
Langit masih terlihat gelap bahkan kokoan ayam baru terdengar saling bersahutan. Hawa dingin masih terasa begitu menusuk, namun tak mengurungkan niat para santri untuk bangun dan melaksanakan rutinitas sholat malam nya.
Mahda yang sedari malam terus gelisah akhir nya memutuskan untuk bangun di jam menunjukan pukul 4. Berjalan menuju kamar mandi yang mulai terlihat antrian oleh beberapa santri.
"Tumben baru bangun Da" sapa Afiyah.
"Iya, gak enak banget badan nya" timpal Mahda.
"Ente sakit? Muka nya gak enak banget di liat" balas Mahda.
"Engga sih" timpal Mahda lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Mahda terkulai lemas saat melihat noda merah semakin banyak. Hati nya semakin gusar tak karuan memikirkan segala ketakutan nya.
Menunggu jam menunjukan pukul 6 begitu terasa lama. Mahda sudah sedari tadi terlihat mondar mandir di dalam ghurfah. Begitu wirid di mesjid putra terdengar selesai, Mahda segera bergegas menuju dapur untuk mengambil rantang dan bisa menemui Aly dengan cepat. Sampai saat itu Mahda belum tahu jika Syihab malam tadi telah pulang.
Srrrtttt.. Bruugghhhh..
..
Afiyah yang kebetulan tengah mendapatkan tamu bulanan baru saja keluar dari kamar mandi. Begitu santai bebas hambatan dari para santri yang mengantri. Menapaki batu hias yang di letakan di depan pintu masuk ke kamar mandi.
"Hah, siapa itu?" gumam Afiyah sambil berjalan menuju seseorang yang terlentang di emper asrama.
"Hah? Mahda? Mahda, hey tolong" teriak Afiyah sambil menepuk-nepuk pipi Mahda.
"Fi, kenapa?" tanya Ummuna dari ambang pintu.
"Mahda pingsan Ummi" jawab Afiyah namun masih terlihat kepanikan.
Ummuna terlihat berjalan menuju ke arah Mahda dan Afiyah. Sementara itu terlihat beberapa orang dari arah luar mulai memasuki gerbang hitam setelah mendengar teriakan Afiyah.
"Ada apa?" tanya ustadz Muhammad.
"Mahda pingsan Bi" jawab Ummi.
"Eha, tolong bantuin" titah Ummi pada Zulaikha.
"Ummi, Mahda lagi hamil" ucap Afiyah tiba-tiba.
"Hah? Hamil?" tanya Ummuna yang terkejut karna tak mengetahui bahwa Mahda tengah hamil.
"Bi, telpon, telpon!" titah Ummuna yang terlihat ikut panik.
Sementara beberapa orang yang lain terlihat tengah membantu membangunkan Mahda, mengusap tangan juga memijit kaki nya, berharap Mahda cepat bangun.
..
Di atas lemari terlihat sebuah ponsel terus saja bergetar, tanda sebuah panggilan masuk, namun sang empu tak terlihat di dalam kamar tersebut.
Syihab yang tengah menyesap kopi di depan kamar nya bersama asatidz yang lain, berusaha melawan kantuk dengan meminum kopi di pagi hari, juga sambil menunggu rantang sarapan nya datang.
Aly yang ikut dalam majlas gahwa tersebut juga tengah menikmati kopi panas nya yang ia buat sendiri di dapur dekat kamar nya. Aly mengambil ponsel nya saat terasa bergetar di dalam saku baju koko nya.
__ADS_1
"Ustadz Muhammad?" gumam Aly sendiri.
"Siapa?" tanya Haidar.
"Ustadz Muhammad" jawab Aly sebelum menyentuh tombol hijau di layar ponsel nya.
Aly menegang sesaat setelah menerima panggilan tersebut dan segera mematikan panggilan nya.
"Hab, ikut ana!" ajak Aly.
"Kemana?" tanya Syihab.
"Mahda" satu jawaban yang membuat Syihab faham dan tak perlu bertanya lagi.
Haidar yang berada di sana ikut cemas melihat reaksi Aly dan Syihab bersamaan. Namun untuk bertanya Haidar tak kuasa meski sesungguh nya ia ikut cemas.
Apa Mahda sakit?
Batin Haidar.
..
Aly dan Syihab berlarian masuk ke dalam area putri, menghiraukan tatapan aneh dari para santri yang tengah mengerjakan tugas harian nya, bersih-bersih.
Para santri yang berada di sana langsung memberikan jalan saat Aly dan Syihab tiba di sana. Sementara Mahda masih dalam kondisi pingsan dan kepala nya di pangku oleh Afiyah yang terus di balurkan minyak kayu putih.
"Syihab, apa Mahda hamil?" tanya Ummuna.
"Iya Ummi" jawab Syihab.
Emang udah nikah? Siapa suami nya?
Batin Ratih dan Alfi yang belum mengetahui hubungan Mahda dan Syihab, bahkan dengan Aly sekalipun.
"Tapi tadi malem Mahda ngeluh keluar darah" sela Aly.
"Keluar darah? Ente gak bilang sama ana Ly" ucap Syihab seperti tak terima sekaligus khawatir.
