
"Ana tau semua nya, dan mendengar pembicaraan kalian" ucap seseorang yang mengejutkan lawan bicara nya.
"Maksud kamu apa? Pembicaraan yang mana?" tanya Mahda tak faham.
"Mba Mahda sama ustadz Haidar" jawab Ratih.
Degh
Mahda terdiam juga menghentikan aktivitas nya yang tengah menghenna Ratih.
"Tak usah di fikirkan dengan omongan ustadz Haidar, Tih" timpal Mahda pada akhir nya.
Sebisa mungkin ia menutupi kegugupan nya di hadapan Ratih. Beruntunglah di kamar hanya ada Mahda dan Ratih juga Sulthan yang sudah tertidur, hingga tak ada yang menguping pembicaraan nya dengan Ratih.
"Justru itu yang ana fikirin mba. Ana iri sama mba Mahda yang mendapatkan cinta ustadz Haidar, meski pada kenyataan nya mba Mahda sudah tak menanggapi perasaan itu"
"Apa rasa itu masih ada meski hanya setitik di hati mba Mahda?" lanjut Ratih.
"Jangan membicarakan yang tidak bermanfa'at Tih, besok pernikahan kalian" timpal Mahda.
"Ana hanya memastikan mba. Ternyata ini jawaban kenapa ustadz Haidar selalu bersikap dingin kepada ana, entah itu langsung atau di chat, dan ternyata di hati nya masih bertengger nama mba Mahda, sampai terang-terangan mengakui di hadapan mba Mahda" tutur Ratih.
"Itu hanya cinta semu Tih, ana sama dia sudah berakhir sejak lama" timpal Mahda.
"Tapi ustadz Haidar masih cinta sama mba. Kalau saja mba Mahda belum sama ustadz Syihab, apa mba Mahda akan menerima kembali ustadz Haidar?" tanya Ratih lagi yang mulai menyulut emosi Mahda.
Mahda menarik nafas nya keras mendengar pertanyaan konyol dari teman sekamar nya tersebut.
"Ratih, sekeras apa pun Haidar meminta ana buat kembali, itu takkan pernah terjadi. Kenapa? Karna saya sama dia gak berjodoh. Kalau saja saya mau dan berjodoh, mungkin saat kemarin dia datang dan meminta kembali secara terang-terangan akan saya terima. Bukti nya apa? Enggak kan. Cukup, jangan berbicara hal yang konyol lagi. Semua nya sudah menjadi masa lalu tentang ana sama dia. Perihal dia belum mencintai kamu, lambat laun dia bakalan cinta sama kamu. Percayalah, Allah Maha Membolak-balikan hati hamba nya" jelas Mahda.
Ingin sekali Mahda segera menyelesaikan menghenna Ratih dan cepat meninggalkan Ratih. Lama-lama berhadapan dengan dia hanya mengungkit masa lalu, takut-takut menyulut emosi nya.
"Ma'af, ana hanya takut mba sama hal nya dengan ustadz Haidar, masih saling menyimpan rasa" timpal Ratih.
Kamu gak tahu Ratih, bagaimana usaha ana untuk melupakan Haidar, juga menyembuhkan luka karna nya. Kini kamu tiba-tiba mengungkit masalah yang sudah lama ana lupakan.
Monolog Mahda dalam hati.
"Kenapa diam? Apa mba Mahda emang masih suka? Bagaimana dengan ustadz Syihab?" cerocos Ratih.
"Skut Ratih!!! Atau saya tidak melanjutkan mehendi di tangan kamu, biarin di henna cuma sebelah" ancam Mahda sebal.
"Ma'af" cicit Ratih pada akhir nya mengalah.
"Kamu denger apa yang saya bicarain sama Haidar kemarin, apa kamu gak bisa nyimpulin dengan ucapan saya?" tanya Mahda sinis.
__ADS_1
"Hanya memastikan" jawab Ratih lirih.
"Cukup dengan penjelasan sekarang ini, jangan lagi menhungkit perihal masa lalu ana sama Haidar!" ucap Mahda penuh penekanan.
Mahda pun membereskan menghenna tangan Ratih dengan cepat. Memberikan henna simple agar tak memakan waktu yang cukup lama. Takut-takut Ratih kembali membicarakan hal yang tak perlu di bicarakan.
...----------------...
Embun pagi masih terlihat membasahi bumi. Daun-daun masih terlihat basah seiring tetesan embun yang masih terasa. Namun dapur Pesantren A**** sudah terlihat ramai dari biasa nya. Wajan-wajan besar dengan masakan yang yang tengah di olah terlihat hampir matang.
Sementara santri yang lain nya di bagi menjadi beberapa tim untuk mengerjakan tugas. Team decor pun kembali melanjutkan mendekor pelaminan minimalis yang terputus karna acara burdah semalam.
Mahda yang baru saja selesai memandikan Sulthan segera berjalan ke depan untuk kembali menitpkan adik bontot nya pada sang suami.
