
Keadaan memang tak setegang tadi malam, Mahda sudah mulai menjalankan tugas nya sebagai seorang istri. Pun dengan Syihab yang terlihat santai tengah menyesap teh di sofa kamar mereka.
"Da" panggil Syihab lembut.
"Beik" jawab Mahda yang baru saja masuk ke kamar setelah menemui Yemma nya di bawah.
"Sini, duduk di sini!" titah Syihab dengan tangan menepuk kursi yang masih kosong di sebelah nya.
"Mmm, ana di sini aja" tolak Mahda dan memilih duduk di atas tempat tidur.
Syihab tersenyum dan balik menghampiri Mahda yang masih terlihat canggung, namun tak secanggung tadi malam.
Syihab berjongkok di handapan Mahda dan mencoba meraih tangan Mahda. Namun dengan cepat Mahda menarik tangan nya, masih ada rasa keterkejutan saat tangan lain menyentuh nya.
"Ana suami antum sekarang" ucap Syihab lembut dan meraih tangan Mahda.
Tangan mulus meski setiap hari mencuci baju di pondok. Berkutat dengan berbagai macam sayuran di dapur, juga cucian dandang yang menanti giliran di sentuh oleh nya.
"Al'afwu, belum terbiasa" timpal Mahda.
"Boleh cium?" izin Syihab.
Mahda tak bergeming, ia seperti tengah berfikir jawaban apa yang pantas di lontarkan.
"Cium tangan" sambung Syihab membuyarkan lamunan Mahda.
"B-boleh" jawab Mahda ragu-ragu.
Sepersekian detik kemudian, bibir tipis nan ranum milik Syihab mengecup lembut tangan Mahda. Mengecup nya lama seolah tengah mencurahkan rasa dan menghirup aroma. Memberikan sentuhan yang mampu menggetarkan jiwa dan hati nya.
"Terima kasih sudah mau nerima ana" ucap Syihab dengan mata memancarkan penuh cinta pada Mahda.
Menatap Mahda yang masih memandang nya tanpa ekspresi.
"Dan terima kasih sudah memilih ana" timpal Mahda dengan senyum manis nya.
"Kita di jodohkan" tekan Syihab.
"Tapi antum lebih dulu menyukai ana, bukan begitu?" tutur Mahda namun seperti ledekan bagi Syihab.
"Kata siapa?" tanya balik Syihab dengan sedikit menekan senyuman nya.
"Kata abang" jawab Mahda santai.
Blusshh..
Wajah Syihab memerah, menahan malu karna tau bahwa sang istri sudah mengetahui tentang perasaan nya sejak lama. Syihab langsung mengurai pegangan tangan nya pada Mahda, merasa malu jika saja boleh jujur.
Mahda terkekeh geli melihat mimik wajah Syihab yang tiba-tiba berubah.
"Gak usah cemberut, muro'bal (jelek) jadi nya" ucap Mahda dengan mencubit sedikit pipi Syihab.
"Gemesin banget sih" sambung Mahda dan kini hidung mancung Syihab yang menjadi sasaran nya.
Entah dari mana keberanian itu datang, tadi malu-malu sekarang malu-maluin. Fikir nya.
"Hey, nakal ya" timpal Syihab sambil meringis karna merasakan mules di hidung nya akibat perbuatan Mahda.
__ADS_1
Syihab beranjak dan menggelitik tubuh Mahda. Mahda menggelinjang kala jari-jari jahil Syihab terus menggelitik perut dan pinggang nya.
"Aawww, ahhhh, geli tau kak, stop!" rengek Mahda setengah berteriak.
Haniyah yang hendak mengetuk pintu kamar Mahda seketika mengurungkan niat nya mendengar Mahda yang tengah bercanda dengan Syihab.
"Please stop kak, geli!" rengekan Mahda semakin menjadi.
"Ada syarat nya" ucap Syihab mengakhiri.
"Apa?" tantang Mahda.
"Cium pipi ana!" titah Syihab.
Mahda terdiam, mana mungkin ia mencium terlebih dahulu.
"Gak ah, ngaco, ana aja be-
Cup
Satu kecupan mendarat di pipi mulus Mahda. Syihab yang baru saja melancarkan aksi nya tersenyum penuh kemenangan.
"Tuh udah di cium, sekarang tinggal ana yang belum" ucap Syihab menagih bagian nya.
"Tapi.." timpal Mahda ragu-ragu.
"Bukankah yang inti belum bisa? Sebagai awalan dulu mungkin gak papa" sambung Syihab lagi.
Awal nya Mahda ragu namun akhir nya ia memaksa, memberanikan diri, dan
Cup
"Terima kasih sayang"
Cup
Syihab kembali mencium Mahda.
