
Saat Mahda berhasil merebut kembali ponsel nya, ia segera membuka aplikasi keungu-unguan milik nya. Sementara Sofia, wajah nya terlihat tegang, pucat pasi menatap Mahda.
Mahda yang terlihat ceria tiba-tiba mimik muka nya berubah sendu hanya sepersekian detik kemudian. Tangan nya bergetar hebat, mata nya mulai berkaca-kaca dan butiran kristal meluruh dengan deras tanpa permisi.
"I-ini gak bener kan Sof?" tanya Mahda penuh sesak.
"Gue tau lo sakit, tapi lo mesti nerima kenyataan Da. Dia bukan yang terbaik" tutur Sofia sembari merengkuh tubuh Mahda yang mulai goyah.
"Kenapa mesti sama Aliya? Dia temen gue loh, Sof, hiks" timpal Mahda di sela tangis nya yang semakin menjadi.
Sofia terdiam.
"Pa-dahal gue udah berusaha perbaikin diri gue, gue gak minta di nikahin sekarang, toh gue juga masih mondok, gue cuma minta kepastian doang, biar langkah gue tenang. Apa gue terlalu egois ya, dia gak betah, ilfil sama gue?" sambung Mahda.
"Yang jelas dia bukan jodoh lo Da. Justru sekarang langkah lo lebih tenang, lebih bebas" satu kalimat penuh penekanan yang Sofia ucapkan.
"Gak bisa gitu juga, maksud nya apa? Hawiyan (pacaran) sama gue tapi nikah sama Aliya" tutur kata Mahda penuh emosi.
"Dua tahun hubungan sama gue, gue suport dia selama dia di pondok, gue dengerin keluh kesah dia, gue turutin apa yang dia kata, suruh nunggu gue tunggu, suruh sabar gue berusaha, ujung-ujung nya nikung ke sohib gue sendiri" sambung Mahda dengan mengusap air mata yang hampir kembali meluncur di pipi nya.
Sofia pun mengurai pelukan nya setelah mendapati Mahda sedikit lebih tenang.
"Lo udah tau?" tanya Mahda mendelikan mata nya pada Sofia.
"Baru tau kemaren pas gue ke rumah jiddah Ita" lirih Sofia dengan menundukan kepala nya.
"De.." sapa Aly yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Beik.." jawab Mahda dan dengan cepat menghapus bekas air mata nya.
"Pindah ke ghurfah (kamar) gih ! Udah malem, nanti keliatan sama Yemma, sama Yebba" titah Aly.
"Abang tau?" tanya Mahda kembali sesak.
"Yang terbaik akan datang pada waktu yang tepat de. Gak usah terlalu mengejar, tidak semua yang kamu kejar itu akan menjadi milik mu" tutur Aly lembut.
Mahda diam dan berfikir sejenak.
Bentar-bentar, jadi dari tadi bang Aly kaya ngelarang aku main hp karna ini? Bang Aly tau ini?
Batin Mahda.
"Abang.." tiba-tiba Mahda melompat dan memeluk kaki Aly. Menangis sejadi-jadi nya menyadari bahwa abang nya yang terlihat cuek dan dingin tersebut ternyata memedulikan nya.
"Makasih abang udah peduli sama ade, gue gak tau lo sesayang itu sama gue bang, huhuhu" ucap Mahda di hiasi tangis nya.
"De, apa-apaan sih, lepasin, malu tau di liatin Sofia" ucap Aly yang kaku karna kaki nya di peluk erat oleh Mahda.
"Pokok nya ade ngucapin makasih banget sama elu bang, huhuhu. Cuek-cuek gitu ternyata ngelindungin ade nya yang cantik ini ya, hiks" ucap Mahda lagi.
Aly yang tak diam dengan kaki di peluk Mahda akhir nya terjatuh menjungkal. Beruntunglah ruangan tersebut memakai karpet yang cukup tebal, menyelamatkan bokong Aly yang lumayan tepos tersebut.
Melihat Aly kesakitan Mahda seger melepaskan kaki Aly dan beranjak pergi setengah berlari dari ruangan tersebut di ikuti Sofia yang mengekori di belakang nya.
"Ma'af dan terima kasih bang" teriak Mahda di sela-sela langkah kaki nya
*****
__ADS_1
"De.." panggil Haniyah dari luar kamar.
"Beik.." jawab Mahda.
Dengan langkah gontai Mahda membukakan pintu kamar nya, mempersilahkan masuk wanita yang beridiri di ambang pintu dengan tatapan sendu. Sedangkan Sofia, subuh tadi ia dengan terburu-buru pamit pulang karna ada urusan mendadak.
"Di kamar terus sih, ada apa?" tanya Haniyah lembut.
"Gak papa ko Ma, Mahda cuma pengen rebahan, mumpung di kasih libur sama Yebba" jawab Mahda lirih dengan kembali membaringkan badan nya di atas tempat tidur nya yang empuk tiada tara.
"Yakin? Gak harat (bohong) nih?" tanya Haniyah menelisik.
"Iya Ma" jawab Mahda singkat.
"Yemma tadi telpon, ko gak aktif hp nya?" tanya Haniyah lagi.
"Oh itu, mm-hp nya mati Yemma" jawab Mahda asal.
Haniyah merenyutkan dahi nya melihat anak gadis nya tak seceria biasa nya. Mahda yang bawel bahkan acap kali beradu mulut dengan sang ibu.
