
Mendengar nama laki mu yang dalam artian adalah Syihab, perasaan Mahda kembali gelisah, lama tak melihat diri nya dan sekarang di minta mengantarkan makanan untuk nya.
Bakalan ketemu gak ya?
Batin Mahda.
Semoga.
Tambah Mahda lagi.
Mahda mengikuti langkah Zulaikha di depan nya membawa beberapa rantang nasi. Tak ada protes atau pun hal yang lain nya dari bibir Mahda.
"Mba Zul, ko kesini jalan nya?" tanya Mahda pura-pura tak tahu jika asatidz sudah di pindah kamar kan ke belakang rumah ustadz Rijal, yang tak lain adalah suami ustadzah Rahmah.
"Kamar nya udah pindah ke sini. Kalau masih deket sama asrama putra mana mungkin ana ngajak antum nganterin buat makan nya" jelas Zulaikha.
"Oh, iya" jawab Mahda cepat. Selalu ada tantangan jika berbicara dengan Zulaikha, apalagi melihat gaya bicara nya yang ketus dan dingin, meski pada kenyataan nya Zulaikha itu baik.
"Antum anterin 3, ana 4 ya. Antum ke belakang tapi, aya yang depan. Sekalian mau ke ustadzah Rahmah, ada urusan bentar" jelas Zulaikha lagi.
"Pulang nya?" tanya Mahda.
"Pulang sendiri. Tinggal lewatin bangunan RA sama bangunan baru, kantor, udah kan nyampe" jawab Zulaikha.
"Iye lah" timpal Mahda pasrah.
Ada rasa gugup saat berpisah dengan Zulaikha dan harus mengantar ke masing-masing kamar, meski hanya menyimpan nya di depan kamar masing-masing.
Mahda berjalan ke arah belakang dengan membawa 3 buah kotak makanan dan sebelum nya berjalan melewati rumah ustadz Rijal.
Mahda menyimpan satu kotak makan di depan kamar yang entah milik siapa itu ia tak tahu. Berjalan kembali lalu menyimpan kotak nasi lagi, tinggal 1 kotak yang harus ia simpan. Mahda melihat seseorang berdiri di dekat penyimpanan kotak makan.
Kaya bang Aly.
Gumam Mahda.
"Bang ini 'asya (makan malam) nya" ucap Mahda menyodorkan kotak makan nya.
Orang itu terdiam tak menanggapi ucapan Mahda, hanya meraih kotak makan tersebut dan menyimpan nya.
"Bang, boleh minta fulus gak? Urgent nih, fulus Mahda habis. Mau minta sama kak Syihab belum ketemu lagi. Ada yang harus di beli, nanti kalau udah ada Mahda ganti fulus nya" tutur Mahda lirih, sengaja ia berucap semanis mungkin agar Aly mau memberinya uang pinjaman.
"Kenapa gak minta langsung sama suami mu?" tanya orang tersebut.
Mahda yang mendengar suara khas dari orang yang berdiri di depan nya, seketika mengangkat kepala nya yang sedari tadi menunduk. Mata nya membulat manakala menyadari jika orang tersebut bukan Aly, melainkan Haidar.
"Ma'af, ana kira bang Aly" ucap Mahda dan segera berlalu dari hadapan Haidar.
Namun belum sempat Mahda berjalan Haidar sudah terlebih dahulu mencekal tangan kiri nya.
"Da, kenapa kamu tega?" satu kalimat yang keluar begitu terdengar menyedihkan di telinga Mahda.
Buru-buru Mahda melepas cekalan tersebut.
"Disini siapa yang paling tega sebenar nya. Ana yang di tinggalkan, atau antum yang menunggalkan lalu memilih teman ana sendiri?" tutur Mahda dan berlalu meinggalkan Haidar dengan berjalan tergesa-gesa.
"Ana masih akan berjuang sebelum janur kuning melengkung Mahda" teriak Haidar melihat Mahda sudah menghilang dari pandangan mata nya
__ADS_1
Magrum, mudah-mudahan gak ada yang denger ucapan dia.
Gerutu Mahda dalam hati.
Secepat mungkin berjalan meninggalkan deretan kamar asatidz menuju asrama. Dada nya bergemuruh mengingat perkataan Haidar tadi.
Maksud nya apa? Ana tega? Gak ngaca banget yah jadi rejal, dia yang ninggalin, dia yang nyakitin, giliran kita sama yang lain dia berlagak jadi korban.
Gerutu nya lagi.
Suasana di ghurfah sudah nampak sepi pertanda sebagian para santri sudah mengarungi alam mimpi. Sementara Mahda tak sadar sudah berapa lama ia terus bermonolog dalam hati menghujat Haidar.
{Mohon ma'af ya jika ada yang menyimpang, nama nya novel, imajinasi, jangan di samakan dengan kenyataan🙏 Mari berhalu ria🤗 }
*
*
Sayup-sayup suara tahrim dari mesjid utama mulai terdengar. Mahda yang hampir semalaman gelisah segera bangun menuju kamar mandi dan melakukan kegiatan seperti biasa nya.
"Mba Mahda, di panggil sama Ummi" ucap Heni, santri satu angkatan Tika.
"Ya kher, syukron ya" timpal Mahda.
