
"Mba Mahda?"
Mahda tertegun saat seseorang memanggil nama nya. Hati nya mulai gusar, dag dig dug tak karuan dengan segala firasat yang ada di benak nya. Mahda memutar tubuh nya dan melihat siapa yang tadi memanggil nama nya.
"Huh, ana kira siapa" gumam Mahda pelan.
"Hee, tolong titip ini ke ustadzah Nur, buat tugas kelas 2" ucap ustadz Iman.
"Ya kher ustadz" timpal Mahda dan segera kembali berjalan setelah menerima beberapa lembaran untuk tugas kelas 2.
"Was was banget, tak kirain siapa yang manggil. Takut banget orang itu liat ana keluar dari ghurfah nya kak Syihab. Oh ya, Ratih? Apa udah balik ya dari beyt ustadzah Rahmah?" gumam Mahda pelan.
Setelah memberikan tugas titipan kepada ustadzah Nur, Mahda kembali ke ghurfah untuk bersiap kembali mengajar. Menjalankan rutinitas seperti biasa nya.
..
3 hari tak bertemu dengan Syihab rasa rindu nya kian menggebu, padahal biasa nya tak bertemu dalam seminggu pun biasa-biasa saja.
"Gak enak gini ya perasaan" ucap Mahda lirih saat berjalan menuju dapur pondok.
"Mba" panggil seseorang dari balik pagar.
Mahda pun berjalan menghampiri, ia sudah faham jika di balik pagar tersebut seseorang yang hendak meminta teh. Namun langkah nya terhenti saat melihat sosok di balik pagar tersebut.
"Mba" panggil lagi orang tersebut.
"Mahda, tolong ambilin!" titah Zulaikha tiba-tiba.
"Iisshhh" Mahda mendelik, baru saja ia berniat kembali namun Zulaikha sudah terlebih dulu melihat nya.
Dengan ogah-ogahan Mahda mengambil teko di tangan Haidar.
"Jangan cemberut, ana makin suka" ucap Haidar pelan.
"Tolong jaga ucapan nya. Antum sebentar lagi zuad" ucap Mahda penuh penekanan.
Mahda tak habis fikir dengan Haidar, jelas-jelas penolakan terus di bentangkan bahkan ia sudah di jodohkan tapi tetap saja kata-kata yang tak seharus nya di ucapkan masih ia ucapkan.
Jika bukan karna tugas ia malas kembali mengantarkan teko teh hangat yang sudah jelas Haidar telah menunggu nya di samping pagar.
"Tapi ma'af, nama antum masih di hati ana. Ana masih berharap antum suatu saat bisa bersama ana" tutur Haidar lagi.
"Jangan pernah melangkahi takdir-Nya" balas Mahda masih dengan penuh penekanan.
Dada nya bergemuruh, nafas nya naik turun tak terkendali. Berhadapan dengan Haidar rasa nya selalu membuat nya emosi. Pengutaraan terus di lontarkan seiring dengan penolakan yang Mahda bentangkan.
"Mba Mahda kenapa?" tanya Alfi.
"Gak papa" jawab Mahda dengan menampakan senyum manis andalan nya.
"Muka nya pucet banget loh mba, mba yakin gak papa?" tanya Alfi meyakinkan.
Mahda mengangguk.
__ADS_1
Ana fikir laki-laki yang mengejar istri orang hanya ada di dunia perhaluan, ternyata ini terjadi di hidup ana sendiri. Yassaalaaam, dosa apa sih?
Batin Mahda.
......................
5 hari berlalu setelah keberangkatan Syihab menemani ustadz Muhammad pergi berdakwah. Mahda seakan menghitung detik demi detik kepergian sang suami, hingga hari ke 5, hari yang sangat ia nanti pun tiba. Jika jadwal nya tak melenceng hari ini Syihab pulang.
Senyum manis sedari pagi terus terukir di bibir Mahda, seperti tengah bersiap menyambut kedatangan sang suami hari ini.
"Senyum terus, gak pegel tuh bibir?" cibir Zulaikha yang terkesan biasa saja di telinga Mahda.
Ucapan Zulaikha memang seperti pedas, namun pada kebenaran nya Zulaikha baik, hanya sedikit ketus.
"Enggak, mood nya lagi baik makanya senyum terus" elak Mahda.
"Bukan mood baik, cuma seneng Syihab hari ini pulang" tebak Zulaikha.
"Tuh mba Zul tau" timpal Mahda tak berusaha menyangkal.
"Sudah bisa di tebak" balas Zulaikha.
Siang sudah berganti dengan malam, matahari sudah sedari tadi berpamitan kembali ke peraduan nya. Senyuman Mahda mulai luntur manakala yang di tunggu belum juga kembali. Ustadz Muhammad yang biasa nya pulang di siang hari sampai malam hari belum juga kembali, bahkan sudah hampir tengah malam.
Mahda memutuskan untuk ke hammam, melakukan ritual nya sebelum tidur. Menggosok gigi dan berwudhu.
"Eh? Ko perasaan ada yang keluar?" gumam Mahda.
