
Aura merebahkan dirinya dengan santai. Hari ini benar- benar hari yang melelahkan. Padahal dirinya tidak menyiapkan segala perlengkapan acara.
Semua sudah di handle oleh orangtuanya dan mertuanya. Tapi sungguh sangat melelahkan.
Gilang datang dan ikut rebahan di samping aura. Gilang memeluk aura dari belakang.
" Lelah?" Tanya gilang.
" Hem... Sangat lelah, aku gak nyangka acara tadi menguras seluruh tenaga aku." Keluh aura.
" Mau aku pijitin?" Tawar gilang.
" Apa mas gak lelah?"
" Aku juga lelah, tapi jika kamu mau aku pijit aku bisa kok!"
Akhirnya aura di pijit oleh gilang. Malah sekarang mereka bergantian memijit.
Tak terasa mereka berdua terlelap. Sampai malam tiba, keduanya masih nyenyak tertidur.
__ADS_1
Bu fatma mengetuk pintu kamar aura dan gilang. Bukan maksud menggangu tapi mereka berdua memang belum makan dari siang. Lagi pula stok ASI buat baby juga sudah menipis.
Sudah waktunya aura memberikan ASI nya. Gilang pertama terbangun mendengar ketukan pintu. Ia membuka pintu dan bu fatma berdiri di hadapannya.
" Iya bu ada apa?" Tanya gilang sambil mengucek matanya dan mengumpulkan kesadarannya.
" Turun ke bawah, untuk makan. Kalian belum makan dari siang. Dan bilang juga pada aura,stok ASI tinggal sedikit. Baby juga perlu susu."
Gilang hanya menjawab iya saja. Ia juga membangunkan aura. Sebelum turun untuk makan gilang dan aura mandi terlebih dahulu. Badan mereka juga sudah terasa lengket.
Baby menyambut kedua orangtuanya dengan riang. Tangannya menggapai minta di gendong oleh gilang.
Rencananya mereka akan pulang esok hari. Lagi pula beberapa hari kedepan dara sudah akan di sibukkan dengan rencana pernikahannya.
Dara juga meminta aura untuk membantunya mempersiapkan acara pernikahannya.
Acaranya akan di adakan dua kali. Satu di tanah air dan yang kedua di luar negeri. Negara di mana calon suami dara tinggal.
Apalagi calon suami dara merupakan putra tunggal dari keluarganya. Tentu saja keluarga besar calon suaminya ingin mengadakan pesta besar- besaran dan memperkenalkan dara sebagai anggota keluarga baru mereka.
__ADS_1
Aura tentu saja menyanggupi permintaan dara. Lagi pula dara juga keluarganya dan wajib bagi aura untuk membantu adik iparnya.
Tapi tentu saja gilang keberatan. Si posesif tidak mau aura kelelahan dan membuat aura sakit. Apalagi sekarang ada baby yang harus aura urus.
Tentu saja aura kesal dengan larangan gilang. Menurutnya apa salahnya jika membantu dara, lagi pula hal itu tidak dilakukan setiap hari.
Aura juga kasihan pada mertuanya jika harus mengurus semuanya sendirian. Lagi pula jika bukan ia yang membantu siapa lagi.
Sampai mereka kembali ke kamar mereka. Aura masih mendiami gilang. Ia masih kesal dengan gilang.
Gilang mendekati aura dan mencoba membujuk aura. Tapi aura tidak menanggapi gilang.
Tidak kehabisan cara, gilang menggelitik perut aura. Seketika tawa aura pecah, karena kegelian. Gilang tidak memberi ampun pada aura sampai aura mau memaafkannya.
Biasanya jika gilang sudah menggelitik perut aura, aura akan langsung menyerah dan memaafkan gilang.
Untuk hal yang tidak fatal, atau masalah yang gilang anggap ringan, gilang akan membujuk aura dengan menggelitiknya. Kecuali dengan kesalahan yang fatal. Menggelitik aura malah akan membuat aura semakin marah dan bisa jadi tidak memaafkan gilang.
{ Bersambung }
__ADS_1