Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Jangan Bermimpi..!!


__ADS_3

Tunggu sebentar, wajah nya kaya gak asing ya?


Batin Mahda.


Ibu?


Batin Mahda lagi sambil terus menatap wanita paruh baya yang terus menatap nya.


Mahda buru-buru pamit ke belakang untuk mengecek tempat pelaminan dan prasmanan. Itu lebih baik dari pada harus berada satu ruangan dengan orang yang menatap nya sinis.


"Ko bisa ikut? Apa hubungan nya? Apa itu saudara nya?" gumam Mahda pelan.


"Gelisah gitu? Kenapa?" tanya Syamsiah.


"Gak papa, oh iya, liat Sulthan gak?" tanya balik Mahda.


"Tadi di bawa Yemma ente kaya nya" jawab Syamsiah.


"Eh, Yemma udah dateng? Dimana sekarang?" tanya Mahda lagi.


"Di depan RA kaya nya, tadi jalan kesana. Mungkin lagi istirahat" jelad Syamsiah.


Mahda pun pamit dan segera berjalan menuju area kelas RA. Samar-samar terlihat Sulthan yang tengah bermain prosotan di jaga oleh mba Syifa, sedangkan Yemma nya, mana?


"Mba Syifa, Yemma mana?" tanya Mahda melihat Yemma nya tak ada di sana.


"Tadi sama bang Syihab keluar kak" jawab Syifa.


"Kemana?" tanya Mahda lagi.


"Kurang tau mba" jawab Syifa.


"Kalau udah dateng, bilangin Mahda nanyain ya!" pinta Mahda.


Syifa hanya mengangguk menanggapi permintaan Mahda. Mahda pun kembali masuk ke lokasi tenda pelaminan setelah mencubit Sulthan terlebih dahulu.


..


Waktu sholat ashar telah tiba. Rombongan keluarga Haidar dan Ratih terlihat sudah berada di area asrama utama untuk melaksanakan sholat di mesjid putri. Sementara keluarga Rijal dan Nisa masih di dalam menemui Ummi. Mahda pun memutuskan untuk sholat di kamar nya.


"Mahda.." sapa seseorang yang berdiri tak jauh di depan nya.


Degh


Mahda terdiam. Ia ingat suara itu. Mahda perlahan mengangkatkan kepala nya.


"I-ibu?" sapa balik Mahda sedikit gugup.


Mahda pun segera menyalami wanita di depan nya, meski sempat kecewa ia tetap menghormati wanita yang pernah menjadi mertua nya tersebut, meski hanya sekejap.


"Ibu ikut sama keluarga siapa, Bu?" tanya Mahda.


"Sama keluarga Ratih" jawab ibu tersebut, dingin.


"Oh, Ratih saudara Ibu ya? Ma'af bu, Mahda baru tau" timpal Mahda berusaha lembut.


"Bukan, dia anak teman Ibu yang dulu mau Ibu jodohin sama Ahmad" jelas nya.


Daaarrrrr..


Ucapan yang begitu mengejutkan untuk Mahda.

__ADS_1


Ya Kareem, dunia terlalu sempit.


Batin Mahda.


"Sebentar!! Bukan nya kak Ahmad mau nikahin gadis itu?" tanya Mahda tak menyebutkan nama Ratih. Jujur, baru saat ini Mahda mengetahui jika Ratih adalah orang yang dulu hendak di jodohkan pada Ahmad, bahkan ia terdepak dari posisi nya saat itu karna Ahmad tak ingin mengecewakan sang ibu.


"Gak jadi, ternyata Ahmad mencintai kamu" jawab nya ketus.


Sungguh Mahda ingin tertawa saat itu jika saja di hadapan nya bukanlah seseorang yang termasuk ia hormati, karna tidak ada kata mantan mertua, cukup mantan suami.


Mahda tak menjawab, ia hanya tersenyum menanggapi perkataan ibu nya Ahmad yang terlihat kesal.


"Mahda.." sapa nya lagi.


"Labbeik.." jawab Mahda lembut.


"Apa Mahda mau jika kembali lagi sama Ahmad?" tanya ibu Ahmad namun terdengar lebih lembut di bandingkan tadi.


"Ma'af bu, Mahda gak bisa" jawab Mahda di hiasi senyum manis nya.


"Kenapa? Kamu belum nikah lagi kan? Kenapa gak mau? Ahmad cinta sama kamu, tolong ma'afin kesalahan Ibu kemarin" tutur ibu Ahmad yang mulai tersulut emosi, entah apa penyebab nya.


"Ma'af bu. Mahda pamit dulu ya bu, ada tugas yang harus di kerjain lagi. Ibu mau sholat disini?" tawar Mahda.


"Kak.." tiba-tiba Yemma Hani datang bersama Sulthan dan Syifa.


"Labbeik.." jawab Mahda dan menyalami Yemma nya.


Yemma Hani menatap intens wanita di depan nya yang tadi terlihat tengah berbincang dengan Mahda.


"Ibu nya, Ahmad?" tanya Yemma Hani memastikan.


