Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Salah Dugaan


__ADS_3

Seorang pria berusia 50 tahunan berjalan paling depan di iringi beberapa orang di belakang nya. Berjalan memasuki area gerbang hitam 2 menuju rumah Abuya.


"Assalamu'alaikum" ucap salam pria tersebut.


"Wa'alaikum sa-lam, Zainal?" jawaban yang sedikit menggantung dari mulut Zein tatkala melihat teman nya berdiri di ambang pintu ruangan tersebut.


Zainal pun tak kalah terkejut melihat siapa orang di dalam ruangan.


"Kebetulan sekali, sedang apa Zein?" tanya Zainal sembari menyalami teman nya yang jujur saja ada perasaan kesal pada diri nya karna ia menolak lamaran untuk anak nya, alasan nya karna guru dari anak nya sudah menjodohkan Mahda, ia menghargai keputusan tersebut.


Jika saja ia bisa mengumpat, saat itu ingin berteriak YAHDIK!!!!


Zein tersenyum sungkan.


"Ada sedikit keperluan, antum sendiri?" tanya balik Zein sopan melihat teman nya yang sedikit acuh.


Kesal kah?


Fikir Zein.


"Oh iya, sama ana juga ada keperluan" jawab Zainal.


"Ustadz Zainal, sudah datang antum" ucap Abuya yang baru saja kembali ke ruangan tersebut di ikuti Hubabah dan yang lain nya.


Ustadz Zainal segera menyalami Abuya, tanda hormat nya pada Abuya. Begitu pun dengan ustadzah Balgis yang menyalami Hubabah dan Ummuna.


"Mba Eha, tolong panggilkan Mahda!" titah Hubabah.


Zulaikha yang selesai menghidangkan teh hangat segera undur diri dan segera berjalan menuju asrama untuk memanggil Mahda.


Sementara itu, Zein tak henti-henti nya bertanya dalam hati kenapa orang tua calon suami dari anak nya belum juga datang, padahal Abuya bilang mereka sudah di perjalanan. Mahda pun sudah di panggil, jangan-jangan?


"Zein, Zainal" sapa Abuya bersamaan.


Beik.


Jawab 2 bapak-bapak setengah tua tersebut bersamaan. Zein pun terpaksa menyudahi lamunan nya.


"Anak kalian ana jodohkan"


Hah?


Ucap serempak kembali 2 bapak tersebut. Rasa nya terkejut dengan apa yang Abuya sampaikan. Abuya tanpa basa basi lagi berbicara pada inti nya tanpa embel-embel pembukaan.


"Zein, Mahda anak antum?" tanya ustadz Zainal tiba-tiba dengan tatapan sendu.

__ADS_1


"Na'am, anak antum siapa Nal?" tanya Zein tak kalah sendu.


"Syihab, yang kemarin ana lamarin ke antum" tutur ustadz Zainal yang sudah tak kuasa membendung air mata nya.


Maasyaa Alloh


Ucap serentak 2 bapak setengah tua tersebut lalu berpelukan, merasa terharu sekaligus bahagia. Melewati rasa sakit dan kesal karna di tolak lamaran, namun di satukan dengan perjodohan. Siapa yang mengatur semua ini?


Rasa nya terlalu lucu, mati-matian melamar namun di tolak ternyata malah di satukan dengan cara lain.


Haniyah dan Balgis tersenyum haru melihat adegan di depan nya. Apalagi Balgis yang pada awal nya harap-harap cemas takut terjadi perdebatan karna ia tau jika suami nya menaruh kesal pada Zein sebab lamaran nya kemarin di tolak.


"Assalamu'alaikum" ucap Mahda lirih dan sopan lalu duduk di samping Haniyah.


Mahda tidak terlalu memperhatikan orang-orang di depan nya selain Abuya juga Hubabah serta ustadz Muhammad dan Ummuna. Wajah nya terus menunduk, menghindari pandangan di depan nya.


"Mahda, apa boleh Babah bertanya" ucap Hubabah.


"Boleh Babah" timpal Mahda masih terus menundukan wajah nya, menyembunyikan wajah cantik nya.


"Mahda bersedia di jodohkan?" tanya Hubabah lantang.


"Insyaa Alloh, Mahda bersedia Babah" jawab Mahda hati-hati tanpa berani bertanya, dengan siapa ia di jodohkan.


"Apa alasan Mahda bersedia di jodohkan? Apa Mahda tau siapa calon nya?" tanya Hubabah lagi.


