
Haidar~
Menyesal. Mungkin itu satu kata yang tepat untuk perasaan ku saat ini. Membuang yang baik demi yang kurang baik.
Bukan keinginan pribadi ku sebenarnya, lebih berdalih ke keinginan mamah. Katanya, beliau sudah menjodohkan aku dengan Aliya sedari kecil, tanpa sepengetahuan kami.
Jelas aku menolak, karna sudah ada nama Mahda yang 2 tahun terakhir terukir di hati ini. Berencana untuk meminang nya namun sayang, mamah terlebih dahulu meminang anak orang lain sebelum aku berbicara mengutarakan maksud.
Jujur, sangat amat bimbang saat itu. Rasanya seperti seorang pengecut, menjalin hubungan dengan Mahda tapi menikahi Aliya? Yang notabene adalah teman baik Mahda.
Sempat yakin jika Aliya akan menolak, sebagaiamana aku tahu dia teman baik Mahda. Namun tak sesuai harapan, Aliya begitu girang menerima perjodohan ini.
Memutuskan Mahda mendadak mungkin begitu mengejutkan bagi nya. Mau bagaimana lagi? Menolak pun tak kuasa.
Ingin menutupi serapat mungkin tapi rasa nya nihil, Aly jauh lebih tau sebelum Mahda tau. Bisa di bayangkan seberapa hancur nya Mahda saat dia tau teman baik nya menikah dengan pacar nya, hufff.
Acara tiba, sengaja memilih tanggal saat Mahda sudah kembali ke pondok. Alasan nya satu, agar Mahda tak datang ke acara. Tak ingin seperti di vidio-vidio yang beredar di sosial media, sang mantan menangis di pelaminan.
Banyak harapan agar Aliya bisa menggatikan posisi Mahda di hati ini. Namun nyata nya, sikap over protektif, sensitif nya, kecurigaan nya, membuat aku jengah. Perdebatan sering terjadi meski dari hal kecil sekali pun. Dan mau tak mau aku harus mengakhiri ketika lelah untuk memperbaiki.
Kewarasan ku lebih penting dari sekedar tekanan tak berujung.
Rasa nya memang aku benar-benar di jodohkan dengan Mahda. Selang beberapa bulan setelah percerain dengan Aliya, ustadz Muhammad datang meminta untuk membantu di pondok nya, yang jelas ada Mahda di sana.
Jujur, seberusaha keras melupakan nya, itu sangat tidak bisa meski ada Aliya di samping ku saat itu. Dan kini, waktu nya kembali mengejar apa yang telah di tinggalkan.
Semoga bisa di raih kembali, seperti dulu.
*
*
"Takhasus sama kelas 3 bagian fiqih ya sekarang?" tanya usadzah Nur.
"Na'am ustadzah" jawab Amira yang masih satu angkatan dengan Mahda.
Sementara Mahda tengah harap-harap cemas, ia takut kembali bertemu dengan Haidar. Sedari kejadian kemarin bertemu dengan Haidar, Mahda selalu menghindari untuk menyiapkan makanan di dapur. Lebih suka untuk membersihkan rumah atau dapur Ummuna.
"Lemes banget, mba Mahda sakit?" tanya Tika menelisik raut muka Mahda.
"Enggak" jawab Mahda lesu.
__ADS_1
"Mahda sakit? Kalau sakit gak papa jangan masuk!" titah Afiya.
"Enggak kok, cuma belum futhur (sarapan) aja nih" elak Mahda kemudian berlalu ke luar. Sejujur nya ia memang tengah tak enak badan, namun ia bertekad agar bisa mendapat ijazah tahun ini. Sebisa mungkin tak ada absen yang terlewat jika tak mendesak.
Berjalan menuju rak makan dan mengambil tepak nya. Sesegera mungkin makan dan menghabiskan sarapan nya sebelum bel masuk tiba. Meskipun sudah kelas takhasus ia harus tetap displin.
Mahda duduk di barisan ke tiga. Sejajar dengan angkatan nya, sedangkan bagian depan di isi oleh kelas 3.
Ustadz Cholil sebagai guru fiqih, di kenal sangat disiplin, tidak boleh ada keterlambatan sedikit pun. Maka dari itu, sebelum bel berbunyi di usahakan harus sudah duduk di tempat nya masing-masing. Jika tidak, akan tahu sendiri resiko nya.
Assalamu'alaikum
Ucap ustadz tersebut.
Hey, itu ustadz baru ya?
Satu kalimat mengganggu pendengaran Mahda.