Deg
Mahda tertegun melihat noda di celana nya. Noda yang seharus nya tak nampak di masa kehamilan nya.
"Ko bisa? Ya ampun, gimana ini?" Mahda panik sendiri.
Mahda segera keluar, perasaan nya mulai tak tenang. Ingin mengadu namun entah pada siapa. Sedangkan Syihab kini belum kembali.
Apa ke bang Aly aja ya?
Batin Mahda.
Secepat mungkin Mahda menyambar jubah nya dan berjalan ke dapur, meminta izin untuk menggunakan hp pondok padahal bukan waktu nya.
Bang, Mahda pengen ketemu, penting. Di saung depan store ya.
Satu pesan terkirim pada nomor bernamakan Ustadz Aly.
"Syukron"
Mahda mengembalikan ponsel pada ustadzah Nur dan pamit kembali. Berjalan melewati kantor dan ruang Marwah untuk tiba di saung depan. Terlihat Aly tengah duduk di bangku yang memang tersedia di sana.
"Ada apa? Udah malem kak, waktu nya regud" tanya Aly namun tak menyembunyikan kegelisahan nya.
Hampir tengah malam namun sang adik tiba-tiba mengajak nya bertemu padahal bukan waktu nya bertemu, pastilah ada hal penting yang harus di sampaikan. Mengenyampingkan konsekuensi jika ada ustadz lain yang memergokinya berduaan dengan sang adik bukan pada waktu nya.
__ADS_1
Meski adik kakak dan terbilang sudah dalam masa berkhidmah, namun ada aturan yang harus tetap mereka patuhi, seperti hal nya ini, jika tidak begitu penting maka tak bisa seenak nya bertemu.
"Bang, Mahda keluar darah" lirih Mahda setengah menangis.
"Hah? Apa? Ya Alloh, ko bisa? Keguguran maksud nya?" tanya Aly yang terlihat panik.
"Gak tau, cuma di celana Mahda ada darah nya" jawab Mahda yang mulai terbawa suasana menyedihkan.
"Tenang dulu, oke. Sekarang balik ke ghurfah, positif thinking, jangan berfikiran yang aneh-aneh. Besok abang anter periksa" titah Aly dan berusaha menenangkan Mahda.
Aly tau Mahda tipikal orang yang panikan, jangankan yang menyangkut dengan diri nya, melihat Sulthan muntah-muntah saat sedang bersama nya pun Mahda panik tak karuan hingga menangis.
"Tapi Mahda takut. Kak Syihab kapan pulang?" tanya Mahda di sela-sela tangisan nya yang tertahan.
"Jangan takut, bismillah gak papa. Abang gak tahu, mungkin ada perubahan jadwal" jawab Aly.
"Jangan cengeng, udah mau jadi ibu kok cengeng" sambung Aly bernada ledekan.
"Mahda panik ini bang, takut" timpal Mahda.
"Gak usah takut, berdo'a sama Alloh gak bakalan kenapa-kenapa" tambah Aly menenangkan.
Mengusap puncak kepala Mahda lembut lalu menyuruh nya segera kembali ke dalam asrama sebelum gerbang hitam di tutup.
Dengan langkah yang gontai Mahda kembali ke pondok. Merebahkan diri nya setelah melepas jubah dan kerudung phasmina yang asal ia lilitkan. Berbaring di bawah remang-remang dari sinar lampu mesjid utama yang menyeruak masuk ke dalam asrama.
Segala rasa risau ia usahakan membuang nya jauh-jauh. Menetralkan hati yang sedari tadi terus tak menentu perasaan nya. Gelisah yang melanda kian menggusarkan hingga mata Mahda terpejam dengan sendiri nya.
..
Jam menunjukan pukul 1 dini hari saat mobil berwarna hitam mulai memasuki gerbang hitam. Mobil yang hampir tak terdengar suara nya ketika masuk ke samping rumah jika saja suara pintu mobil tak terdengar menutup.
Syihab dengan tubuh lelah nya membantu mang Iyad mengambil koper dan beberapa dus pemberian jama'ah atau pengundang ustadz Muhammad.
Di lirik nya asrama yang di dalam nya ada Mahda yang mungkin kini tengah terlelap tidur dan merangkai mimpi.
Andai saja sudah tinggal bersama, cape gini pulang ada yang bisa di peluk.
Gumam Syihab dalam hati lalu menutup kembali gerbang hitam setelah mobil keluar.
Sabar, beberapa minggu lagi.
Batin nya lagi.
Ya, setelah mengetahui Mahda hamil acara dengan terpaksa di undur, menyesuaikan kondisi Mahda yang masih naik turun dengan morning sickness nya.
Sementara itu dalam tidur nya Mahda serasa bermimpi Syihab sudah kembali pulang, bahkan suara mobil nya jelas begitu terdengar di telinga nya, seolah mobil tersebut masuk ke samping asrama yang ia tempati.
Padahal sih iya, hehe.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cukup yaaa, kita do'akan yang terbaik buat Mahda ya😢
__ADS_1