Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Kebetulan?


__ADS_3

Lembayung senja mulai menghiasi langit, warna keemasan dengan sejuta pesona menjadi penghias di ujung hari. Guratan awan yang membentang memias, melebur dengan warna keemasan.


Mahda yang sudah terlihat lebih baik mencoba bersantai di balkon kamar. Menatap senja yang mulai terbenam seiring matahari yang menyudahi tugas nya siang ini.


Di usap nya perut rata yang terkadang masih merasa mual, apalagi di waktu pagi hari.


"Masuk yuk, udah sore" ajak Syihab lembut.


Mahda tersenyum dan perlahan bangkit, berjalan perlahan dengan tangan memeluk pinggang Syihab.


"Kapan balik ke pondok?" tanya Mahda pelan.


"Setelah Umma sehat" jawab Syihab.


"Mahda sehat kok, gak enak ninggalin tugas lama-lama" lirih Mahda.


"Emang yakin di pondok gak bakalan kumat kaya gini?" tanya Syihab risau, pasal nya ia takut jika di pondok Mahda akan seperti ini namun ia tak bisa berada di samping nya.


"Bismillah, insyaa Alloh Mahda kuat kok" jawab Mahda tersenyum.


"Kita lihat nanti" balas Syihab.


Membuat susu adalah rutinitas Syihab saat ini selama beberapa hari terakhir, sebelum mereka di pisahkan oleh tembok yang begitu tebal.


Pun dengan tangan yang akan menjadi bantal untuk Mahda tidur dan memindahkan nya setelah Mahda benar-benar nyenyak.


..


Setelah banyak pertimbangan akhir nya Mahda di izinkan kembali ke pondok dengan beberapa peraturan yang harus ia patuhi.


Yemma Hani turut mengantarkan Mahda ke pondok, menjaga selama di perjalanan agar tak terjadi hal yang tidak di inginkan.


"Pusing lagi kak?" tanya Yemma Hani.


"Engga Ma" jawab Mahda.


"Kalau ada apa-apa langsung bilang sama suami kamu, jangan di tahan!" ucap Yemma Hani memperingati.


"Iya Ma" jawab Mahda lirih.


Yemma Hani tak main-main dengan ucapan nya yang akan mengantarkan Mahda hingga ke dalam. Seperti santri baru yang baru masuk, Mahda di antarkan Yemma Hani hingga ke dalam ghurfah.


"Yemma udah ih, kakak malu" keluh Mahda saat Yemma Hani bersikeras membantu Mahda membereskan lemari nya, guna mengganti beberapa baju dengan baju yang baru ia bawa dari rumah.


Para santri yang hilir mudik terlihat tersenyum ke arah Mahda dan Yemma Hani. Mereka tau Yemma Hani adalah jebolan pondok sini dan ia termasuk orang yang di hormati di pondok sini, mengingat Yebba Zein adalah salah satu ustadz yang selalu mengisi banyak acara.


"Malu kenapa? Yemma cuma bantuin kakak" jawab Yemma Hani.


"Kakak masih mampu Ma, ayolah kata nya Yemma mau sowan sama Hubabah, gih biar kakak yang beresin lemari, nanti tas nya kakak anterin ke mobil" tutur Mahda.


"Kakak, ngusir Yemma?" tanya Yemma Hani.


"Sedikit" cengir Mahda.


Yemma Hani pun mengalah dan segera keluar dari ghurfah khusus santri yang berkhidmah.


"Mba Mahda" sapa Ratih.


"Beik" jawab Mahda lembut.


"Mba Mahda rumah nya deket kan sama ustadz Haidar?" tanya Ratih tanpa pendahuluan.

__ADS_1


Mahda terdiam sejenak saat mendengar nama Haidar, orang yang pernah singgah di hati nya saat yang lalu.


"Eh, oh, iya. Kenapa Tih?" tanya Mahda tenang.


"Nanti kita tetanggaan ya" jawab Ratih dengan tersenyum manis.


"Eh, iya. Nanti main-main ya ke beyt ana!" titah Mahda.


"Jarak nya segimana sih mba dari rumah nya ke rumah mba Mahda?" tanya Ratih penasaran.


"Kaya dari sini ke asrama putra" jawab Mahda.


Kita lihat nanti, apa Haidar mau main ke beyt? Rasa nya tidak, seumur-umur hubungan aja dia gak pernah ke beyt, padahal dia sohib bang Aly.


Monolog Mahda dalam hati.


Hih, geli kalau inget pernah hubungan sama dia. Ko bisa ya bucin, mohon-mohon sama dia.


Sambung Mahda.


...****************...


3 hari berlalu setelah keberangkatan Mahda ke pondok dan semua nya baik-baik saja. Tak ada mual yang berlebihan seperti waktu di rumah. Seolah mengerti bahwa orang yang selalu memijit nya ketika mual jauh, tak bisa sesuka hati menyentuh nya.


Hari masih gelap namun Mahda sudah terjaga di ruang kantor putri. Setelah sholat malam nya Mahda tak kembali terpejam, rasa nya sulit sekedar untuk tidur barang sekejap. Mahda pun memutuskan untuk ke kantor meski waktu masih menunjukan pukul 2 pagi, bahkan santri putra yang biasa memakmurkan mesjid belum terdengar mengaji seperti biasa nya. Suasana masih benar-benar sepi, hanya suara katak dan jangkrik yang masih saling bersahutan.


