
Mahda di bantu Vivi membawa tas besar berisi pakaian nya, sementara Mahda menggendong Sulthan. Berjalan perlahan menuju parkiran tempat mobil Mahda berada.
Tiba-tiba langkah nya terhenti saat beberapa langkah lagi Mahda dan Sulthan sampai di mobil nya. Mahda tertegun seketika. Diam tanpa sepatah kata pun.
Menatap nanar seseorang di depan sana yang seperti tengah menanti diri nya. Mahda menghembuskan nafas kasar lalu kembali berjalan ke arah mobil nya.
"Gue duluan ya Da" pamit Vivi setelah menyimpan tas Mahda di mobil nya.
"Iya, syukron ya" balas Mahda.
Mahda sebisa mungkin menetralkan hati nya yang sudah tak karuan. Menentang keras air mata nya turun begitu saja.
"Ma'af" lirih seseorang di samping nya.
Mahda dengan cepat menepis tangan yang baru saja menyentuh tangan nya.
"Kita bukan muhrim" ucap Mahda cepat dan satu tangan nya menahan agar Ahmad tak memaksa memegang tangan nya lagi.
Ya, orang itu Ahmad. Entah kenapa bisa mereka sama-sama di pesantren ini dalam waktu bersamaan.
"Ma'afkan ana" lirih Ahmad lagi.
"Untuk?" tanya Mahda sebisa mungkin ia berucap datar. Tak ingin menunjukan sisi lemah nya di hadapan orang yang kini telah menjadi mantan suami nya.
"Menjadi seperti ini" jawab Ahmad.
"Kita tak berjodoh. Jangan di risaukan !" timpal Mahda masih datar, namun hati nya mati-matian ia tahan agar tak kembali membuncahkan kepedihan.
Sementara itu Zein, Haniyah beserta Aly juga tengah berjalan ke arah mobil mereka. Namun langkah nya terhenti saat mereka melihat Mahda tengah berbicara dengan Ahmad.
"Biar abang yang kesana Ba" ucap Aly menahan agar Yebba nya tak menghampiri Mahda dan Ahmad.
Aly takut jika emosi Yebba nya tiba-tiba tak terkendali dan terjadi apa yang tidak di inginkan.
Aly pun berjalan menghampiri Mahda yang berdiri di ambang pintu mobil. Ahmad yang melihat kedatangan Aly pun segera menjabat tangan Aly, menyalami nya. Bagaimana pun Aly pernah menjadi kakak ipar nya, ia menghormati nya meski umur nya jauh di atas Aly.
"Ana minta ma'af bang" ucap Ahmad penuh ketulusan.
__ADS_1
"Yang berlalu biarlah berlalu" timpal Aly.
Ahmad terdiam sejenak.
"Apa ada yang mau di bicarakan?" tanya Aly.
Ahmad faham dengan pertanyaan Aly. Ia yakin, Aly tak akan semena-mena mengizinkan Mahda berduaan dengan lawan jenis.
"Apa Yebba dan Yemma juga kesini?" tanya Ahmad.
"Tentu" jawab Zein yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
Mahda gelagapan melihat Yemma dan Yebba nya datang. Takut kehawtiran nya terjadi seperti apa yang ia bayangkan.
Aly menggiring semua nya menuju ruang khusus tamu, memberikan ruang agar Ahmad bisa menyelesaikan semua nya.
"Kenapa gak dateng ke rumah?" tanya Zein saat semua nya baru saja duduk di ruangan tersebut.
"Ana mohon ma'af Yebba" jawab Ahmad.
"Ana kira memasrahkan Mahda pada antum adalah pilihan yang tepat, secara antum meminta Mahda lebih ke setengah memaksa. Tapi jatuh nya seperti di permalukan, di campakan" tutur Zein.
"Itu yang ana tunggu dari dulu" sambung Zein tetap terlihat tenang.
"Ibu ana sakit" ucap Ahmad lirih.
"Lalu? Kenapa gak ngasih tau Mahda dulu?" tanya Zein lagi.
