bertemu dengan baby killa.


Setelah lamaran yang gilang lakukan, aura belum pulang kembali ke rumah. Karena memang banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum mengambil cuti nikah.


Jadi aura tidak sempat pulang ke rumah. Bahkan malam ini pertama kalinya aura bertemu dengan baby killa.


" Ih cantik banget sih keponakan aunty." Ucap aura sambil mendusel- dusel pipi chaby killa.


Malah tangisnya yang tadi menyambut kedatangan aura dan arfa, seketika diam saat aura menggendongnya.


" Kak kok baby killa cantik bangey sih! Aku juga mau ah, baby cantik kayak gini!" Celetuk aura. Membuat arfa begong.


" Memangnya kamu udah dp duluan?" Celetuk sally membuat semuanya menoleh pada aura.


" Ih kakak ini, ya gak lah! Maksud aku nanti setelah aku resmi nikah. Baru deh punya baby cantik kayak baby killa." Ucap aura membuat semua orang yang berada di sana jadi tenang.


" Rencananya besok gimana ra?" Tanya arfa tentang rencana kepergian mereka ke bali.


" Tenang aja kak, semua udah di siapin kok sama mas gilang. Kita tinggal berangkat aja. Nanti juga ada yang ngejemput kita ke bandara dan dibali juga kita nanti di jemput sama orangnya mas gilang." kata aura menerangkan ucapan gilang tempo hari.

__ADS_1


" Berarti kita gak perlu repot- repot lagi ya ra, gilang udah nyiapin semuanya." Ucap bu fatma menyakinkan apa yang aura katakan.


****


Siang hari keluarga aura menuju ke bandara dengan dijemput oleh supir yang dulu mengantarkan aura saat gilang melakukan lamaran romantis padanya.


Sepanjang perjalanan jantung aura berdetak dengan kencang karena esok hari ia akan merubah statusnya menjadi nyonya gilang.


Dan untuk pertama kalinya juga aura akan melihat wajah gilang setelah hampir seminggu mereka tidak saling bertatap muka.


Pesawat yang ditumpangi aura dan keluarganya mendarat mulus di bandar udara ngurah rai. Di sana juga sudah ada orang yang menjemput aura dan keluarga.


Beruntungnya baby killa tidak rewel sama sekali. Seolah bisa merasakan kebahagian sang aunty, baby killa juga selama perjalanan sangat riang.


Aura dan keluarga di antarkan ke hotel. Disana ibu gilang dan dara sudah menunggu kehadiran keluarga aura.


Dara yang memang sangat suka dengan baby killa langsung menggendong bayi tersebut. Saat membantu sang ibu mempersiapkan pernikahan gilang, beberapa kali dara berkunjung kerumah kedua orangtua aura dan bertemu dengan baby killa. Bahkan kadang dara tidak mau pulang saat bermain dengan baby killa.


Baby killa yang cantik dan gemoy membuat dara selalu gemas pada bayi tersebut. Belum lagi baby killa yang selalu anteng dan tidak rewel jika bermain dengan dara. Membuat dara betah lama- lama dengan killa.


Bu fatma yang tidak sengaja melihat kehadiran gilang langsung menarik aura menuju kamar mereka. Bahkan aura dilarang untuk menoleh ke kanan atau pun ke kiri.


Gilang yang memang sengaja datang cepat hanya untuk melihat wajah aura, jadi sedih karena baik calon mertua ataupun ibunya tidak mengizinkannya untuk melihat aura.


Padahal tadi untuk mengelabui sang ibu, gilang sampai berbohong bahwa dia masih berada di lokasi resepsi akan nikahnya besok. Padahal saat itu gilang sedang di jalan menuju hotel tempat aura dan keluarganya menginap.


Dari informasi anak buahnya gilang jadi tahu kedatangan aura, padahal sang ibu sudah merahasiakannya bahkan mengancam si supir yang menjemput aura untuk tidak memberitahu kapan aura tiba di bali.


Gilang hanya bisa menatap punggung aura dengan sedih. Rasa rindunya terhadap aura sudah sangat berat.

__ADS_1


Dara yang melihat tatapan kesedihan sang kakak bukannya prihatin, malah mengejek gilang. Membuat keduanya jadi bertengkar.


{ Bersambung }


__ADS_2