"Boleh minta sesuatu?" cicit Mahda.
"Apa sayang?" tanya Syihab.
Mahda menoleh saat Syihab memanggil nya sayang. Ada rasa yang menggelinyir aneh dengan debaran hati yang tak beraturan kala kata tersebut terdengar.
"Rahasiain dulu tentang pernikahan ini" pinta Mahda lirih.
"Kenapa? Apa malu nikah sama ana?" ada gurat kecewa di wajah Syihab. Padahal ia sudah sangat senang dan bersemangat akan memproklamirkan bahwa Mahda adalah istri nya.
"Tau sendiri lah mba-mba kaya gimana, yang udah tau gak papa, yang belum biar tau sendiri nya nanti" jelas Mahda.
Syihab terdiam sebentar, mencerna perkataan Mahda.
"Ya kher" timpal Syihab mengalah.
Tak apa untuk sementara di rahasiakan, tak memproklamirkan secara umum tentang pernikahan nya. Yang terpenting kini Mahda sudah menjadi milik nya.
*
__ADS_1
*
4 hari setelah acara, Mahda berangkat terlebih dahulu di antar supir pribadi Yebba nya, serta Aly yang berangkat bersama. Sedangkan Syihab, ia izin berangkat belakangan karna harus mengurus usaha nya terlebih dahulu.
Ada rasa berat kala harus berangkat tanpa suami nya. Beberapa hari bersama nya dan kini tak bersama serasa ada yang hilang.
"Ngelamun terus, kenapa, kangen?" tanya Aly membuyarkan lamunan Mahda.
"Isshh, gak juga. Cuma ngantuk" kilah Mahda.
"***** banget kamu kak" cibir Aly.
Sementara Mahda mulai menutup ke dua mata nya perlahan. Mulai merangkai mimpi tanpa memperdulikan perkataan sang abang yang masih saja bawel di samping nya.
.....
Syihab tengah bersiap dengan stelan celana jeans di padukan hoodie cokelat, menambah gagah jika di pandang.
Setelah melepas keberangkatan Mahda, Syihab pamit pada ke dua mertua nya untuk pulang guna mengecek usaha yang tengah di rintis nya. Untung saja suruhan orang tua nya sudah mengantarkan motor kesayangan nya, honda CBR.
Menunggangi motor hitam, Syihab membelah jalanan kota menuju tempat usaha nya yang pertama. Sebuah kedai yang menjual berbagai makanan kekinian namun tetap memilih menu yang sudah mendapat izin dan layak.
Urusan nya lancar, pemasukan bahkan semakin meningkat. Kini ia berencana mengunjungi butik yang baru di rintis nya 1 tahun terakhir, menyediakan berbagai macam abaya juga gamis lain nya, sebagian mengimport dan sebagian nya lagi memproduksi sendiri dengan bahan kain premium pula, semisal fursan silk, galaxy nida, dan yang lain nya.
Selesai dengan urusan nya Syihab berniat kembali ke rumah orang tua nya dan berencana berangkat besok pagi ke pesantren menyusul istri dan kakak ipar nya.
Mengendarai si hitam dengan kecepatan lumayan kencang, seperti tak sabar untuk hari esok.
*
*
Mahda dan Aly tiba di pondok saat waktu menunjukan pukul 1 siang hari. Sedari di mobil Mahda merasa tak enak hati, ada rasa gelisah terus mengusik hati nya.
"Kenapa kak?" tanya Aly memastikan Mahda yang terlihat terus gusar.
"Gak papa, gak enak terus perasaan dari tadi" jawab Mahda.
"Efek jauh dari suami kali" ledek Aly.
"Ihhh, sawa bang" kesal Mahda dan berlalu meninggalkan Aly menuju asrama.
Tiba di dalam asrama tentu saja ucapan selamat atas pertunangan silih berganti di dapatkan Mahda. Hampir kewalahan menjawab rasa nya.
Lelah karna pejalanan, Mahda langsung merebahkan diri di tempat tidur nya dan kebetulan dia tengah bebas. Mahda terlelap begitu lama dan bangun saat waktu menjelang maghrib.
Ketika para santri melaksanakan kegiatan seperti biasa nya, Mahda beranjak ke dapur untuk membantu mempersiapkan makan malam atau yang lain nya.
Lihat, ih ngeri ada yang kecelakaan motor nya sampe ancur begini.
Ucap ustadzah Nur yang kebetulan tengah berada di dapur.
"Liat dong!" pinta Mahda dan mendekati ustadzah Nur.
Mata nya membulat, dada nya begemuruh dan nafas nya sesak kala melihat foto di layar ponsel tersebut.
Bukan dia kan?
__ADS_1
.....