
Malam semakin larut, suasana di luar rumah yang tadi nya ramai kendaraan yang lewat serta tukang dagang yang menawarkan dagangan nya keliling komplek sudah mulai berpergian. Hanya tinggal suara jangkrik di taman depan yang setia menemani.
Menemani suara yang saling bersahutan di antara kamar yang ada di dalam rumah tersebut. Bulir keringat mulai membasahi badan ke dua nya. Suara erotis terus menggema menghiasi ruangan yang baru ia datangi lagi setelah sekian lama ia tinggal.
Pagutan demi pagutan tak terelakan, suara kecipak dari gesekan kulit masih terus terdengar, tempat tidur yang sprei nya mulai porak poranda menjadi saksi betapa rindu nya Syihab pada Mahda.
Haihh, ko geli ya🤣
Sama-sama berlomba, mencapai sesuatu yang mereka cari hingga satu teriakan bersama begitu lantang terdengar, mengakhiri segala gerakan dan usaha nya mencapai kenikamatan.
Tubuh Syihab ambruk setelah mengecup lembut bibir ranum milik sang istri. Mengucapkan berkali-kali kata cinta juga terima kasih.
..
Pagi kembali menyapa, Mahda yang sudah selesai membersihkan diri segera keluar rumah untuk mencari sarapan. Niat hati membuat sendiri di rumah, namun apalah daya bahan baku tak ada.
2 porsi soto ayam ia dapatkan di ujung komplek. Dengan senyum manis Mahda berjalan menuju rumah dengan angan-angan menyiapkan sarapan untuk sang suami.
"Assalamu'alikum, kak" ucap Mahda mencari sosok Syihab yang sudah tak ada di kamar nya.
"Ko gak ada? Kemana?" gumam Mahda.
Mahda mencari ke setiap ruangan yang memang masih kosong namun tetap tak menemukan Syihab.
"Kemana sih? Masih pagi juga, kalau pergi suka gak pamit dulu" gerutu Mahda.
Mulai kesal, Mahda berniat kembali ke pondok dengan jalan kaki, masa bodo gerbang sudah di buka atau belum, Mahda berniat memanjat gerbang RA jika gerbang utama belum di buka.
Mahda segera menyambar jubah hitam yang menggantung di pintu, memakai nya dengan cepat dan berjalan ke arah pintu.
Allah yahfadz
Mahda dan Syihab sama-sama terkejut saat membuka pintu. Mahda yang hendak keluar dan Syihab yang hendak masuk.
"Mau kemana?" tanya Syihab yang melihat Mahda sudah rapih namun dengan wajah jutek nya, kesal.
"Kakak yang abis dari mana?" tanya balik Mahda.
"Nyari sarapan" jawab Syihab sambil menunjukan kresek berisi sarapan.
__ADS_1
"Ya Alloh, Mahda udah beli kak" timpal Mahda.
"Lah, kakak kira Mahda di hammam tadi, jadi kakak keluar nyari sarapan" balas Syihab.
Mahda menupuk jidat nya pelan, dia membeli sarapan dan suami nya juga membeli sarapan. Dan yang lebih membuat nya ingin kesal adalah, sarapan yang di beli Syihab juga sama, soto ayam.
"Hih, makanya kalau keluar bilang-bilang, jadi nya gini kan, soto ayam sampe 4 porsi" gerutu Mahda.
"Kakak kira Mahda lagi di hammam tadi, yaudah kakak keluar, inisiatif nyari sarapan biar kamu beres sarapan udah ada" jelas Syihab membela diri.
"Tadi duluan Mahda yang keluar" timpal Mahda mengerucutkan bibir nya sebal.
"Iya iya, ayo sekarang sarapan! Nanti jam setengah 7 balik ke pondok" titah Syihab sambil menuangkan soto ayam pada mangkuk untuk sarapan sang istri yang tengah di mode hawas hanya gara-gara sarapan.
"Itu soto yang 2 nya buat kapan? Mahda punya riwayat lambung, gak bisa loh makan banyak-banyak yang bersantan"
"Buat Aly, bang Aly maksud nya" timpal Syihab dan menyuapi Mahda dari pada ia terus menggerutu tak jelas.
......................
