
"Maksudnya apa ini, kemarin kan saya sudah menolaknya. Kenapa sekarang Anda menginginkan saya menandatangani pengalihan sertifikat rumah? Saya bilang saya ikhlas menolong Anda, Tuan!" Geram Aura.
Entah kenapa pasien yang satu ini begitu bebal memaksakan kehendaknya pada Aura, dan benar-benar membuat Aura geram. Dengan terpaksa, Aura mengikuti kemauan pasien tersebut. Namun, sebelum Aura meninggalkan ruang rawat pasien VVIP, Aura dengan cepat berlari dan menyingkap gorden yang menutupi sosok si pasien. Aura tentu saja shocked bukan main, mulutnya menganga tidak percaya dengan yang ia lihat saat ini. Bagaimana orang sakit bisa berpenampilan seperti itu di dalam ruangan pula? Pasien tersebut memakai masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya dan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Jelas Aura kecewa karena tidak dapat melihat muka asli si pasien VVIP.
Aura tidak dapat berkutik karena dua orang bodyguard memeganginya. Bahkan Aura saja benar-benar tidak dapat bergerak. "Ish, percuma tadi lari secepat kilat. Kalau tahu ia pakai masker dan kacamata hitam, tentu saja aku tidak akan nekad menerobos para bodyguard ini," gumam Aura dalam hati dan meninggalkan ruang kamar VVIP. "Lagi pula, kenapa sih tuh orang maksa banget buat aku nerima hadiah dari dia?" masih dengan bergumam.
Kebiasaan Aura, jika sedang ada hal yang mengganggu pikirannya, pasti akan berbicara sendiri. Jika orang yang telah kenal lama dengan Aura akan memaklumi bahwa hal itu tidak bahaya. Namun, jika dilihat oleh orang yang tidak mengenal Aura, bisa dianggap gila karena berbicara sendiri.
Aura kembali bertugas dan karena ia sangat penasaran dengan sosok pasien VVIP, Aura sampai nekad diam-diam mencari data pasien tersebut dari bagian administrasi. Di sela waktu istirahatnya, Aura mengendap-ngendap memasuki ruang administrasi di mana data-data pasien tersimpan. Baginya lebih mudah mencuri data daripada harus menghadapi para bodyguard yang badannya sebesar Hulk. Membayangkan untuk melawan mereka saja Aura sudah sangat ngeri, apalagi jika hal tersebut terjadi.
Aura berusaha bekerja secepat mungkin agar tidak ada yang memergokinya di sana. Jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Keringat mengucur deras di dahi dan di wajahnya. Aura begitu berusaha mendapatkan informasi pasien VVIP. Namun, sayangnya, hasilnya nihil tak ada satu pun data yang ia dapatkan. Apakah pasien tersebut begitu penting sampai pihak rumah sakit harus menyembunyikan identitas pasien tersebut?
Karena Aura merasa tidak ada hasil dari usahanya, Aura segera keluar dari ruang arsip. Ia juga tidak mau jika kepergok melanggar aturan rumah sakit. Akan tetapi, Aura terus saja penasaran dengan sosok tersebut. Apakah orang tersebut mafia, sehingga saat datang ke rumah sakit dengan luka tembak, dan pihak rumah sakit juga seperti menutupi keadaan pasien tersebut? Dan lagi, jika dilihat dari banyaknya bodyguard di sekitar pria tersebut, Aura semakin bertekad untuk tahu siapa sebenarnya pasien tersebut.
Saat Aura sedang berada di kantin rumah sakit, ia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa ada niatan untuk memakannya. "Hey, melamun saja!" tegur Dokter Fadli, teman seprofesi Aura di rumah sakit. "Ih, ngagetin aja, Dokter Fadli."
"Kenapa? Apa ada masalah? Saya perhatikan, kamu melamun saja, sampai-sampai makanan kamu sudah tidak jelas bentuknya," ujar Dokter Fadli. Aura menunduk dan melihat makanannya yang sudah berantakan.
__ADS_1
"Eh, kok jadi begini," ucap Aura sambil sibuk membersihkan mejanya.
"Ada apa sih?" ulang Dokter Fadli.
