
Senja mulai nampak mengganti tugas matahari yang hampir 12 jam menyinari belahan bumi. Jingga merah di sudut langit seolah menjadi lukisan alami setiap sore.
Mahda yang tak di izinkan berangkat hari ini akhir nya memilih untuk pergi ke kamar nya, menumpahkan rindu pada kamar yang selalu membuat nya nyaman, dulu, sekarang dimana pun ada Syihab di situ Mahda nyaman.
Mahda duduk di sofa yang berada di kamar nya, menatap keluar jendela mengamati senja yang terus memerah. Membawa beberapa snack hasil rampasan dari Sulthan dan memboyong nya langsung ke kamar tanpa memperdulikan Sulthan yang cemberut karna ulah nya kali ini.
1 cup minuman berwarna putih dengan butir-butir kecil di cup bawah nya menemani acara nyemil Mahda sore ini. Tak ingin berbagi sekalipun pada sang suami yang sedari tadi meledek nya, meminta agar Mahda berbagi sedikit makanan nya.
..
Selepas maghrib dan segala ritual nya, Syihab duduk di tempat Mahda tadi. Menatap keluar, taman dengan berbagai bunga juga tumbuhan yang lain nya terlihat menghampar, mempercantik taman yang cukup luas, menghadiahi mata nya dengan pemandangan tersebut. Beberapa lampu yang begitu terang terpasang di taman, membuat berbagai bunga bisa terlihat jelas meski di waktu malam.
"Kak, jangan di situ ! Itu tempat Mahda" paten Mahda menghampiri Syihab.
"Bentar kakak lagi liat taman, cakep banget ya kalau liat dari sini" tutur Syihab.
"Iya. Udah kan liat nya?" Mahda terus saja mendesak sang suami agar segera beranjak dari tempat favorite nya.
"Sabar sayang" timpal Syihab yang masih mengulur waktu.
Merasa gemas pada sang suami yang enggan beranjak, Mahda berdiri tepat di hadapan Syihab yang seolah mengusir.
"Ka-awww"
Belum sempat Mahda mengomel Syihab sudah terlebih dahulu menarik Mahda hingga jatuh ke dalam pangkuan nya. Saling berhadap-hadapan dengan kaki Mahda yang tertekuk, percayalah jika ada orang yang melihat nya akan berbeda lagi fikiran nya.
"Berat juga ya kamu" ucap Syihab menggoda Mahda.
"Huh, gak suka jadi sama saya yang gemoy ini?" tanya Mahda tak suka dengan sindiran sang suami.
"Suka, kamu tuh demplon" jawab Syihab dengan hati-hati saat mengatakan kata demplon.
"Ihh" sebal Mahda dan mencubit hidung mancung Syihab.
Syihab terkekeh tanpa menimpali kekesalan Mahda. Mahda terus saja menggerutu bahkan pukulan-pukulan kecil sudah mendarat cantik di dada bidang Syihab karna Syihab masih enggan beranjak, bahkan betah dengan posisi sekarang, Mahda duduk di pangkuan nya.
Ekheeemmmm..
Satu deheman keras terdengar dan menghentikan aktifitas Mahda dan Syihab yang tengah bergurau. Seketika Mahda menoleh, melihat siapa yang masuk ke kamar nya tanpa izin di saat ia sedang bersama sang suami.
Orang tersebut mendelik dan menatap tajam pasangan yang masih enggan mengubah posisi nya.
"Masih jam segini udah mau mulai? Ckckck, yang benar saja. Lagian posisi gitu di larang Hab, ente tau kan?" decik Aly.
Ya, orang yang masuk ke dalam kamar tersebut adalah Aly.
"Iya ana tau. Gak lagi gituan kok, pakaian kita masih lengkap nih, adek ente aja masih cakep belum acak-acakan" tutur Syihab lalu melepaskan Mahda.
"Abang kapan pulang? Kenapa masuk ke sini gak ngetuk pintu dulu?" tanya Mahda setengah kesal.
"Tadi sore dateng, udah ngetuk pintu dari tadi, kalian aja yang gak denger sibuk romantisan di sini" jawab Aly dingin.
__ADS_1
"Ini kunci motor kamu, abang bawa pulang. Hab di panggil Yebba" sambung Aly dan kembali berjalan keluar setelah menaruh kunci motor milik Mahda, meninggalkan pasangan yang masih grasak grusuk memperebutkan tempat duduk.
"Syukron bang" timpal Syihab.
"Ih, geli ya manggil dia abang" Syihab terkekeh setelah Aly pergi.
"Isshh, kakak. Mau nanya sih, boleh?" tanya Mahda dengan menatap Syihab serius. Kini Mahda sudah duduk benar di samping Syihab, tak seperti tadi, posisi yang bisa salah faham.
"Yang kata bang Aly tadi, emang apaan?" sambung Mahda lagi.
"Yang mana?" tanya balik Syihab.
"Yang Mahda duduk di pangkuan kakak loh" jawab Mahda polos.
"Oh itu, gini ya. Eh, belum ngaji ini emang?" tanya Syihab lagi.
"Udah sih, cuma pengen di jelasin aja sama ustadz ganteng" jawab Mahda, menampilkan senyum manis nya.
Ekheemmm..
Syihab berdehem lalu duduk dengan tegap menghadap Mahda.