"Gimana kabar nya bu, baik? Ahmad gimana? Istri nya ikut juga kesini?" tanya Yemma Hani.


"Alhamdulillah baik, saya permisi dulu ya udah di tungguin" pamit ibu Ahmad buru-buru.


Yemma Hani dan Mahda menatap kepergian ibu Ahmad yang terburu-buru, seperti gugup melihat Yemma Hani yang tiba-tiba saja datang saat ia berbincang dengan Mahda.


"Kenapa begitu kak?" tanya Yemma Hani.


"Entahlah. Yuk masuk, di dalem pengantin lagi di rias" ajak Mahda.


"Tadi ibu nya Ahmad ngobrol apa?" tanya Yemma Hani.


"Nanti kakak cerita kalau udah selesai acara" jawab Mahda.


Hidup, ko rahat banget ya. Haidar mantan ana, Ratih mantan nya kak Ahmad. Dan sekarang mereka nikah, lalu Ibu minta ana balik lagi? Ckckck, dulu di buang sekarang minta balikan. Jangan terlalu bermimpi.


Monolog Mahda dalam hati.


Terlihat 2 pengantin tengah di rias oleh MUA langganan Pesantren A**** saat ada acara. Ratih mengenakan gaun berwana peach sedangkan Nisa berwana grey.


"Waw, hally banget kalian" puji Mahda.


Sementara itu, Yemma Hani terlihat tengah berbincang dengan Ummi Silmi, anak ketiga dari Hubabah dan Abuya.


..


Tak kalah dengan keadaan di pondok putri, Haidar dan Rijal pun tengah di dandani oleh ustadz Rahman dan yang lain nya. Memakai jubah yang sudah di sediakan dan melati yang di tempel di imamah nya.


"Haidah dari kita Dar" ucap Syihab lalu mengoleskan sesuatu di leher Haidar.

__ADS_1


Rijal pun tak ketinggalan, ia mendapat olesan hadiah dari ustadz Iman. Suatu kejahilan para santri putra saat teman sesama mondok nya akan menikah yaitu di jahili, di olesi balsem.


"Yahdik ente Hab, panas" kesal Haidar.


Rijal tak kalah kesal nya namun mau bagaimana lagi, suatu kebiasaan yang seolah turun temurun. Pada akhir nya Haidar dan Rijal terus mengusap belakang leher nya yang terasa panas.


...----------------...


Acara jalsah pengajian pun di gelar dengan Ustadz Muhammad sebagai pengisi acara menggantikan Abuya yang mulai sakit dan sepuh. Acara berjalan 30 menit di sambung dengan acara nikah masal.


Santri putra terlihat berkerumun tengah bersiap di depan kantor putra. Memegang beberapa alat hadroh seperti hajir marawis, dumbuk dan keprak marawis bahkan bendera nama majlis pondok pun terlihat di kibarkan. Arak-arakan mulai terdengar, mengiring Haidar dan Rijal sebagai calon pengantin.


Sementara itu santri putri tengah menyiapkan prasmanan, ice cream, es teh juga siomay sebagai makanan penutup. Keluarga para pengantin pun sudah berada di kelas, samping lokasi pelaminan.


"Udah siap semua nya?" tanya Mahda.


"Tinggal es batu nya belum dateng" jawab Widi.


"Loh, kok bisa?" tanya Mahda panik.


"Gak tau juga mba" jawab Widi.


"Yang beli siapa?" tanya Mahda.


Widi menggelengkan kepala nya karna tak tahu.


"Mba Zul, yang beli es batu siapa?" tanya Mahda.


"Suami mu" jawab Zulaikha.


"Ya Allah, acara udah mulai inih" ucap Mahda panik.


Ponsel yang baru saja ia bawa setelah mendapat izin dari Ummi segera ia gunakan, menelpon sang suami yang masih belum kembali padahal acara sudah di mulai.


Tuuuttttt..


Satu panggilan tersambung dengan Mahda yang langsung menggerutu karna es batu belum datang.


"Kakak? Kakak dimana? Ya Allah, ini acara udah mulai, es batu nya mana?" tanya Mahda yang saat ini tengah berada di kedai, menghidari kerumunan agar tak terlalu bising.


"Ucapin salam dulu sayang, ini dateng" jawab Syihab yang berdiri sambil tersenyum di belakang Mahda.


Blusshhh..


Mahda merasa malu karna saking panik nya ia sampai lupa mengucapkan salam pada Syihab.


"Ma'af" lirih Mahda lalu mematikan telpon nya.


"Tadi pas berangkat macet jadi baru sampe" ucap Syihab.


"Kakak ke dalemin dulu ya" pamit Syihab.


Mahda pun memberikan jalan pada sang suami yang membawa es batu untuk kebutuhan es teh.


Musytaq elaik


Ucap Syihab saat melewati Mahda untuk kembali ke area putra, dimana acara 'aqad nikah tengah di gelar.


Satu kata yang sukses meluluh lantahkan Mahda, membuat kaki nya tiba-tiba melemas dengan debaran jantung yang tiba-tiba meningkat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2