"Mata ko gak sepet-sepet ya, masih lama banget ke pagi, nanti pas pagi aja ngantuk" gerutu Mahda sambil memeriksa tugas kelas nya.


"Lucu-lucu ya hasil ngewarnai anak kecil" gumam Mahda sambil melihat lembar demi lembar hasil mewarnai anak RA.


Mata Mahda menurun melihat perut nya lalu mengusap nya pelan. Sentuhan hangat yang semoga di dalam nya merasakan betapa ia sangat menyayangi nya meski raga nya belum terasa.


..


Mengajar anak-anak memang perlu extra sabar, pun dengan Mahda kali ini dengan tingkah anak-anak yang bermacam tingkah nya. Berlarian, makan di dalam kelas, asyik sendiri dengan mainan nya, uhh.


"Mba Mahda" bisik Ratih.


"Astaghfirulloh, ngagetin aja ente Tih" jawab Mahda.


"Hee, al'afwu" balas Ratih.


"Ngelamun apaan sih?" tanya Ratih.


"Mikirin suami saya, eh enggak" jawab Mahda keceplosan.


"Hah? Suami? Siapa?" tanya Ratih yang terkejut mendengar Mahda menyebut kata suami.


"Enggak, ana salah ngomong" ralat Mahda.


"Aneh" timpal Ratih yang masih bisa terdengar oleh Mahda.


Perasaan akhir-akhir ini bagian sama Ratih terus? Di sengaja apa emang kebetulan?


Batin Mahda.


Jam mengajar usai, Mahda buru-buru pergi ke hammam sebelum yang tertahan di mulut nya keluar begitu saja. Menghempaskan orang-orang yang menghalangi jalan nya.


Lega


Satu perasaan yang Mahda rasakan saat sesuatu keluar dari tubuh nya hingga rasa masam begitu terasa di lidah nya.

__ADS_1


"Enta hamil Da?" tanya Afiyah yang terlihat khawatir melihat Mahda begitu pucat dan baru saja muntah.


Mahda mengangguk menjawab orang yang mengetahui hubungan dengan Syihab.


"Ahhh congrats Da, berapa bulan?" tanya Afiyah lagi.


"8 minggu sekarang" jawab Mahda lagi.


"Istirahat aja gih, biar ana yang ngehitung uang buat laundry-an, di kantor kan uang nya?" tanya Afiyah.


Mahda mengangguk, tak banyak yang ia ucapkan. Ia hanya ingin segera mengistirahatkan tubuh nya apalagi ia belum memejamkan mata nya sejak jam 2 pagi tadi.


...****************...


"Bagaimana keadaan nya? Apa dia menyusahkan?" tanya Syihab dan mengelus perut Mahda.


Keadaan kamar terlihat sepi karna ustadz yang lain masih berada di mesjid, sedangkan Syihab tengah bersiap untuk ikut bersama ustadz Muhammad.


"Tidak, hanya saja-" perkataan Mahda menggantung.


Mahda di tarik ke dalam kamar setelah Syihab memastikan bahwa tak akan ada yang ke sini dalam waktu beberapa puluh menit ke depan.


"Kak, ini di pondok" cicit Mahda takut ketahuan, apalagi ia kesini dengan Ratih yang tengah mengantarkan rantang pada ustadzah Rahmah.


"Emang mau ngapain? Cuma pengen ngobrol kok, kangen gak ketemu beberapa hari, apalagi sekarang mau berangkat ikut sama ustadz Muhammad" tutur Syihab lalu membiarkan Mahda duduk di kasur milik nya.


Satu ruangan yang hanya cukup untuk kasur kecil dan lemari, itu lebih dari cukup bagi Syihab yang hanya seorang diri menempati nya.


Cup


Syihab mengecup perut Mahda dan mendusel lembut.


"Jangan nakal ya, Aba pergi dulu bentar, entar pulang Aba tengok" tutur Syihab.


Tuk


"Ko nimpuk sih Ma?" keluh Syihab karna Mahda menimpuk pelan kepala nya.


"Kakak ngomong nya gitu" timpal Mahda.


"Ko kakak?" protes Syihab.


"Ma'af, belum terbiasa" jawab Mahda.


"Tak apa, boleh bantuin masukin baju ke tas itu?" tanya Syihab sambil menunjuk tas kecil di atas lemari.


"Boleh" jawab Mahda dan segera melaksanakan perintah nya, sementara Syihab makan agar bisa cepat siap untuk berangkat pagi ini. Tak banyak yang Syihab makan, hanya untuk mengganjal perut nya.


"Bakalan rindu, pergi nya 5 hari" ucap Syihab sambil memeluk Mahda.


"Yang penting pulang dengan selamat" timpal Mahda dan mengusap jambang Syihab lembut.


"Ana pamit ya, takut ada yang liat" pamit Mahda.


Syihab mengangguk. Mahda keluar dengan hati-hati setengah berjinjit sampai di samping rumah ustadzah Rahmah.


Bersuamikan asisten dari guru nya membuat nya harus sabar kala rindu namun tak bisa bertemu. Berharap lantunan Al Fatihah bisa membuat nya tenang dan rindu nya tersampaikan.


"Mba Mahda?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Pengen di kasih bunga atau kopi biar nulis nya semangat😁 Malak ahh gak papa🤪


__ADS_2