"Posisi yang di larang dalam agama itu ada 5:
Berhubungan melalui anal atau *****
Istri di atas suami, takut punya suami patah, dan kalau gak salah bisa mengakibatkan tulang punggung istri sakit dan cepat rapuh"
"Bhahahaha" tiba-tiba Mahda tertawa membayangkan alat suami nya patah.
"Hih, ketawa nya ko gitu" ucap Syihab.
"Oh ya ma'af, lanjutkan ustadz!" pinta Mahda lagi namun fikiran nya masih bertraveling membayangkan yang patah, betapa ngilu nya jika terjadi.
"4. Posisi miring
Posisi meringkuk
Udah ya, sekarang udah tau" ucap Syihab mengakhiri.
__ADS_1
"Kaya nya kamu harus les private sama ustadz tampan mu ini sayang" goda Syihab.
"Dengan senang hati" timpal Mahda.
"Tapi dengan imbalan" goda Syihab lagi dengan menaikan sebelah alis nya.
"Hih, mau nya" Mahda menimpuk Syihab dengan bantal kecil yang dari tadi ia pegang. Sementara Syihab terkekeh geli karna berhasil menggoda sang istri.
"Kakak nemuin Yebba dulu ya" pamit Syihab pada akhir nya setelah sebelum nya mengecup kening sang istri yang sudah merasa menang akhir nya tempat nya terambil alih lagi oleh nya.
......................
"Gimana kalau 3 bulan lagi Yebba? Setelah 100 hari nya Mama sama Abi?" tanya Syihab sopan.
Perbincangan nya kali ini adalah mengenai pernikahan Mahda dan Syihab. Secara agama mereka sudah sah, tapi mereka belum terdaftar di catatan sipil.
Mahda sudah berulang kali meminta agar mengurus surat-surat nya, tak perlu kembali mengucapkan ijab qobul. Seperti saat Yebba dan Yemma nya dulu, namun Syihab menolak dengan halus. Ia bersikukuh ingin kembali mengikrarkan Mahda, menjalani proses pernikahan seperti pada umum nya, di arak dan di sambut.
Menyebalkan
Fikir Mahda.
Sebelum nya acara pernikahan Mahda dan Syihab akan kembali di gelar 1 bulan lagi, namun mengingat kini ke dua orang tua Syihab sudah tiada mengharuskan Syihab mengurus semua nya, termasuk biaya untuk pernikahan nya nanti. Untung saja ia sudah mempunyai usaha kecil-kecilan meski baru merintis, tak begitu memusingkan nya di saat ini.
"Di percepat saja gimana? Yebba takut Mahda keburu hamil tapi kalian belum punya surat nikah, secara agama sah dan mungkin bagi yang tau gak akan mempermasalhkan nya, sementara yang gak tau, gimana? Kamu tau sendiri gimana bibir orang-orang zaman sekarang kan Hab" tutur Yebba Zein, mengutarakan kehawatiran nya.
"Ana masih ngumpulin uang buat biaya nya dulu Ba, karna jujur, uang tabungan Syihab belum cukup untuk acara nanti" lirih Syihab lemah.
"Gak papa, masalah biaya Yebba gak bakal ngebebanin kamu Hab. Ini acara anak Yebba juga, gak mungkin kan Yebba ngebebanin kamu sepenuh nya" tutur Yebba Zein lembut sembari menepuk pundak Syihab.
"Boleh nanti ana bicarain dulu sama Mahda, Yebba?" tanya Syihab sopan.
"Tapi kalau menurut abang, boleh di ambil saran dari Syihab Ba. Mungkin dia pengen yang terbaik buat acara nanti. Masalah kehamilan, zaman sekarang bisa di tunda, banyak cara juga Ba. Lagian, Mahda di pondok lagi sibuk-sibuk nya tuh Ba, 3 bulan lagi cukup, penerimaan santri baru juga udah selesai. Mahda sama Syihab jadi ketua penerimaan santri baru nanti" jelas Aly menengahi tanpa mengurangi rasa hormat nya pada sang Yebba.
Dan pada akhir nya keputusan di ambil dari saran Aly yang sesuai dengan keinginan Syihab. Namun Yebba Zein meminta agar ia di izinkan untuk menyiapkan acara pernikahan Syihab dan Mahda nanti. Dan Syihab menyetujui nya, tak mungkin ia mengurus nya sendiri bukan?
......................
Syihab berjalan mengendap-ngendap, membuka knop pintu sepelan mungkin agar Mahda tak mengetahui ia masuk ke dalam kamar.
Kamar sudah terlihat sedikit gelap dengan penerangan hanya dengan lampu tidur. Syihab menelisik ke setiap penjuru ruangan, mencari keberadaan sang istri yang tak terlihat di tempat tidur nya.
Syihab tersenyum lalu berjalan menuju sofa, melihat sang istri yang meringkuk dengan ke dua kaki naik ke atas sofa.
"Kenapa tidur di sini?" tanya Syihab namun tak ada jawaban. Sudah pasti, karna Mahda tidur.
Dengan pelan Syihab memindahkan Mahda ke atas tempat tidur lalu menyelimuti nya. Beruntung Mahda sudah berganti dengan baju kenegaraan nya hingga Syihab tak perlu mengganti nya, daster.
Dan malam ini benar-benar do'a Mahda terkabul dan do'a readers tak terkabulš¤£š¤£
Ikut masuk ke dalam selimut tebal, berbaring sambil memeluk tubuh sintal Mahda. Menghirup aroma tubuh sang istri yang sudah menjadi candu bagi nya.
__ADS_1
......................