"Bang Idar" panggil Sulthan saat melihat Haidar.
"Tan, jangan teriak-teriak gitu, gak boleh!" ucap Mahda menasehati Sulthan.
Bukan mendengar nasihat Mahda, Sulthan malah berlari ke arah Haidar yang sama berjalan nya menuju Sulthan.
"Adek sama bang Idar, ya Umma" ucap Sulthan.
"Sama Abi aja ya, Umma anterin" ajak Mahda.
"No, mau sama bang Idar" tolak Sulthan.
"Jangan memulai pembicaraan yang konyol, Ratih mendengar ucapan antum kemarin. Sudah cukup" balas Mahda sengit.
"Syukurlah, dia akan tahu posisi nya, di hati ana masih ada kamu" jawab Haidar tanpa rasa malu.
"Haidar, please! Hargai perasaan Ratih, kalau iya sayang, cinta sama ana, please, itu permintaan ana" balas Mahda dengan mengatupkan kedua tangan nya di depan dada.
Sungguh, semua ia lakukan demi Ratih. Demi hubungan nya dengan Syihab pula. Ini bukan dunia novel yang harus ada drama pria mencintai istri orang lain atau sebaliknya.
Haidar tak menjawab, ia memilih pergi membawa Sulthan menuju kantor santri putra. Meninggalkan Mahda yang masih terlihat kesal.
..
Dzuhur awal 4 keluarga pengantin mulai berdatangan. Mahda yang stay di rumah Abuya terus memantau jalan nya acara. Sesuai rencana, keluarga persatu pasang pengantin akan menemui Hubabah dan Ummi di rumah.
"Yemma udah ke sini belum ya?" gumam Mahda.
Mahda teringat Sulthan yang terus ia titipkan pada anak santri. Untunglah ia tak rewel dan cepat akrab pada siapa pun, mungkin efek suka di bawa ke pondok saat di rumah.
Satu mobil angkutan umum terlihat mendekati kedai putri, menurunkan beberapa manggar pisang, juga beberapa kotak ice cream yang langsung di masukan ke dalam freezer. Persiapan untuk prasmanan pun mulai rampung, es teh untuk para tamu nanti sudah mulai tata, begitu pun dengan teh hangat yang sudah di sediakan di kelas putra yang beralih fungsi mejadi tempat istirahat para tamu.
__ADS_1
"Da, keluarga nya ustadz Haidar udah dateng belum?" tanya Ummi.
"Seperti nya udah Ummi, belum ana cek kesana" jawab Mahda.
"Tolong cek ya, kalau udah dateng sama keluarga Ratih nya, suruh kesini aja, biar giliran sama keluarga Rijal dan Nisa!" titah Ummi.
"Baik Ummi" jawab Mahda.
Mahda dan Afiyah pun yang sudah di pasangkan dalam satu tugas bak biji salak yang tak bisa di pisahkan, mereka berjalan melewati ruang cctv juga pengolahan air bersih untuk menuju kelas putra.
"Assalamu'alaikum" ucap Mahda menyalami ibu dari Haidar.
"Wa'alaikum salam" jawab nya.
Melihat Mahda, ibu Haidar langsung tersenyum sumuringah dan memeluk Mahda.
"Ibu gak jadi dapetin kamu sebagai mantu, apa boleh ibu anggep nak Mahda sebagai anak ibu?" pinta nya tulus berbisik di telinga Mahda tanpa embel-embel apapun terlebih dahulu.
Mahda mengurai pelukan ibu Haidar dan tersenyum.
"Boleh bu" jawab Mahda.
"Kamu memang yang terbaik, ma'af dulu ibu menyianyiakan kamu" balas ibu Haidar.
Mahda tak menjawab, hanya sekedar tersenyum. Mahda was-was takut ibu dari Ratih mendengar ucapan ibu Haidar.
..
Ummi terlihat menyambut kedatangan keluarga Haidar dan Ratih, mempersilahkan nya masuk dan mencicipi hidangan sembari menyampaikan apa yang ingin beliau sampaikan.
Setelah nya ibu Haidar dan ibu Ratih di minta berfoto sambil memegang koper yang semalam Mahda rias, simbolis serah terima dan di hadiri langsung oleh Hubabah.
"Sof, nanti bunga nya lu balikin ke gue ya" bisik Mahda pada Sofia, sahabat sekaligus sepupu Haidar.
"Gak bakal lu kasihin aja ke Haidar, Da?" goda Sofia.
"Gue timpuk lu ya, Sof" ancam Mahda.
"Ya kali aja gitu, mau ngasih ke mantan terindah" goda Sofia lagi.
"Jangan ngasal" balas Mahda dan menyikut perut Sofia.
Bisa-bisa nya sang sahabat menggoda diri nya di kondisi seperti ini, apalagi terlihat dari deretan keluarga Ratih ada yang terus melihat nya dengan sinis.
Tunggu sebentar, wajah nya kaya gak asing ya?
__ADS_1
Batin Mahda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...