Seminggu berlalu, Mahda tengah sibuk-sibuk nya mengurusi penerimaan santri baru. Bendahara yang merangkap menjadi ketua penerimaan santri baru membuat nya sangat-sangat sibuk. Bahkan urusan mengantar sarapan untuk asatidz sudah ia serahkan pada orang lain.
Fikiran dan tubuh yang terus di gempur segala aktivitas membuat nya akhir-akhir ini begitu cepat merasakan lelah dan tertidur lebih cepat dari biasa nya.
Sekolah formal di laksanakan pagi hari dan kegiatan pesantren di laksanakan setelah waktu ashar, dan semua nya di lakukan di area pesantren. Tentu nya memisahkan antara santri putra juga putri.
Sebuah dekorasi minimalis memakai balon berbagai warna seolah menyambut para santri baru juga wali santri dan keluarga yang mengantar.
Mahda mempersilahkan masuk rombongan ke tempat yang sudah di sediakan. Kelas yang kini beralih fungsi menjadi ruangan untuk keluarga santri baru.
Berbagai hidangan mulai di suguhkan, mulai dari lemper, kue lapis, kue sus hingga pie buah tersedia. Teh hangat yang begitu identik di pesantren ini pun tak lupa di suguhkan untuk para tamu.
Sama-sama membahu antara panitia juga para wali santri yang kini menitipkan anak-anak nya di Pesantren A****. Menitipkan harapan yang begitu besar agar anak-anak nya menjadi generasi penerus sesuai syari'at yang di ajarkan oleh Rosululloh SAW. Pun pihak pesantren yang meminta agar biaya yang tertera di bayar sesuai waktu yang sudah di beri, tidak melalaikan kewajiban nya seperti kewajiban di pondok yang tak pernah mereka selewengkan.
..
"Kepala ana sakit banget" keluh Mahda di sela-sela waktu istirahat nya sambil terus memijit kepala nya.
Duduk di ruangan asatidzah dan menselonjorkan kaki nya sejenak. Menetralkan otot-otot yang mulai menegang karna aktifitas nya hari ini.
__ADS_1
"Muka ente pucet banget loh Da, udah yukul belum sih?" tanya Afiyah.
"Udah dikit, pijitin dong" pinta Mahda yang manja.
Mahda membaringkan kepala nya di pangkuan Afiyah , dan dengan senang hati Afiyah memijat kepala Mahda pelan. Memijat mulai dari kening, kepala hingga tengkuk belakang leher Mahda.
"Kencengan dikit Fi!" pinta Mahda.
"Masih nyut-nyutan banget nih" sambung Mahda.
"Ke kamar aja yuk, makan terus istirahat!" ajak Afiyah.
"Santri baru belum dateng semua" timpal Mahda.
"Ada mba Mayra, gak papa. Yuk, udah pucet gitu, gue takut lo pingsan Da" balas Afiyah.
Dengan malas Mahda berjalan menuju asrama nya di bantu Afiyah. Dengan telaten Afiyah mengambilkan makan milik Mahda juga menemani nya makan.
"Jangan sakit dong, masa calon penganten sakit, kan gak lucu" ucap Afiyah.
"Ana kan cuma cape akhir-akhir ini, habis haflah langsung penerimaan santri baru" jawab Mahda.
"Dan, 3 minggu lagi acara nikah masal" timpal Afiyah yang membuat Mahda terkejut.
"Hah? Siapa yang mau zuwad?" tanya Mahda terkejut.
"Ada 2 pasangan" jawab Afiyah.
"Ko ana gak tau? Udah lamaran nya?" tanya Mahda lagi.
"Waktu ente pulang kemarin, pas orang tua nya ustadz Syihab meninggal" jawab Afiyah.
"Siapa aja?" tanya Mahda dengan mata yang berbinar namun isyarat mata nya menunjukan tatapan yang berbeda.
Nikah masal? Uuhhh, bersiaplah badan dan fikiran nya akan kembali di gempur oleh kesibukan. Acara nikah masal memang biasa di adakan di pesantren ini, dulu biasa di lakukan saat bulan Maulid namun kini beralih bulan.
"Nisa sama Rijal, Ratih sama ustadz Haidar" jawab Afiyah.
"Ratih? Haidar?" beo Mahda.
__ADS_1
......................
Haidar mo nikah nih readers😁 mo kondangan gak?