Haniyah semakin mendekat dan mencoba merebut bantal besar yang tengah Mahda peluk, menampakan wajah nan ayu namun terlihat sendu, mata bengkak dan bola mata memerah.
"Hey nak, kenapa sembab gitu?" tanya Haniyah masih menunggu Mahda untuk jujur.
"Gak papa ko Ma" Mahda masih mengelak.
Haniyah meraih tangan Mahda dan menarik nya bangun lalu memeluk nya dengan erat. Mengusap pelan punggung Mahda.
"Jangan terlalu di bawa hati de. Inget ! Perkara jodoh itu rahasia Gusti Alloh. Seberapa keras Mahda ngejar, kalo bukan hak milik rezeki Mahda gak bakal ke tangkep, begitu juga dengan Haidar. Wes ah, gak usah hawi-hawiyan gitu dulu. Lihat nih Yemma, tanpa mengejar pun Yebba yang kelepek-kelepek ngejar Yemma" tutur Haniyah.
"Yemma tau?" tanya Mahda sedikit terkejut dan segera melepaskan pelukan Haniyah.
"Sejak kapan?" tanya Mahda lagi.
"Baru kemarin, di acara" jawab Haniyah.
"Ma'af.." cicit Mahda.
Haniyah tersenyum tak menjawab.
"Tapi rasa nya sakit Ma. Kemarin pas dia bilang udahan Mahda biasa aja, tapi pas tau dia tunangan sama temen Mahda sendiri ko rasa nya sesakit ini" tiba-tiba Mahda menangis seraya bercerita pada Haniyah.
"Sudah jadi mantan kan? Tak usah terlalu di pikirkan ! Belum ada ikatan yang sah, yang resmi, kalau suami ada yang gaet baru Mahda pasang badan" jelas Haniyah dan mencolek gemas hidung Mahda yang sama mancung nya dengan diri nya.
"Yemma pernah gak, Yebba ada yang mau rebut?" tanya Mahda serius.
"Pernah, dan itu teman Yemma sendiri" jawab Haniyah.
"Waw fantastis. Kita sama Yemma" ucap Mahda seketika girang mengetahui nasib nya sama seperti Yemma nya. Beda nya dia pacar, dan Yemma adalah suami nya.
Haniyah tersenyum melihat anak gadis nya tertawa terbahak-bahak sepersekian detik setelah ia menangis.
*****
Flasback on
"Ba, ayo buruan, nanti ketinggalan loh acara nya" ajak Haniyah sambil terus memasangkan phasmina nya.
__ADS_1
"Iya iya, ini berangkat" jawab Zein.
"Mau kemana Ba?" tanya Aly yang heran melihat Yemma nya rusuh.
"Oh ya, Yebba pergi dulu, ngehadirin yang khithbah" jawab Zein.
"Siapa yang khithbah bulan Romadhon gini?" tanya Aly lagi.
"Haidar sama Aliya bang. Yebba pergi dulu ya. Assalamu'alaikum" pamit Zein.
"Wa'alaikum salam" jawab Aly.
Sementara di luar..
"Ba, ayo" ajak Haniyah tak sabar.
Zein dengan santai berjalan menuju mobil.
"Baba ko kesitu?" tanya Haniyah kesal.
"Lah, naik mobil kan?" tanya balik Zein.
"Motor aja Ba, biar cepet" saran Haniyah.
"Mobil aja ma, biar gak masuk angin" saran Zein lagi.
"Motor aja ayok ! Ini Yamma udah bawa kunci nya" keukeuh Haniyah.
Zein mengalah dan menuruti apa kata sang istri. Berdua menaiki motor berbadan besar tersebut. Sementara sang istri memeluk nya erat.
Sesampai nya di tempat acara, terlihat para tamu undangan sudah hadir memenuhi rumah Aliya. Haniyah duduk di samping bu Rina, yang tak lain adalah ibu nya Sofia.
"Sofia mau nginep di rumah bu Nyai kata nya ya bu, ma'af nih suka ngerepotin ya anak itu" ucap bu Rina.
"Oh, eh gak papa bu, justru saya seneng Mahda ada temen nya" jawab Haniyah.
"Kasian juga Mahda ya bu" lirih bu Rina.
"Kasian kenapa bu?" tanya Haniyah penasaran.
"Loh, bu Nyai gak tau?" tanya balik bu Rina dengan expresi terkejut.
"Enggak. Kenapa sih bu? Jadi penasaran saya" tanya lagi Haniyah.
"Ini Haidar, yang mau tunangan sekarang, kan dulu nya pacaran sama Mahda loh bu, dan sekarang malah tunangan sama Aliya, temen nya sendiri. Kasian kan bu, pasti sakit tuh Mahda, kalau kata anak zaman sekarang mungkin Mahda lagi galau" jelas bu Rina yang membuat nya terkejut.
"Pacaran? Sejak kapan ya bu?" tanya Haniyah semakin penasaran tentang hubungan anak gadis nya.
"Sekitar 2 tahunan lah bu kalau gak salah. Emang bu Nyai gak tahu?" balik tanya bu Rina.
Haniyah menggeleng tanpa menjawab. Dan tak lama kemudian acara pun di mulai.
Kisah nya hampir mirip sama Yemma kamu de. Yebba sama Lala, dan Haidar sama Aliya.
Batin Haniyah.
Flashback off
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀
Definisi mencintai tanpa harus memiliki adalah kasta tertinggi cinta. Melepaskan namun tetap mendo'akan 💔