Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Drama Pengantin


__ADS_3

Hari semakin sore dan giliran santri putri untuk kondangan pun tiba. Sengaja waktu nya di pisah untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan, semisal mencuri pandang pada sesama jenis, meskipun memakai cadar tetap saja mata jahil selalu ada.


Dengan antusias Afiyah dan Syamsiah berebut untuk jadi pertama yang menyalami pengantin, mengabaikan ustadzah yang sudah terlebih dahulu bersiap.


"Fi, ustadzah dulu ih" bisik Naima greget melihat Afiyah yang tak diam bak ikan yang keluar dari peradaban nya, air.


Kalo kata orang Sunda, beunteur kasaatan.


Bisikan Naima seperti tak di hiraukan, akhir nya dengan terpaksa ia mencubit Afiyah dan juga Syamsiah, berharap mereka diam dan lebih mendahulukan ustadzah.


Dengan tertib, akhirnya para santri berjejer menyalami pengantin wanita setelah mempersilahkan para ustadzah terlebih dahulu. Dan jangan lupakan, foto bersama adalah rutinitas yang tak mungkin di tinggalkan oleh kaum hawa.


Team hadroh pun kini berganti, team hadroh putri mengambil alih tugas dan mulai memainkan alat pegangan nya masing-masing. Menghabiskan waktu yang tersisa sebelum waktu acara resepsi di akhiri. Sisanya menyantap makanan yang sudah tersaji.


Yebba Zein dengan lantang menyuruh acara di akhiri sebelum adzan maghrib berkumandang, mengingat Mahda sudah menjalani acara selama 3 hari, beliau takut Mahda drop atau sakit.


Maka tak aneh saat selesai acara aqad nikah part 2 para tamu undangan tak henti-henti nya berdatangan, karna waktu resepsi yang hanya di gelar sampai waktu maghrib. Sebenarnya hingga malam, namun waktu malam adalah untuk para kerabat yang dekat. Sengaja Yebba Zein membatasi waktu, ia ingin ke dua keluarga lebih saling mengenal hingga mengkhususkan waktu setelah acara resepsi.


Dengan jahil Ida dan Afiyah menarik Mahda turun dari pelaminan, mengabaikan gaun berwarna coksu yang begitu mengembang dan hampir membuat Mahda susah berjalan. Membawa nya ke panggung hadroh untuk berjapin sebentar sebagai penghibur.



Sementara itu, Syihab dengan santai hanya menonton keramean istri dan juga teman-teman nya di atas panggung.


"Ah, ta lepas dulu nih high hils nya" ucap Mahda lalu melepas sepatu berhak tinggi yang ia kenakan, menendang nya asal sebelum suara hajir kembali bergema.


Dengan riang Mahda bergerak lincah mengikuti irama, berduet bergantian dengan ustadzah Nur dan ustadzah Rahmah yang tiba-tiba saja naik ke atas panggung.


"Mumpung ustadz Rahman lagi gak ada" ucap nya senang.


Sebenarnya Syihab agak khawatir melihat Mahda berjapin, masalahnya Syihab takut ia terlilit gaun nya sendiri dan,


Awww,

__ADS_1


Brugh..


"Nah kan apa ana bilang" ucap Syihab dan segera bangkit, turun dari pelaminan.


Panggung pun segera di kerubuni saat melihat sang pengantin yang jatuh saat berjapin.


"Ampun Da, lincah gitu sih, gak ngira pake gaun japin seenak nya dewe" gerutu Afiyah yang membantu Mahda bangun.


"Fi, sakit nih" keluh Mahda sambil berusaha meraba kaki nya yang tersembunyi di dalam gaun.


"Allah Allah, kenapa?" Syamsiah yang menyelusup masuk ke dalam kerumunan begitu kaget melihat Mahda yang ambruk di atas panggung sambil terus merintih.


Syihab dengan cepat naik ke atas panggung dan membopong Mahda seperti bridal style. Dan sudah bisa di pastikan, sorak sorai dari santri putri begitu riuh melihat pengantin baru ini melakukan adegan yang membuat setiap orang mendamba.


