Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Hampir Lupa


__ADS_3

Mahda terdiam saat Syihab berhasil memeluk nya. Lagi-lagi hati berdebar tak karuan untuk ke sekian kali nya. Bayangan-bayangan tak terduga datang silih berganti menghampiri fikiran Mahda.


Akankah malam ini?


Batin Mahda.


Masih dengan posisi yang sama, Syihab terlalu betah memeluk Mahda. Mencari kenyamanan dari sang istri hingga enggan melepaskan nya.


"Kak" lirih Mahda.


"Beik" timpal Syihab tanpa melepas pelukan tersebut.


"Ana sesek" lirih Mahda lagi.


"Ma'af" ucap Syihab saat mengurai pelukan yang terlalu nyaman bagi nya.


"Kenapa?" tanya Syihab melihat wajah Mahda yang berubah sendu.


"Gak papa" jawab Mahda.


"Jujur!" titah Syihab.


"Emm, janji jangan ninggalin Mahda?" ucap Mahda kali ini.


"Insya Alloh" timpal Syihab.


"Iihhh" Mahda kembali mengerucutkan bibir nya, merasa tak puas dengan jawaban Syihab.


"Kenapa? Kita gak tahu umur kita dan kapan ajal menjemput. Tapi kakak akan berusaha seumur hidup kakak untuk jagain kamu dan bahagiain kamu" tutur Syihab menenangkan hati Mahda. Syihab tau Mahda mempunyai masa lalu yang menyakitkan dan takut jika hal itu Mahda rasakan kembali.


Meraih dagu Mahda dan menatap nya penuh cinta. Namun raut wajah Mahda terlihat ada sedikit keraguan, ketakutan, kehawatiran.


Apa dia trauma karna hal kemarin?


Batin Syihab menerka-nerka.


Syihab semakin mengikis jarak, membuang semua pembatas. Gemericik hujan di luar seakan menjadi irama. Pendukung kehangatan yang mungkin saja akan ia raup malam ini.


Cup


Satu kecupan kembali Syihab daratkan di bibir ranum milik Mahda. Tak ada keterkejutan seperti sebelum nya, hanya tatapan Mahda yang masih sendu dan ragu-ragu.


"Jangan takut, tidak semua laki-laki sama seperti Ahmad" ucap Syihab lalu kembali memeluk Mahda.


Memberikan ketenangan atas segala ketakutan juga kerisauan nya tentang pasangan.


Jam sudah menunjukan pukul 23.15, namum hujan masih belum juga reda. Sedangkan gerbang utama pasti sudah di tutup oleh santri yang berjaga.


Akhir nya Syihab dan Mahda memutuskan untuk tidur di rumah malam ini. Tak lupa memberi kabar terlebih dahulu pada Ummi, takut-takut Mahda di cari oleh penghuni pondok.


Dan memang benar saja, para santri putri apalagi Afiyah kelimpungan mencari Mahda yang menghilang sejak tadi pagi. Pasal nya ia harus merekap sendirian pekerjaan nya.

__ADS_1


*


*


"Gak ada selimut besar, gak papa?" tanya Syihab khawatir melihat Mahda kedinginan. Hanya ada selimut kecil yang muat untuk satu orang dewasa.


"Gak papa" jawab Mahda masih anteng berbaring di atas kasur.


Syihab meraih selimut dari lemari kecil yang ada di kamar tersebut. Menyelimuti Mahda yang menautkan ke dua kaki nya guna mengurangi sedikit rasa dingin nya.


"Aawwww.." Mahda menjerit saat Syihab masuk, menyelusup dari bawah selimut hingga menyentuh perut nya.


"Geli tau kak" ucap Mahda mencubit hidung Syihab saat kepala Syihab menyembul dari dalam selimut.


"Mau di angetin gak?" goda Syihab lagi.


"Apaan sih, di angetin? Emang lauk nasi?" gerutu Mahda.


"Ngangetin kamu maksud nya Da" timpal Syihab.


"Mahda atau kakak?" Mahda membalikan ucapan Syihab sambil mendelikan mata nya jengah.


"Dua-dua nya" timpal Syihab lagi.


Tanpa di komando Syihab langsung menyambar bibir ranum dan indah milik Mahda. Menyesap nya perlahan dan penuh cinta. Penyatuan bibir yang semakin lama semakin menuntut.


Nafas Mahda terengah-engah mendapat ci*man mendadak di saat ia belum siap sepenuh nya. Namun ia berusaha mengimbangi meski pada kenyataan nya ia tak bisa, ini pengalaman pertama bagi nya.