Mahda yang sedari tadi tertunduk karna merasa pusing akhirnya mengangkatkan kepala nya perlahan. Di lihat nya seseorang yang begitu ia kenal, begitu pernah ia sayangi dan sempat ingin memiliki nya, namun berujung di campakan dan menyakiti nya.
Haidar?
Ucap Mahda lirih dengan mata yang nanar.
Mahda mengangguk tanpa mau melihat Afiyah, apalagi Haidar yang sedari tadi diam-diam mengamati Mahda yang terlihat seperti murung.
Sakit kah?
Batin Haidar.
Di belakang sana terlihat Zainab, anak dari ustadz Muhammad tengah berjalan ke arah halaqoh Mahda. Berjinjit pelan lalu berbisik pada Mahda.
"Mba, di suruh ikut sama Ummah keluar" bisik Zainab.
Seperti mendapat angin segar, Mahda segera menengok ke arah Zainab dan mengangguk.
"Af'afwu ustadz, anan izin. Di suruh ikut sama Ummi" izin Mahda pada Haidar yang tengah menerangkan pelajaran.
Ummuna, panggilan pada pemilik pondok yang sekarang lebih sering di panggil Hubabah atau Babah. Sedangkan Ummi adalah istri dari ustadz Muhammad. Jadi beliau adalah menantu dari Ummuna. Hanya beda panggilan, namun memiliki arti yang sama, Ibu.
"Tafadhol!" timpal Haidar di bumbui senyuman manis dan membuat hati Mahda mencelos.
__ADS_1
Andai tak ada kejadian menyakitkan kemarin, mungkin ketika Haidar sekarang menatap nya penuh cinta di bumbui senyuman manis akan membuat nya bahagia. Melambungkan nya ke nirwana dengan sejuta cinta, namun sayang kini ketika senyuman itu hadir hanya membuat hati Mahda mencelos tak karuan.
*
*
Memakai abaya berwarna hitam bermotif acak dengan aksen manik-manik di ujung lengan nya, Mahda berjalan menuju rumah Ummuna. Masuk dari arah samping ruang keluarga.
"Mba Mahda, tolong pegangin Bagir ya!" titah Ummi yang terlihat masih bersiap sembari berjalan ke sana kemari.
"Baik Ummi" jawab Mahda sopan.
Bagir yang kebetulan baru berumur 6 bulan tak susah saat Mahda mengasuh nya. Bukan kali ini Mahda ikut dan menjaga Bagir, dari awal Mahda masuk sudah sering Ummi meminta Mahda untuk menemani nya.
"Mba Zul ikut?" bisik Mahda pada Zulaikha, orang kepercayaan Ummi atau bisa di sebut tangan tangan Ummi, asisten pribadi kalo bahasa lain nya.
Zulaikha mengangguk, menatap Mahda sinis yang masih saja enggan mengganti nama panggilan nya. Orang lain memanggil nya Eha, berbeda dengan Mahda yang memanggil nya Zul, asal jangan Zulkifli saja.
Berjalan beriringan mengikuti langkah Hubabah juga Ummi ke dalam mobil. Sedangkan Abuya dan ustadz Muhammad berada di mobil yang lain.
2 mobil keluar beriringan, meninggalkan pesantren A**** menuju kota yang sudah di tentukan.
"Ini kebiasaan, ustadz Zainal kalo ada acara ngedadak banget ngasih tau nya. Untung Abi gak kemana-mana" gerutu Ummi saat mobil baru saja melaju keluar dari gerbang utama.
Ustadz Zainal? Ustadz Zainal temen nya Yebba bukan sih? Kalau iya, Yemma sama Yebba di sana juga dong, yeaayyy semoga ketemu.
Batin Mahda menerka-nerka.
Mengingat nama ustadz Zainal, Mahda kembali mengingat perkataan Yebba nya dulu. Sampai saat ini ia belum memberikan jawaban pada nya.
Semilir angin dari dingin nya AC samar-samar membuat mata menyayu. Perlahan mata Bagir menutup dan dengkuran halus mulai terdengar. Mahda yang memang sedang tidak enak badan pun merasakan kantuk melanda, dan dengan pelan mulai tertidur.
*
*
Gada-gada putih menjulang tinggi dengan simbol Al Qur'an besar terbuka berada di tengah-tengah nya. Seperti melihat Makkah Gate. Gerbang seperti menyabut rombongan ustadz Muhammad sekeluarga ketika mulai memasuki area pesantren.
__ADS_1
Pepohonan hijau berbaris rapih di sepanjang jalan menuju lokasi pesantren inti. Dengan berbagai macam bunga tak lupa menghiasi, menambah pemandangan indah di antara deretan pepohonan yang rindang.
* * * *