Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Haflah (Acara Puncak)


__ADS_3

Para wali santri dan tamu terlihat sudah semakin banyak yang datang. Sesuai tugas masing-masing, ada yang mengarahkan dan memberikan jamuan. Beberapa dus besar berisi nasi kotak dan camilan mulai di bagikan.


Sementara itu, Mahda pamit untuk sejenak beralih profesi menjadi vocalis hadroh. Berjalan beriringan dengan beberapa orang di belakang nya, lalu duduk rapih di samping panggung. Tempat yang sudah di sediakan pula untuk team hadroh putri.


Dengan ucapan salam Mahda memulai acara nya, membawakan beberapa lantunan sholawat seperti Ya Ayyuhan Nabi dan Darbul Huda Mahda lantunkan, sholawat yang mampu menggetarkan hati setiap insan yang mendengar nya. Suara genjring dan dumbuk silih bersahutan, mengiringi suara merdu Mahda dan Khadija yang menjadi vocalis hadroh putri.


..


Syihab pun tak kalah sibuk nya, ia menyambut ayah dari wali santri putri juga tamu yang kebetulan hadir. Mempersilahkan nya masuk dan duduk di ruang Marwah.


Di tengah-tengah fikiran nya yang kacau ia harus tetap menjalankan tugas nya dalam acara haflah kali ini. Mengenyampingkan segala urusan nya dan menjalankan tugas nya.


Ada yang berbeda kali ini, saat diri nya gelisah, hati nya gundah, ada suara yang menenangkan nya, menyelusup menggetarkan hati dan jiwa nya, siapa lagi jika bukan suara milik Mahda, sang istri.


Melihat banyak nya wali santri yang hadir seketika hati nya mencelos, ia berandai-andai jika saja ke dua orang tua masih ada mungkin sang Mama sekarang hadir di sini dan bangga melihat menantu nya tengah melantunkan sholawat.


Ana yakin Mama juga hadir di sini, Mama liat kan Mahda lagi sholawat? Lihat Ma dan dengerin, betapa merdu nya suara istri Syihab.


Monolog Syihab dalam hati.


Hhhh, ma'af kakak belum bicara soal ini sayang.


Sambung Syihab.


......................


Acara pun di mulai oleh ustadzah Elis dan Naima sebagai pembawa acara dengan 2 bahasa, bahasa Arab dan Indonesia tentu nya. Satu persatu acara di sebutkan dan di kedepankan hingga acara puncak pertama di mulai, Ustadz Muhammad sebagai pengasuh pondok mengisi acara tausyiah, memberikan beberapa point-point penting kepada wisudawati tahun ini.


Total 60 orang santriyah yang hari ini wisuda dan kesemua nya sudah siap berbaris menunggu satu persatu di panggil ke atas panggung.


Sementara itu, Ummuna (ibu ustadz Muhammad) dan Ummi (istri ustadz Muhammad) sudah mulai duduk di samping panggung, di kursi yang sudah di sediakan.


Acara puncak pun tiba, para wisudawati yang berbaris seperti wisuda pada umum nya, memakai jubah juga toga. Satu persatu di panggil dan di berikan Syahadah lalu menyalami ke dua wanita hebat yang duduk di samping panggung.


Isakan tangis mulai terdengar silih berganti dari arah wali santri, merasa bangga sekaligus terharu dengan putri masing-masing. Dan acara pun di tutup dengan mahalul qiyam dan do'a.


..


1 jam kemudian..


"Yemma.." sapa Mahda lalu menyalami Yemma Hani yang duduk di bagian VIP sebelah ujung. Sengaja memilih tempat tersebut agar memudahkan akses nya jika Sulthan meminta keluar.

__ADS_1


"Kak.." balas Yemma Hani.


"Sulthan mana?" tanya Mahda celingak celingkuk mencari sang adik.


"Di bawa sama Syihab tadi" jawab Yemma Hani.


"Oh, kemarin kak Syihab pulang, ada ke beyt Yemma gak?" tanya Mahda lagi.


"Ada, tapi cuma sebentar" jawab Yemma Hani seperlu nya.


"Ada apa sih? Pulang ngedadak, sekarang nyuekin aku" gumam Mahda yang masih bisa terdengar oleh Yemma Hani.


"Ada keperluan, udah gak usah suudhzon" ucap Yemma Hani.


Mahda mengangguk, mencoba menepis semua kerisauan dan fikiran negatif nya.


..


