Cinta Terakhirku

Cinta Terakhirku
KECEMBURUAN GILANG


__ADS_3

Aura dan baby arkan, begitu menikmati perjalanan mereka. Sama seperti ibunya arkan juga begitu antusias. Selama di perjalanan baby arkan sama sekali tidak rewel.


Berbeda dengan yang dirasakan oleh gilang. Ia benar- benar tidak nyaman. Perjalanan yang harus ditempuh selama tujuh belas jam tersebut membuat gilang sangat lelah dan karena mereka menaiki pesawat komersial gilang jadi tidak nyaman.


Selama ini ia sudah sangat capek harus bolak balik antara rumah sakit dan rumah samuel untuk menjaga ibunya.


Inginnya gilang selama perjalanan bisa berbaring di kasur. Jika dipesawat pribadinya di sediakan kamar untuk gilang istirahat, dan karena ia penerbangan komersil jadi ruang geraknya terbatas.


Aura melihat ketidaknyamanan gilang. Ia membenarkan posisi gilang yang tertidur pulas. Sedangkan dirinya sengaja menjaga baby arkan agar tidak menggangu tidur gilang.


Aura sama sekali tidak membangunkan gilang selama perjalanan. Ia membiarkan suaminya beristirahat dengan tenang.


Gilang terbangun karena suara yang asing ditelinganya. Samar- samar ia mendengar aura sedang berbincang dengan suara pria.


Gilang membuka matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk retina matanya.


Dan benar saja, aura sedang mengobrol dengan pria yang tidak dikenal gilang.

__ADS_1


Dengan cepat gilang merangkul bahu aura. Dan tentu saja aura terkejut mendapati gilang tengah merangkulnya.


Tadi aura ingin ke toliet, tapi tak ada orang yang dapat ia mintai tolong. Bahkan pramugari bahkan pramugara yang biasanya standby tidak aura lihat. Sungguh aura sudah sangat kebelet ingin buang air kecil. Sementara ia tidak mungkin meninggalkan baby arkan begitu saja.


Dan penumpang yang di belakang aura cukup penasaran dengan tingkah aura. Jadi ia bertanya pada aura siapa tahu ia bisa membantu aura. Dan di saat seperti itu gilang terbangun dari tidurnya.


Tanpa berkata apapun aura segera memberikan baby arkan pada gilang dan ia segera menuju toliet.


Sementara pria yang tadi menawarkan bantuan pada aura jadi canggung sendiri. Gilang juga menatapnya dengan tatapan permusuhan.


" Siapa pria tadi?" Tanya gilang ketus pada aura.


" Aku gak kenal, tadi dia menawarkan bantuan untuk sementara menjaga baby, karena tadi aku kebelet pipis." Ucap aura jujur.


" Kamu ingin menitipkan baby pada orang asing?" Tanya gilang kesal.


" Tentu saja tidak mas, mana mungkin aku akan menitipkan baby pada orang yang tidak aku kenal. Makanya tadi aku menolaknya." Terang aura.

__ADS_1


" Kalau kamu butuh bantuan kenapa tidak membangunkan aku? Kamu malah lebih percaya pada pria asing." Sindir gilang.


Aura sungguh sangat kesal dengan tuduhan yang diberikan oleh gilang. Bagaimana mungkin ia akan menitipkan baby pada orang asing, itu pun sudah aura jelaskan tapi ternyata sepertinya gilang tidak mau mendengar penjelasan aura.


Jadi aura memilih untuk diam dan mengalah. Lagi pula mereka sekarang ada di pesawat dan bukan hanya mereka yang berada di sana tapi juga penumpang lain yang tentunya akan terganggu dengan perdebatan mereka jika aura terus mendebat gilang.


Lagi pula ada baby yang tengah memperhatikan kedua orangtuanya.


Sesungguhnya aura teramat kesal dengan sikap gilang akhir- akhir ini, gilang terlalu over thinking padanya. Terlebih jika aura berinterkasi dengan lawan jenis.


Kecemburuan gilang bisa sangat besar, dan amarahnya pasti akan tinggi jika sudah seperti itu.


Aura juga sesungguhnya tidak mengerti dengan gilang saat ini. Ini bukan gaya gilang, biasanya ia akan sangat santai menghadapi pria yang dekat dengan istrinya tidak seperti sekarang ini langsung menyerang dengan terang- terang.


Sama seperti kejadian dihotel waktu itu. Aura akan membahas sikap gilang setelah mereka sampai rumah.


{ Bersambung }

__ADS_1


__ADS_2