Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Jodoh atau Kematian


__ADS_3

Mahda berjalan keluar dari area pelaminan menuju depan ruang Marwah, dimana mobil Yebba nya terparkir. Melepaskan perlahan pegangan yang ia berikan, ada rasa malu jika harus tetap berpegangan saat keluar. Masih ada beberapa ustadz yang mengobrol di aula mesjid.


"Kak.." panggil Yemma Hani yang baru saja keluar dari rumah Abuya.


"Eh, Yemma dari rumah Ummi?" tanya Mahda.


"Iya, Abuya masuk rumah sakit" bisik Yemma Hani.


"Hah? Kenapa Ma? Ko Mahda gak tahu?" tanya Mahda tanpa bisa menutupi keterkejutan nya.


"Tadi abis dari acara pingsan, langsung di bawa ke rumah sakit sama Yebba. Gak banyak yang tahu juga" jelas Yemma Hani.


"Loh, mobil Yebba itu kan?" tanya Mahda lagi.


"Bukan, Yebba ke rumah sakit ikut nungguin Abuya. Yemma nginep dulu di sini, di rumah bekas Hafi kata nya" jelas Yemma Hani.


"Gak di pondok aja sama kakak?" tanya Mahda.


"Kakak aja yang ikut sama Yemma, sama Syihab juga!" titah Yemma Hani.


"Lah, ko gitu?" Mahda berniat ingin memprotes.


"Mahda mau bantuin beres-beres Ma" lanjut Mahda.


"Yemma udah izin sama Ummi, masih banyak mba yang lain yang bantuin beres-beres" timpal Yemma Hani.


Mahda pun mengalah dan izin mengambil baju ganti nya ke dalam asrama. Tak lama, hanya baju dan alat mandi nya lalu berjalan kembali mengikuti Yemma Hani juga Syihab yang kini menggendong Sulthan. Berjalan beriringan menuju rumah ustadz Hafi yang di tinggal pemilik nya pindah ke rumah baru.


Terilhat santri putra tengah duduk melingkar di atas terpal besar dengan beberapa alat hadroh. Sudah bisa di tebak mereka akan bermain japin dan ghoflah seperti biasa nya jika selesai acara-acara besar.


Rumah ke 4 dari deretan rumah yang ada. Sederhana dan minimalis namun membuat nyaman. Berdampingan dengan pondok putra yang sama megah nya seperti pondok putri.


"Kakak tidur di sini juga?" tanya Mahda pada Syihab.


"Gak usah so gak kangen kak pake nanya dulu, tinggal masuk kamar tidur, udah malem juga" timpal Yemma Hani.


"Yee, Mahda kan nanya sama kak Syihab, ko malah Yemma yang jawab" balas Mahda.


"Mewakili" timpal Yemma Hani.


..


Berdua dalam kamar setelah Yemma Hani masuk ke dalam kamar bersama Sulthan, sedangkan mba Syifa tidur di ruang tamu membuat Mahda sedikit kiku dan gugup. Ada rasa malu yang tiba-tiba saja menghampiri, dan rasa takut saat bisa saja Syihab meminta hak nya.

__ADS_1


"Kenapa gugup gitu?" tanya Syihab yang aneh melihat tingkah sang istri.


"Gak papa" jawab Mahda berusaha menutupi kegugupan nya.


"Gugup? Kaya yang baru ketemu aja" timpal Syihab.


"Hee, jangan dulu minta ya" balas Mahda malu-malu.


"Yaa Kareem, gitu banget fikiran nya" timpal Syihab tak habis fikir dengan perkataan Mahda.


"Ya takut aja gitu, antum kan biasa nya sensitif banget kalau deket sama ana" balas Mahda.


"Udah jangan ngaco, regud..!" titah Syihab


..


Mahda baru memejamkan mata nya saat jam menunjukan pukul 11 malam, namun kembali terbangun saat jam masih menunjukan pukul 01.25 karna di bangunkan Syihab yang nampak panik.


"Ada apa kak?" tanya Mahda yang masih mengantuk, baru saja ia tidur sudah di bangunkan kembali.


"Abuya, Abuya meninggal" jawab Syihab yang sudah tengah menangis.


"Hah, Abuya?"


Dari lapangan SD pun sudah bisa terdengar riuh, entah itu tangis atau orang yang berbicara hilir mudik. Mesjid sudah penuh oleh para santri juga keluarga dari luar yang sudah datang begitu mendengar kabar tersebut.


