Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Nyaman atau Hilang


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu dan Mahda kian menikmati hari-hari nya sebagai pengantin baru namun tanpa suami. Ia bersyukur Ahmad mengerti keadaan nya yang merasa terkejut dan belum siap dengan semua ini. Berjauhan untuk bersiap bersatu.


Gak kebayang kaget nya orang-orang yang nikah dadakan kaya di novel-novel, sama orang yang gak di sukain lagi. Tapi ujung-ujung nya bucin parah. Kalo Yemma? Itukan emang udah suka sama Yebba, gak kaget-kaget amat.


Batin Mahda.


Hari-hari di awal mereka berpisah, Ahmad sering bertanya kabar tentang Mahda. Berbasa-basi untuk memisahkan kecanggungan ke dua nya. Mahda pun sedikit-sedikit semakin terbuka pada Ahmad dan tak mengacuhkan nya.


"Lagi apa? Malem-malem maen ayunan" tanya Haniyah yang menghampiri Mahda tengah duduk di atas ayunan sembari senyum-senyum sendiri.


"Ini lagi main ayunan Ma" jawab Mahda.


"Senyum-senyum sendiri, gak kemasukan kan kak?" tanya Haniyah sedikit ragu.


"Ishh, ya enggak lah Ma" elak Mahda.


"Apa lagi kasmaran? Oh iya kasmaran, pengantin baru, ciyee" ledek Haniyah.


"Apaan sih Yemma, enggak. Nih, kakak lagi liat film nya si duo botak" tutur Mahda dan menyerahkan ponsel nya pada Haniyah.


Memang pada kenyataan nya Mahda tengah menonton film yang seharus nya di tonton oleh Sulthan. Tapi entahlah, justru ia suka sekali film tersebut.


"Kak" sapa Haniyah lagi.


"Beik" timpal Mahda.


"Kapan mau di adain resepsi nya? Kita atur dari sekarang yuk, biar gak repot kalau udah nemu tanggal yang tepat" tutur Haniyah.


"Nanti lah Ma, Mahda belum yakin" balas Mahda.


"Belum yakin gimana kak? Kakak udah biasa kan, udah nerima Ahmad? Yemma lihat-lihat kakak udah sering ngobrol lewat telpon tuh sama Ahmad" timpal Haniyah.


"Iya iya, tapi hati Mahda belum yakin, belum nerima sepenuh nya. Ana mohon Ma, jangan paksa-paksa lagi, cukup, urusan resepsi gimana nanti. Yemma juga dulu resepsi udah hamil bang Aly" cerocos Mahda.


Isshh, keras kepala nya mirip Baba ini.


Batin Haniyah.


"Kamu tuh kalau di omongin, jadi mau kaya Yemma juga, hamil dulu baru resepsi, iya?" tanya Haniyah.


"Dih, kita masih perawan yah Ma, masih di segel, gak mungkin hamil" jawab Haniyah sinis.


"Nanti Ahmad kesini tau rasa kamu di obrak obrik kak" timpal Haniyah.


"Apaan sih Yemma" balas Mahda dan mendelikan mata nya sebal.


☘☘☘☘☘


(Masuk area dewasa🙏)


Haniyah pun beranjak ke dalam rumah karna tak mendapatkan jawaban yang memuaskan lagi dari Mahda.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Zein saat Haniyah masuk ke kamar mereka.


"Tetap pada pendirian nya" jawab Haniyah lalu berbaring di samping Zein.


"Jadi gimana? Masa sih kita gak ngadain walimah Ma?" tanya Zein bingung.


"Gak tau, malah balikin ke Yamma, kata nya Yemma juga resepsi pas udah hamil bang Aly, keras kepala nya ituh loh, 11 12 sama kamu Ba" jelas Haniyah.


"Eh, Yamma juga sama ya, kang ngeyel" balas Zein tak mau kalah.


Haniyah mendelikan mata nya, berusaha keras berfikir bagaimana cara nya agar Mahda mau secepat nya mengadakan resepsi dan bersatu, lalu satu rumah dengan Ahmad, dan semua nya beres.


"Kita atur saja dari sekarang, nanti kalau Mahda udah siap, tinggal gelar acara, gimana?" tanya Zein.


"Ah, boleh juga Ba. Gak usah bilang sama Mahda, dia tau terima beres aja, iya kan?" tanya balik Haniyah.


Zein mengangguk mengiyakan. Haniyah bersorak, merasa menemukan jalan dari kebingungan nya.


"Imbalan nya?" tanya Zein genit dan mengedipkan sebelah mata nya.


"Apaan sih, Sulthan belum ke sini loh" tolak Haniyah.


"Udah tidur sama mba" jawab Zein.