"Dulu, ibu ana sering mendesak agar ana cepat menikah. Waktu itu pula ibu ana pernah berpesan agar ana menikah dengan anak teman nya. Semua itu sudah di rencanakan dari dulu, ana sempat maju tapi dia menolak, tapi waktu ana berniat ke Mahda dan acara lamaran sudah terjadi tiba-tiba dia datang, jujur ana bimbang. Ibu yang tau akhir nya terus memaksa ana agar tetap menikahi anak teman nya, sedangkan ana sudah jelas melamar Mahda. Waktu pulang ke rumah awal nya niat ana emang mau nyelesein supaya ibu bisa menerima pernikahan ana, mau ridhoin ana sama Mahda, ternyata ibu tetap pada pendirian nya. Ana di suruh menikahi dua-dua nya. Ana mikir kalau begitu akan lebih menyakiti Mahda. Setelah itu ibu sakit, permintaan nya terus menerus agar ana menikahi dia, dan ma'af semua nya gak bisa ana tolak lagi. Semakin ana menolak ibu semakin menjadi. Ana mohon ma'af, ana tak pantas buat Mahda" jelas Ahmad dengan hati-hati.
"Memang tak pantas, laki-laki gak punya hati ngeduain anak saya begitu saja. Lebih baik dulu sebelum pernikahan di bicarakan, bukan setelah nya. Kalau tahu dari dulu pasti ana gak akan menikahkan Mahda sama antum. Ibu antum sendiri yang meminta Mahda, kenapa malah ujung-ujung nya nyakitin Mahda?" cerocos Zein yang mulai tersulut emosi.
"Ma'af" lirih Ahmad lagi sambil menunduk.
"Jadi sekarang antum sudah menikahi wanita itu?" tanya Zein lagi.
"Belum. Saya hanya baru mengiyakan permintaan ibu dan keluarga nya, belum melaksanakan nya" jawab Ahmad.
__ADS_1
"Ana tunggu undangan antum Mad" timpal Zein cepat lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Dada nya bergemuruh menahan sesak karna kesal. Amarah dan sakit menjadi satu.
Haniyah di ikuti Mahda berjalan menyusul Zein. Sementara Aly masih duduk bersama Ahmad. Menatap Ahmad dengan sorot pandang yang sulit di artikan.
Kenapa tatapan nya seperti kosong?
Batin Aly.
🥀🥀🥀🥀🥀
Perempuan dengan hidung mancung terlihat tengah mengikat surai cokelat nya. Merapihkan kembali sebelum ia melilitkan phasmina hitam yang akan ia kenakan. Mata bulat dan bulu mata yang lentik menambah cantik paras ciptaan Tuhan yang satu ini. Mengoleskan sibak hitam nan tebal menambah tajam sorot mata nya.
Bismillah.
Lafal pengawal saat ia hendak melangkahkan kaki berangkat menuju pesantren kakek nya. Senyuman manis mengembang di bibir nya seiring langkah kaki menapaki tangga.
"Kakak pamit dulu ya Ma, Ba" pamit Mahda seraya mencium ke dua tangan orang tua nya secara bergantian.
Haniyah mengangguk mengiringi kepergian Mahda menjalankan rutinitas nya saat ini.
Mahda tampak lebih ceria dan bebas tersenyum setelah mendengar penjelasan Ahmad. Rasa sesak yang selalu memenuhi rongga hati nya perlahan memudar. Ikhlas adalah cara nya menjalani hidup. Kecewa pasti ada namun kembali lagi pada takdir yang sudah tertulis.
Mahda pun lebih bersyukur seperti ini, bisa ia bayangkan jika harus mempunyai madu, terlebih sang mertua lebih menyetujui Ahmad dengan wanita tersebut.
*****
"Kakak yakin mau ke sana lagi?" tanya Haniyah meyakinkan.
"Di sana banyak temen Ma. Mahda jadi gak nganggur terus kan, di sana pasti ada kesibukan tiap waktu nya" jawab Mahda mantap.
Sore tadi Ummuna menghubungi Zein dan meminta izin agar Mahda kembali ke pesantren milik nya. Menyelesaikan kelas takhasus nya seperti rencana awal.
Zein tak langsung mengiyakan, ia akan terlebih dahulu memusyawarahkan nya dengan Mahda. Zein tak ingin memaksa apa-apa lagi pada putri satu-satu nya tersebut. Cukup kemarin menjadi pelajaran karna tak mendengarkan pendapat dari Mahda terlebih dulu.
Haniyah awal nya hawatir, takut Mahda menolak, bisa saja karna trauma atau minder dengan kejadian kemarin. Tapi tak di sangka Mahda malah menyetujui nya begitu saja.
__ADS_1
☘☘☘☘☘
Gimana nih mak, mau nimpuk Ahmad apa mau di ulek aja?😄