Mahda segera berjalan menuju rumah Ummi sesuai instruksi. Berjalan mengguakan lutut sebagai tanda hormat nya pada sang guru.
Mahda mencium takzim tangan Hubabah yang tengah duduk di halaman samping rumah yang bersampingan langsung dengan asrama putri unit 1.
"Mahda" sapa Ummi.
"Sibuk enggak?" tanya Ummi.
"Enggak Ummi, tinggal nunggu hasil kemarin ujian" jawab Mahda sopan.
"Siap-siap gih ! Syihab nunggu kamu di parkiran belakang RA. Pulang nya jangan malem-malem ya" jelas Ummi dengan tersenyum ramah seperti biasa nya.
"Maksud nya, saya di izinkan keluar Ummi?" tanya Mahda meyakinkan.
Ummi mengangguk mengiyakan pertanyaan Mahda. Memberikan kesempatan pada pasangan baru yang belum sempat menghabiskan waktu nya berdua.
Mahda tersenyum dan pamit pada Ummi dan Hubabah. Segera bersiap dan memakai abaya terbagus yang ada saat ini.
"Mba mau kemana?" tanya Tika kepo melihat Mahda tengah bersiap.
"Ada urusan bentar" jawab Mahda asal.
"Pergi sama Ummi?" tanya Tika lagi.
"Iya" jawab Mahda berbohong. Tak mungkin ia bilang pergi dengan Syihab sementara mereka belum tahu apa yang sebenar nya.
Mahda meraih slingbag berwarna khaki lalu memakai nya. Ia pun tak melupakan masker yang selalu ia pakai jika keluar.
"Mba anter" pinta Mahda pada Zulaikha yang tengah duduk di bawah pohon kersem yang ada di depan kelas.
"Kemana?" tanya Zulaikha.
__ADS_1
"Ke depan" jawab Mahda buru-buru menarik tangan Zulaikha menuju parkiran belakang sekolah RA.
"Syukron" ucap Mahda manis pada Zulaikha setelah melihat Syihab sudah menunggu nya di atas motor.
"Hih dasar" kesal Zulaikha dan berlalu kembali ke dalam.
"Ayo naik!" titah Syihab.
Mahda diam, namun segera naik sebelum orang lain melihat nya. Nada bicara Syihab yang dingin membuat Mahda bertanya-tanya apa kesalahan nya. Setelah keberangkatan nya 3 minggu lalu ia baru bertemu kembali dengan Syihab hari ini, dan sekarang dia berbicara begitu dingin.
Ada yang salah kah?
Mahda menerka-nerka dalam hati.
Sepanjang perjalanan Mahda diam, begitu pun dengan Syihab yang nampak begitu cepat menjalankan motor nya. Mahda was-was di buat nya, takut jatuh, namun untuk berpegangan pada Syihab Mahda merasa sungkan. Terpaksa Mahda berpegangan pada bagian motor belakang nya.
"Sini tangan kanan nya" ucap Syihab yang samar-samar terdengar oleh Mahda.
"Tangan ana?" tanya Mahda meyakinkan, barangkali ia salah dengar.
"Iya" jawab Syihab.
Dengan ragu Mahda mengulurkan tangan nya ke depan, merangkul samping tubuh Syihab. Sementara itu, Syihab segera meraih tangan Mahda, mengecup nya pelan lalu mengarahkan Mahda agar berpegangan memeluk diri nya.
Syihab bukan tak peka, ia tahu Mahda takut terjatuh namun tak berani untuk berpegangan pada diri nya. Mahda hanya menurut hingga Syihab mengusap pelan tangan nya lalu fokus kembali menyetir motor hitam kesayangan Mahda.
*
*
Tiba di sebuah restaurant, Syihab terus menuntun tangan Mahda dan tak sedikit pun berniat melepaskan nya.
"Mau makan apa?" tanya Syihab melihat Mahda yang tampak melamun.
"Samain aja sama kakak" jawab Mahda.
"Ayam geprek?" tanya Syihab lagi.
"Boleh" jawab Mahda.
Setelah waiters pergi, Syihab meraih tangan Mahda dan kembali mengecup nya. Tangan yang sudah berubah menjadi candu bagi nya.
"Kalau butuh uang kenapa gak bilang sama kakak?" tanya Syihab lembut pada akhir nya setelah selama perjalanan ia bersikap dingin pada Mahda.
"Gimana mau bilang nya, ketemu aja gak pernah. Baru ketemu lagi sekarang kan?" jawab Mahda.
"Kenapa malah bilang sama Haidar?" tanya Haidar sedikit kesal.
"Ana kira itu bang Aly, soal nya mirip banget sama bang Aly kalau dari belakang. Ma'af, ana gak tau" lirih Mahda.
"Jangan lagi, kamar ana yang paling pertama" timpal Syihab dan tersenyum penuh arti pada Mahda.
Mahda bernafas lega saat ia tahu apa yang membuat sang suami bersikap dingin pada nya sedari tadi.
"Cemburu kah?" dengan berani Mahda bertanya pada Syihab yang masih menatap nya intens.
"Menurut mu?" tanya balik Syihab menyolek gemas dagu Mahda.
__ADS_1
Mahda terkekeh melihat Mahda yang menahan gemas. Dan pada akhir nya sikap dingin itu kembali mencair, menghangat seiring dengan hangat nya cinta mereka.
......