"Nanti bangun dia ke sini" balas Haniyah masih berusaha menolak, tapi jujur ia tak bisa menolak godaan dari suami liar nya tersebut.


"Ayolah, satu lagi tak papa" goda Zein.


"Mmhh, stop! Ayo regud (tidur)" ajak Haniyah sebelum terlalu terbawa suasana.


"Sebelum cucu, anak dulu, terakhir lah, oke" bujuk Zein dan berusaha meremas gemas gundukan tersebut.


Haniyah mengigit bibir bawah nya, kesal karna tak bisa menahan godaan dari suami nya.


Let's play.


Teriak Haniyah dalam hati karna tak kuasa menolak.


Suara kecipak menggema, lenguhan hingga ******* dramatis silih bersahutan, melaju, berlomba mencapai titik puncak satu sama lain.


Haniyah terus mengimbangi permainan panas nan menggila namun Zein masih enggan untuk mengakhiri.


"Hareem atau rejal?" tanya Zein di sela-sela nafas nya yang berat, berat menahan gejolak yang tengah di salurkan.


Haniyah tak menjawab, bibir nya serasa sulit untuk berucap walau sepatah kata pun. Zein menyeringai dan menambah ritme kecepatan nya, hingga kepala Haniyah menengadah ke atas, mencapai puncak bersamaan dengan satu hentakan dan teriakan kepuasan.


*****


Pagi masih gelap namun Mahda sudah terlihat sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk diri nya juga keluarga nya. Untuk masalah sarapan biasa nya Haniyah yang menangani, bukan mba yang biasa di tugaskan untuk membersihkan rumah, namun kali ini Mahda ingin menyiapkan semua nya. Melatih bakat memasak nya, menguji ilmu dari hasil tiap minggu ia mengikuti keterampilan tata boga sewaktu di pondok.


3 piring berisi shawarma Mahda tata rapi bak koki di restoran menghidangkan sajian nya. Mengelap sisi piring yang sedikit terlihat bernoda, menyimpan nya di meja dengan posisi yang aesthetic sekali.

__ADS_1



Udah kaya ikutan lomba master chef ini😩


Batin Mahda.


"Shobahul khoir istri orang" ucap Aly mengejutkan Mahda di belakang nya.


"Allah kareem, lu ngagetin bang. Loh, kapan reja' (pulang)?" tanya Mahda.


"Tadi pagi jam 3 nyampe" jawab Aly.


"Dalam rangka apa? Tumben banget" cibir Mahda.


"Ada keperluan, emang gak boleh pulang ke rumah sendiri. Situ ngapain masih di sini? Kenapa gak ikut sama Ahmad laki lu?" tanya balik Aly.


"Belum waktu nya" jawab Mahda simple.


Aly pun tak menghiraukan nya, ia tahu apa yang terjadi saat ini. Pun ia pulang untuk membantu ke dua orang tua nya menyiapkan acara secara diam-diam.


☘☘☘☘☘


Tumben belum ada chat hari ini


Batin Mahda melihat aplikasi hijau nya yang masih kosong.


Biasa nya udah bawel banget, huh.


Sambung Mahda.


Rasa nya nyaman gak kikuk, gak grogi kaya lagi ada, tapi ko kaya ada yang kurang gitu ya hidup gue? Antara nyaman dan hilang sungguh ku dilema, lah, eh, ko nyanyi?


Batin Mahda lagi dengan bibir tersenyum geli.


"Ka, kak.." panggil seseorang dari luar pintu kamar nya dan menggedor kecil pintu tersebut.


Sepersekian detik menyembul kepala anak nan imut dari antara pintu.


"Kak, ma-in u (main yuk)" ucap Sulthan yang di ikuti mba Ina. Mba yang biasa mengasuh Sulthan.


"Yuk, kakak pake kerudung dulu ya" timpal Mahda dan segera menyambar kerudung phasmina berwarna hitam favorite nya. Melilitkan dengan mudah nya dan selesai.


"Mau kemana?" tanya Mahda seraya menggendong Sulthan.


"Rumah jiddah" jawab sulthan yang ucapan nya kadang lancar, kadang tidak.


"Yuk, jalan kaki aja ya" timpal Mahda dan di angguki Sulthan.


Sulthan jarang bertemu dengan nya namun sekali nya bertemu Sulthan tak ingin lepas dari nya. Seperti saat dulu ketika Sulthan di bawa menyambangi Mahda di pondok, Sulthan tak bisa lepas jika tak di paksa oleh Zein, Yebba nya.


Keluar menggendong adik kesayangan nya, dan meninggalkan benda pipih yang dari tadi ia perhatikan namun tak memberikan jawaban.

__ADS_1


__ADS_2