"Dok, Dokter kan menangani pasien VVIP, Dokter pernah liat wajah pasien yang waktu itu terkena tembak dipunggung dan saat itu saya yang operasi?" tanya Aura penasaran.
Dokter Fadli mengerutkan dahinya tanda ia berpikir dengan maksud ucapan Aura. "Maksud kamu bagaimana sih? Tahu wajahnya?" Aura segera menganggukan kepalanya. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Saya adalah dokter yang menangani pasien tersebut dan, tentu saja, saya tahu bagaimana wajahnya," ucap Dokter Fadli kemudian.
"Dia tidak menutup mukanya dengan masker, Dok, kalau Dokter sedang memeriksa?" tanya Aura membuat Dokter Fadli menjadi aneh.
"Lho, memang kenapa dia harus menutup mukanya? Dia seperti pasien pada umumnya dan tidak ada yang berbeda. Kamu kenapa sih?" tanya Dokter Fadli.
"Pasien itu tampan kok, malah tampan banget," ucap Dokter Fadli tiba-tiba.
"Dok, boleh tidak saya ikut Dokter saat nanti memeriksa pasien tersebut?" tanya Aura hati-hati.
"Ah, kamu sih, sok-sokan tidak mau menangani pasien tersebut, padahal sedari awal dia itu pasien kamu," ucap Dokter Fadli kemudian.
__ADS_1
"Boleh ya, Dok?" rayu Aura dengan mata puppy eyes-nya. Jika Aura sudah memakai teknik mata panda ini, semua orang pasti luluh.
Dokter Fadli mengangguk. "Nanti sore jam empat, saya ada kunjungan ke pasien VVIP tersebut. Kalau kamu mau, ikut datang ke ruangan saya sebelum jam empat," ucap Dokter Fadli.
Dengan cepat, Aura mengangguk, dan satu rasa penasarannya akan terpuaskan nanti sore. Berarti dia harus segera menyelesaikan prakteknya di poli.
Dengan cepat Aura menghabiskan makanannya. Ia bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Dokter Fadli hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aura. Dokter Fadli adalah dokter senior di rumah sakit itu. Ia salah satu dokter yang dekat dengan Aura. Umurnya yang tidak berbeda jauh dengan ayah Aura menjadikan Aura akrab dengannya. Lagi pula, Aura banyak belajar dari Dokter Fadli saat pertama kali bergabung dengan rumah sakit di mana Aura sekarang praktek.
Aura meminta suster untuk membatasi pasiennya hari ini. Ia tidak mau melewatkan kesempatan yang sudah diberikan oleh Dokter Fadli. Sebelum jam empat, Aura telah selesai menangani pasiennya. Untuk pasien yang tidak dapat dilakukan cek up hari ini, Aura akan mengalihkan pada hari esok. Masih dengan rasa penasaran yang tinggi, Aura berharap nanti sore dapat melihat wajah asli dari pasien VVIP tersebut.
Aura sudah berada di ruang dokter Fadli. Dia terlihat berbeda, memakai hijab dan menutupi wajahnya dengan masker. Aura khawatir jika pasien VVIP tersebut tahu dirinya akan datang bersama dokter Fadli, nanti si pasien akan menutup lagi wajahnya.
Sekarang, rombongan dokter Fadli dan Aura sedang menuju ruang pasien VVIP. Aura sebenarnya sangat takut jika dia nanti ketahuan, tapi rasa penasarannya membuatnya nekad. Sesampainya di depan ruangan pasien, mereka dihadang oleh bodyguard karena Aura ikut serta. Biasanya dokter Fadli hanya didampingi oleh satu perawat dan suster, sehingga kehadiran Aura membuat para bodyguard merasa waspada.
Beruntungnya, dokter Fadli dapat menjelaskan bahwa Aura adalah dokter pendamping. Dengan enggan mereka akhirnya mempersilahkan mereka masuk.
Di dalam ruangan, ada seorang pria dengan perban dipunggungnya yang membelakangi rombongan dokter Fadli dan Aura. "Bagaimana keadaannya hari ini, Tuan?" tanya dokter Fadli. Dan dengan pertanyaan tersebut, si pasien menoleh.
__ADS_1
"Aigoo!" Aura kaget bukan main melihat siapa yang berada di depannya.
{bersambung}