"Teima kasih" ucap Syihab saat merasa puas mencicipi bibir ranum Mahda. Mengelap bibir sang istri dengan jari nya.


"Sayang geli" ucap Syihab karma merasakan geli dari hembusan nafas Mahda. Bulu-bulu nya meremang bahkan hormon nya mulai meningkat.


"Ana ngantuk kak" lirih Mahda.


Dan benar saja, tak berapa lama kemudian Mahda tertidur dengan wajah bersembunyi di dada bidang Syihab. Meninggalkan Syihab yang tengah di landa gejolak.


Hampir saja ia lupa dan hampir menyerang Mahda. Namun ia tak mau gegabah, melewatkan moment pertama kali nya tanpa kehadiran kesadaran Mahda.


Ada rasa ngilu namun harus bagaimana lagi, mengganggu tidur Mahda pun Syihab tak sanggup. Dan pada akhir nya malam itu ia kembali zonk, gagal meraup kehangatan surga dunia, namun kehangatan pelukan bisa ia dapatkan.


Greget gak sih weeeyyyy🤪🤪


.


.


Pukul 3 dini hari Mahda sudah kembali bangun, bersiap kembali ke pondok sebelum para santri terbangun.


Dengan berjalan mengendap-ngendap Mahda memasuki gerbang hitam. Terlihat Zulaikha yang tengah menunggu nya sesuai permintaan Syihab di telpon tadi.


"Seger banget yang habis bobok sama suami" ledek Zulaikha.

__ADS_1


"Iisshhh, apaan sih" elak Mahda.


"Senyum-senyum terus tuh, abis tugas negara ya?" ledek Zulaikha lago.


"Fudhul banget jeh" timpal Mahda.


"Gimana rasa nya Da?" tanya Zulaikha lagi di sela-sela langkah kaki nya menuju asrama. Membantu beberapa belanjaan milik Mahda.


"Nano nano mba" jawab Mahda asal.


Gimana mau tau rasa nya, gituan aja belum. Isshh, malah merinding gini inget semalem.


Mahda kembali tersenyum mengingat lamunan nya.


Memasuki asrama ia melihat baru satu dua yang terbangun dan tengah melaksanakan sholat tahajjud. Sementara Mahda segera membereskan belanjaan nya lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


.


"Mahda, kemarin kemana sih, aku pusing loh, data belanja di ente sebagian" gerutu Afiyah saat selesai menyiapkan sarapan pagi hari ini.


"Oh ma'af" jawab Mahda tanpa rasa bersalah.


"Ma'af doang, bantuin lah hari ini. Harus di serahin nanti sore loh" jelas Afiyah.


"Hah, gak ngasih tau sih Fi" kesal Mahda karna tak mungkin menyelesaikan nya dalam waktu cepat.


"Ayok ke kantor, catetan nya di sana!" Mahda menarik tangan Afiyah dengan cepat menuju kantor yang berada di samping ruang Marwah.


Membuka lemari khusus diri nya untuk menyimpan berbagai data. Data pengeluaran misal nya. Saking sibuk dan khusu nya hingga Mahda melupakan tugas nya untuk mengantarkan sarapan untuk asatidz di kamar baru.


"Mahda" panggil Samirah dengan suara keras nya, beridiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang.


"Beik, kenapa mba Ira?" tanya Mahda tanpa menoleh sedikit pun pada Samirah. Ia memilih terus mencocokan catatan pengeluaran bulan ini.


"Ente belum nganterin sarapan buat asatidz?" tanya Samirah.


"Allah kareem, ana lupa. Bentar-bentar, Fi ana tinggal dulu ya" Mahda panik bukam main, jam menunjukan pukul setengah 8 tapi Mahda belum mengantarkan sarapan untuk asatidz, bisa-bisa mereka sudah kelaparan sekarang.


Mahda tergopoh-gopoh menuju dapur dan mengambil tepak-tepak yang harus ia bawa lalu kembali mengikuti Samirah yang hendak mengantarkan sarapan.


Sepanjang perjalanan menuju kamar asatidz, Samirah tak henti-henti nya menggerutu karna Mahda telat mengantarkan sarapan.


"Janji deh gak bakalan gitu lagi" cicit Mahda sambil menyolek lengan Samirah saat perjalanan kembali ke pondok.


"Untung asatidz nya masih pada di mesjid" timpal Samirah dan berlalu masuk ke gerbang hitam, sementara Mahda kembali ke kantor.


Hampir saja ia lupa dan membiarkan sang suami juga kakak nya kelaparan.


Mohon ma'afkan, dua ganteng nya Mahda.

__ADS_1


Gumam Mahda.


........


__ADS_2