"Kak, turunin ih, Mahda malu" rengek Mahda sambil terus meronta.


Syihab tak peduli, ia terus menggendong Mahda turun dari panggung dan berjalan ke arah rumah utama, rumah Njid Mahbub.


"Loh, kenapa Mahda?" tanya Jiddah Ita panik melihat cucu nya di gendong.


Bulir keringat terlihat di dahi Syihab, bagaimana tidak, menggendong Mahda yang bertubuh sintal dari panggung hingga rumah lumayan cukup jauh.


"Ini kenapa? Hab?" tanya Aly yang baru memasuki ruangan tersebut.


"Action tuh di panggung" jawab Syihab sebal lalu duduk di depan Mahda.


Syihab pun mencoba menyingkapkan gaun Mahda, mencari kaki yang terkilir karna aksi si empu nya tadi.


"Ya Allah Hab, kalau mau unboxing jangan di sini di kamar gih. Gak sabaran amat" ucap Lulu yang datang tiba-tiba dari arah luar.


"Da, pindah gih!" lanjut nya lagi.


"Apaan sih Hameh, ini kaki Mahda sakit" keluh Mahda meringis merasakan sakit nya.

__ADS_1


"Ada apa Lu?" tanya Yemma Hani yang berjalan beriringan bersama Yebba Zein sambil menggendong Sulthan yang teracuhkan beberapa hari terakhir karna kesibukan acara Mahda.


"Ini kaki Mahda kata nya sakit, jatuh lagi japin" jawab Lulu.


"Allah Allah, makanya hati-hati kalau apa-apa tuh. Tau pake gaun besar malah japin, drama kan jadinya" tutur Yemma Hani.


"Hab, bawa aja Mahda pulang. Nanti Yebba panggilin Ma Iyen buat mijet Mahda" titah Yebba Zein.


"Ya kher Yebba" ucap Syihab pada akhirnya.


Sedari tadi diam bukan menahan amarah, tapi lebih ke khawatir karna Mahda terjatuh, takut terjadi apa-apa pada wanita yang baru ia jumpai lagi setelah beberapa minggu tak bertemu. Alih-alih berandai akan menjadi suasana yang saling mengungkapkan rindu, malah berujung dengan kaki Mahda yang terkilir.


...****************...


Rasanya seperti dejavu, malam pengantin di bantu melepas kancing gaun oleh Syihab. Ada rasa malu juga gugup kembali menghampiri.



Kamar dengan aksen dinding berwarna gading, taburan melati serta dupa yang semerbak di dalam kamar menjadi penyambut saat Mahda dan Syihab masuk ke dalam nya.


Selesai di urut oleh Ma Iyen di ruang bawah Mahda segera ke kamar atas. Untunglah para santri putra kala itu sudah mulai bersiap untuk kembali ke Pesantren A*** hingga rumah sudah kosong.


Sebenarnya memang sudah di kosongkan dan di rapihkan untuk menyambut Mahda dan Syihab malam ini. Bahkan setiap penjuru ruangan di dalam rumah sengaja di beri wewangian dupa.


"Gak di urut, gak di unboxing, selalu gigit sana sini" gerutu Syihab melihat tangan nya memerah karna gigitan Mahda saat tadi di urut.


"Ya ma'af, sakit soalnya. Nanti deh di obatin" cicit Mahda merasa bersalah.


"Caranya?" dengan sengaja Syihab mendekati Mahda, mencondongkan wajahnya hinga jarak nya begitu terkikis.


"Ya nanti pake salep" jawab Mahda acuh namun sebenarnya hati nya begitu tak karuan saat Syihab mendekat apalagi dengan posisi seperti ini. Mendorong pelan wajah yang hampir bertabrakan dengan wajah nya.


Bukan menjauh Syihab semakin mendekat, kembali menempelkan tubuh nya berdampingan dengan Mahda yang kini sudah berganti baju. Mencoba mengikis kegugupan dan segala kerisauan di temani aroma yang mendayu, menyeruak dalam indra penciuman seolah mendukung dengan segala yang di rencanakan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lanjutnya ngapain nih?🤔


__ADS_2