Hubabah tersenyum mendengar penuturan Mahda.


"Angkat wajah kamu Da ! Kenalin, ini calon mertua kamu" titah Hubabah.


Mahda pun segera mengangkat wajah nya. Pelan namun pasti ia melihat 2 orang yang sangat ia kenal, bahkan beberapa saat lalu mereka sempat bertemu.


Ustadz Zainal? Ustadzah Balgis?.


Gumam Mahda.


"Kamu di jodohkan dengan Syihab, Mahda" tambah Hubabah di sela-sela keterkejutan Mahda.


Apa? Syihab? Ana di jodohkan dengan ustadz Syihab? Gak salah? Lalu mba Zul? Yasaalaaam, maksud nya apaan dengan khobar kemarin?


Monolog Mahda dalam hati.


Mahda akhir nya mengukir senyum indah di wajah nya. Senyuman haru dan bahagia karna sekarang ia tau siapa yang akan menjadi calon suami nya.


Dengan sopan Mahda menyalami dan mencium tangan ustadzah Balgis yang tak lama lagi akan menjadi ibu mertua nya. Sementara 2 orang di belakang nya adalah bibi dan nenek Syihab.

__ADS_1


*


*


Setelah pertemuan hari itu, kabar perjodohan Syihab dan Mahda menyebar dengan cepat, secepat roket yang di luncurkan keluar angkasa, mengalahkan pergosipan ibu-ibu komplek jika ada gosip terbaru di wilayah nya.


Mematahkan kabar salah perjodohan antara Syihab dan Zulaikha. Juga mematahkan beberapa hati yang sudah terlanjur mencintai, balk pada Mahda maupun Syihab. Tanpa di ketahui beberapa ustadz sudah bersiap untuk mengutarakan keinginan mereka, namun harapan harus di patahkan.


Patah hati berjamaah


Slogan yang akan mereka ikrarkan ketika Mahda dan Syihab menikah.


Haidar terlihat murung dan galau tak karuan saat mendengar wanita yang tengah ia perjuangkan kembali ternyata sudah terlebih dahulu di jodohkan pada teman sesama asatidz nya.


"Sabar, dari dulu dia bukan jodoh antum" ucap Aly menepuk bahu Haidar yang termenung di depan ghurfah.


Berbeda dengan Syihab yang justru terus tersenyum sepanjang hari nya karna penantian dan segala do'a nya akhir nya membuahkan hasil. Hampir berputus asa karna kabar hoax namun siapa sangka malah di beri kejutan yang tak ternilai dari cara yang lain.


Jika saja ia tak malu, ingin rasa nya berjingkrak-jingkrak menari, berjoged seperti anak ayam di film Pat a Pat COMO.


La.. La la la.. La la la.. La la la la la la la la..


*


*


Mahda kembali belajar dan mengajar sebelum hari lamaran dan pernikahan tiba. Mahda pun menyerahkan semua urusan nya pada Yemma dan Yebba nya, ia hanya terima beres.


Zein dan Haniyah pun tak banyak melibatkan Mahda, ia sudah merencanakan yang terbaik kali ini untuk Mahda. Membiarkan Mahda fokus pada ujian nya bulan depan.


"Syukron" ucap Syihab saat Mahda mengantarkan teh hangat seperti biasa nya.


Mahda tersenyum menanggapi ucapan Syihab. Rasa nya tak mampu menjawab, yang ia rasakan hanya seperti jutaan kupu-kupu terlepas dari diri nya.


Rasa nya masih mimpi jika orang yang berdiri di depan nya akan menjadi pasangan Mahda. Salting dan kikuk silih berganti saat kembali bertemu.


Tak ingin berlebihan dan melanggar meski sudah ada lampu hijau, Mahda segera menjauh sebelum ada mata lain yang melaporkan mereka. Biarpun mereka sudah di jodohkan namun akad pernikahan belum terlaksana, mereka belum terikat satu sama lain. Masih di larang melampaui batas.


Menunggu hari itu tiba rasa nya melelahkan, merasa tak sabar menuju hari dimana bisa menyentuh nya tanpa dosa, melainkan menjadi pahala.


Sabaaarrr


Satu kata yang terus menghibur hati Syihab di kala tak tahan saat melihat senyuman menawan dari bibir ranum Mahda. Jika sudah halal, bebas mau di apakan.


💐💐💐💐💐

__ADS_1


Hayolah yang minta double up ini udah, jan lupa brudulin like sama vote nya ya😘😘


__ADS_2