Mahda dan Yemma Hani buru-buru berlari ke arah rumah Ummi, melihat keadaan Hubabah yang kata nya pingsan mendengar kabar Abuya meninggal. Dan benar saja di rumah sudah begitu ramai, santri putri pun terlihat hilir mudik.


..


Tepat pukul 07.00 pagi jenazah baru sampai di lokasi Pesantren A***. Mesjid, aula serta halamam sudah penuh oleh pelayat juga wali santri yang datang meskipun dari daerah jauh. Para alumni pun tidak sedikit yang datang mendengar kabar yang begitu mengejutkan tersebut.


Sementara di dapur putri kembali sibuk, kemarin sibuk karna hajatan nikahan dan sekarang berbalik menjadi kepergian pendiri sekaligus pemilik pondok.


Berbagai makanan kembali di sediakan untuk para pelayat, takut-takut kelaparan atau haus. Dalam kondisi yang berkabung pun ustadz Muhammad dan keluarga masih memikirkan jama'ah juga pelayat yang datang.


Selepas dhzuhur rencana Abuya untuk di makamkan. Jenazah pun masih di simpan di ruang marwah sebelum di sholatkan di mesjid utama. Tangis ustadz Muhammad juga ustadz Hafi pecah saat melepas Abuya di bawa menuju pemakaman yang masih berada di lokasi pondok, tepat nya di belakang dekat area parkir belakang, Turbah.


Banyak jama'ah dan para pelayat yang silih berebut ingin menggotong jenazah Abuya, dari aula mesjid hingga turbah orang-orang berbondong-bondong silih berganti ingin menggotong walaupun sebentar.


Ustadz Muhammad, ustadz Hafi juga ustadz Musthafa yang tak lain adalah suami ustadzah Salma turun langsung ke liang lahat untuk menerima jenazah Abuya.


Banyak ulama dan rekan-rekan Abuya yang hadir, menghantar beliau ke tempat peristirahatan nya yang kekal.

__ADS_1


Kebahagiaan karna pernikahan berganti begitu cepat dengan kabar kematian dengan selisih waktu yang hanya 10 jam.


..


Mahda pun ikut sibuk dari tadi pagi hingga sore setelah Abuya di kebumikan. Bahkan melupakan Yemma nya yang juga berada di sini, beda nya Mahda sibuk di dapur mengurus konsumsi sedangkan Yemma Hani di rumah.


"Mba Mahda, di panggil Yemma nya di parkiran RA" ucap Tika.


"Ya kher, syukron" timpal Mahda.


Berjalan ke arah RA dengan wajah lelah, bayangkan saja semalam Mahda hanya istirahat 2 jam lebih sudah di bangunkan dengan kabar yang mengejutkan.


Terlihat Yebba Zein dengan wajah pucat dan lesu kurang istirahat tengah duduk di bangku yang tersedia. Berdampingan dengan Aly yang tengah memijat tangan Yebba Zein.


"Kenapa Ma?" tanya Mahda.


"Emm, tadi nya Yemma mau bawa kakak pulang sekarang, kemarin udah izin juga sama Ummi, sama Ummuna, tapi ngeliat kondisi nya kaya gini mungkin setelah 7 hari nya Abuya kakak baru di jemput lagi" tutur Yemma Hani.


"Loh, emang resepsi tanggal berapa ya?" tanya Mahda bingung.


"Allah kareem, 20 hari lagi kak" jawab Yemma Hani.


"Oh, hehehe. Mahda lupa Ma, al'afwu" timpal Mahda sambil terkekeh.


"Sekalian di pingit di sini aja Ma, Mahda nya" saran Aly.


"Lah, emang harus di pingit ya? Kan udah nikah nya"


"Biar ada rasa kangen-kangen nya kalau nanti abis acara resepsi. Yemma sama Yebba dulu juga gitu, iya kan Ba?" Yemma Hani meminta dukungan pada sang suami.


Mahda melirik Syihab sekilas meminta persetujuan sang suami atas ide Yemma nya. Dan tanpa di duga Syihab pun menyetujui nya.


"Ya wes lah terserah Yemma, Mahda manut aja" pasrah Mahda.


"Di pingit di rumah aja, nanti kalau di sini ketemu terus sama Syihab nya, gak asyik kan" balas Yemma Hani.


Gak ketemu sehari dua hari aja rasa nya rindu, apalagi berminggu-minggu.


Batin Mahda dan Syihab di saat yang bersamaan.


...****************...


Jodoh dan kematian itu jarak nya dekat, entah mana yang akan terlebih dulu meminang mu💔

__ADS_1


__ADS_2