"Ente kan baru pulang tadi pagi Hab" timpal Aly.
"Sudah-sudah jangan ribut, Ly bawa mobil yang silver ya, ini kunci nya" ucap uatadz Muhammad menengahi.
Aly memang sudah terbiasa menggunakan dan membawa mobil tersebut saat menemani ustadz Muhammad keluar, hingga ia di percaya untuk menggunakan dan merawat nya.
Syihab meraih tangan Mahda dan memijit nya pelan, namun pandangan nya tak lepas dari Mahda yang kian memucat meski tak mengurangi kecantikan di wajah nya.
Uwuuu banget gak sih?
Bisik salah satu santri melihat Syihab yang berusaha membangunkan Mahda.
Tak selang lama mobil masuk hingga ke samping asrama agar memudahkan Syihab membawa Mahda.
"Afiyah, temenin Mahda ya!" titah Ummi.
__ADS_1
"Baik Ummi" jawab Afiyah.
"Mba, boleh minta tolong bawa baju ganti buat Mahda?" pinta Syihab.
Afiyah mengangguk dan segera melepaskan pangkuan nya setelah Syihab memangku Mahda dan memasukan nya ke dalam mobil.
Mobil melaju ke klinik terdekat dan tentu nya terdapat dokter kandungan di dalam nya. Sementara Mahda mulai sadarkan diri saat di tengah perjalanan.
"Mana yang sakit?" tanya Syihab saat Mahda baru membuka mata nya.
"Kapan pulang?" alih-alih menjawab Mahda malih balik bertanya kapan sang suami pulang.
"Kenapa gak bilang kalau keluar darah?" tanya Syihab lagi, sungguh Syihab benar-benar hawatir sejak Aly membisikan Mahda pingsan, di tambah kondisi nya yang tengah hamil dan sekarang keluar darah.
Mahda tak menjawab, ia memilih diam dan segera keluar dari dalam mobil di bantu oleh Afiyah. Mahda lebih baik menghindar, ia takut hal yang di takutkan terjadi dan membuat Syihab hawatir.
..
Probe USG mulai menempel di permukaan kulit Mahda, mencari titik dimana janin Mahda di dalam perut nya.
Dokter perempuan bername tag Hafizah mengkerutkan kening nya saat melihat layar di depan diri nya. Syihab yang duduk di samping Mahda terus memggenggam tangan nya, memberikan kekuatan pada sang istri di sela-sela do'a yang tak pernah terputus.
Dokter Hafizah mengajak Syihab untuk duduk, meninggalkan Mahda yang tengah merapihkan baju nya di bantu oleh perawat yang bertugas.
"Ma'af Pak, istri anda harus segera melakukan tindakam curreted, janin nya tidak berkembang" tutur Dokter Hafizah.
Duaaarrrrrr
Seolah mendapat hantaman yang begitu keras, Syihab mendadak diam dengan mata yang berkaca-kaca tak bisa ia sembunyikan.
"Apa tak ada cara lain untuk mempertahankan nya Dok? Dengan obat penguat janin misal nya" tanya Syihab tak menyerah.
"Tidak bisa, itu bisa membahayakan istri anda sendiri. Di tambah lagi bu Mahda seperti anda ketahui, sudah mengeluarkan darah sejak kemarin" jelas Dokter Syihab.
Dengan terpaksa Syihab menyetujui saran dari Doker. Ia pun berjalan ke arah Mahda lalu memeluk nya erat. Menumpahkan air mata atas kesedihan nya kali ini.
"Kak?" ucap Mahda pelan.
"Kita ke ruang tindakan yuk!" ajak Syihab pelan.
"Untuk apa? Mahda gak kenapa-napa kan? Bayi kita juga gak papa kan? Tadi dokter bilang apa?" tolak Mahda, bibir nya menolak namun hati dan fikiran nya sudah bisa menebak apa yang terjadi.
"Dia udah nyusul njid sama jiddah nya" jawab Syihab dengan bibir yang bergetar. Ia tak menjelaskan apa yang dokter katakan, kalimat tersebut lebih mudah Syihab ucapkan saat ini, menurut nya.
Ingin nya ia yang tegar dan menenangkan Mahda, namun nyata nya ia begitu terpukul dengan kenyataan ini.
Tak cukupkah Engkau ambil ke dua orang tua ku? Sekarang Kau ambil pula janin yang belum sempat ku sapa hadir nya.
Batin Syihab pilu.
Orang tua nya meninggal bersamaan, di tipu dalam usaha nya hingga harus menjual rumah yang baru ia beli dan sekarang istri nya harus di curreted.
Cobaan seolah-olah menimpa nya secara bertubi-tubi, silih berganti menunggu antrian untuk di lalui.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Percayalah bahwa sesungguhnya kesusahan-kesusahanmu di dahulukan demi banyaknya ni'mat yang di tangguhkan ! Maka janganlah kau bersedih dengan apa yang datang kepadamu. Tenanglah setenang-tenangnya hingga sampai pada batas keyakinan bahwa sesungguhnya Alloh akan mendatangkan kemudahan-kemudahan dari sisi kesedihanmu yang akan memberimu kesenangan jiwa🌼