Para wali santri mulai berpencar bersama putri-putri nya, mencari tempat ternyaman untuk melepaskan rindu yang sudah membelenggu. Namun masih nampak pula yang tengah berfose sebaik mungkin di di depan pelaminan. Mengabadikan moment kelulusan putri-putri nya


Yemma Hani dan Mahda pun sama, ia memilih mobil nya untuk menjadi tempat nya bercengkrama.


Tak selang lama terlihat 2 laki-laki berjalan ke arah mobil dengan seorang anak kecil dalam gendongan. Siapa lagi? Ke tiga nya adalah Aly, Syihab dan Sulthan di gendongan nya.


"Ratih, itu siapa?" tanya seorang ibu-ibu.


"Ustadz di sini" jawab Ratih.


"Maasyaa Alloh, ganteng bener. Pasti bibit unggul orang tua nya kalau anak-anak nya pada ganteng gak ketulungan begitu" tutur ibu tersebut.


Ratih tak menanggapi namun fokus melihat dua orang ustadz yang berjalan melewati diri nya.


"Hey, mata mu! Ngesyuf ampe gak ngedip gitu" ucap Alfi mengejutkan Ratih.


"Huh.." Ratih mendengus kesal karna di kejutkan saat enak-enak nya menatap ciptaan Tuhan yang begitu tampan.


Aly dan Syihab berjalan menuju mobil yang tak jauh dari mobil keluarga nya Ratih dan Alfi.


"Yebba mana?" tanya Mahda sembari menyalami Syihab kemudian Aly, namun dengan salaman yang acuh.


"Giliran salim sama ana gak ada sopan-sopan nya ente Da" gerutu Aly lalu menyentil jidat Mahda yang menurut nya terlalu lebar.

__ADS_1


"Yebba lagi ngobrol sama Abuya, sama ustadz Muhammad" timpal Syihab lalu menurunkan Sulthan di kursi mobil.


"Sulthan gak nakal kan?" tanya Yemma Hani kali ini.


"Enggak ko Ma" jawab Syihab.


Mereka pun larut dalam obrolan hingga sesekali tawa terdengar dari mereka meskipun obrolan nya terdengar ringan.


Setelah merasa cukup, Mahda pamit kembali ke dalam pondok. Kembali membereskan bekas acara haflah tadi.


Sementara itu Yemma Hani dan Yebba Zein juga ikut pamit untuk pulang setelah memberikan tas bistelan untuk anak-anak nya.


Mahda berjalan terlebih dahulu di ikuti Syihab dan Aly di belakang nya. Berjalan dengan kepala menunduk menghindari kontak mata dengan lawan jenis apalagi santri putra yang berkeliaran di area parkir.


......................


Beberapa santri terlihat tengah menyapu halaman, membersihkan sampah-sampah yang berserakan juga bekas bunga yang di taburkan.


Tong-tong sampah besar mulai terisi penuh menunggu giliran nya di ambil lalu di bersihkan oleh santri putra yang sudah di tetapkan pula tugas nya.


"Santri, makan dulu!" teriak mba Syamsiah.


Menggiring para santri putri untuk makan setelah tamu di ruangan tersebut bubar, menyisakan piring yang berserakan juga makanan yang belum habis.


Alih-alih mengantri mengambil makan, mereka malah berebut mencari sisa makanan ustadzah juga Ummi dari pondokan lain.


Ngalap berkah


Istilah nya para santri ketika ada acara dan menyediakan jamuan, hingga yang di cari adalah sisa makanan dan minuman nya saat bubar nya para tamu kehormatan tersebut.


Selesai makan, sebagian santri pun terlihat tengah mencuci piring, membersihkan bekas-bekas jamuan para tamu juga para santri putri, sementara santri putra kini giliran nya mendapat makan prasmanan.


..


Badan Mahda terasa remuk redam, pegal, sakit, kepala nyut-nyutan bercampur menjadi satu. Ingin mengeluh namun pada siapa? Minta di pijat namun santri yang lain pun merasakan hal yang sama, cape satu cape semua.


Hanya angin malam yang dingin yang menenangkan menjadi teman nya kini di sela-sela kenikmatan nya merasakan semua rasa. Menghempaskan tubuh nya ke atas kasur yang nyaman bagi nya. Merentangkan tubuh yang sangat lelah.


Tadi mau nanya sama kak Syihab ko ana lupa ya?


Gumam Mahda dalam hati yang tiba-tiba teringat sesuatu untuk di tanyakan.

__ADS_1


......................


...Dengan keheningan yang menenangkan dan berbagi rasa bersama semilir angin yang menerpa, ku titipkan rindu untuk nya, belahan jiwa🥀...


__ADS_2