
Bukan nya tidur karna lelah dengan segala acara, Mahda malah terus menggelisik selama tidur nya. Mata nya terpejam, namun fikiran nya melayang meski entah hal apa yang ia fikirkan.
"Ngantuk banget, tapi gak pules-pules ya, fikiran malah traveling kemana-mana" gumam Mahda sembari membolak-balikan tubuh nya, menendang selimut yang membungkus tubuh nya hingga terjatuh ke lantai.
Mahda pun akhir nya memutuskan turun dari tempat tidur dan melihat keluar balkon kamar yang bisa melihat langsung ke arah asrama putri.
"Beuh, gile. Yebba dulu bisa ngeliat anak banat (putri) dari sini ternyata, ckckck" decik Mahda sambil berkacak pinggang.
Melihat ke arah samping rumah yang tadi nya lapangan kini sudah terpasang tenda yang penuh dari ujung ke ujung. Bahkan bisa terlihat gemerlap serta terang nya dari lampu yang terpasang.
Mahda menghembuskan nafas nya kasar, menikmati dingin nya angin malam yang kian menusuk namun belum mampu menyayupkan mata nya untuk sekedar tertidur.
Hal yang sama pun terasa oleh Syihab, di pisahkan jarak yang tak begitu jauh ternyata sukses membuat nya gundah gulana, hingga sekedar memejamkan mata untuk malam ini begitu terasa sulit. Rasanya ingin sekali menghubungi Mahda meski hanya mendengar suara nya. Namun sayang, benda pipih nya di pegang oleh Aly saat ini.
Malam yang risau.
Batin Mahda dan Syihab secara bersamaan namun berjauhan.
*****
Tepat pukul 03.25 Mahda kembali terbangun padahal semalam ia begitu sulit memejamkan mata, namun karna kebiasaan bangun pagi refleks ia terbangun begitu saja.
Menjalankan ritual seperti biasa nya dan berakhir di atas sejadah dengan segala do'a yang ia panjatkan di waktu pintu langit yang masih terbuka.
Hari masih menunjukan pukul 4 lebih namun Mahda sudah berniat untuk mencari makanan, mengganjal perut nya sebelum pihak MUA datang dan merias nya, bukan kah hari ini butuh tenaga yang banyak pula untuk menjalani acara resepsi?
"Kak, mau kemana?" tanya Yemma Hani menghentikan langkah Mahda saat hendak menuruni tangga.
"Nyari makanan Ma, laper" jawab Mahda.
"Balik lagi aja ke kamar! Nanti Yemma bawain" titah Yemma Hani.
"Gak papa deh Mahda aja, gerakin dulu kaki bentar" elak Mahda.
__ADS_1
"Ngeyel ya kamu. Langsung balik lagi ke kamar, tukang rias bentar lagi dateng, jangan keluyuran!" titah Yemma Hani.
"Siap" timpal Mahda dan langsung turun untuk mencari makanan ringan yang tak akan sulit ia temukan.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, makanan sudah mulai di bereskan untuk nanti suguhan saat acara. Dengan sigap Mahda membawa piring rotan yang berukuran cukup besar untuk menampung beberapa camilan pilihan nya.
Selesai memilih, Mahda mengangkut makanan nya dan bersiap untuk sholat subuh baru setelah itu akan menyantap makanan tersebut.
"Kak, MUA nya udah dateng" ucap Yemma Hani seraya masuk ke kamar yang sebenarnya itu adalah kamar ia dan suami nya, Yebba Zein. Namun saat ini di alih fungsikan terlebih dahulu menjadi kamar Mahda untuk acara.
Mahda yang baru selesai melipat mukena mengangguk dan buru-buru membereskan mukena nya agar pihak MUA bisa cepat-cepat merias diri nya. Mahda tahu betul merias pengantin memerlukan waktu yang lumayan cukup lama. Sembari di rias Mahda terus mengunyah camilan, dan tentu saja Sofia yang melayani nya.
Dengan riasan Arabian look namun tak begitu tebal menambah kecantikan Mahda semakin terpancar. Hidung mancung nya semakin mempertegas bahwasannya wajah Mahda memang sudah begitu cantik sebelum di rias.
Yemma Hani pun tak kalah saing dengan sang anak, wajah awet muda nya hampir menyaingi sang pengantin pada hari ini meskipun dengan riasan flawless. Begitu pun dengan Lulu yang pasti tidak akan ketinggalan untuk di rias pada hari ini.
*****
Dengan jubah yang senada dengan gaun yang Mahda kenakan, Syihab terlihat tengah bersiap di bantu oleh Aly, kakak ipar nya sendiri.
"Ana yang punya hajat ko ana yang ribet ngurusin ente sih, Hab" gerutu Aly sambil membantu memasangkan imamah di kepala Syihab.
"Manja pula pengen di gandeng sama ana, kan masih banyak tuh anak banin atau ustadz juga" sambung Aly.
"Kan pengen nya sama kakak ipar, Ly" jawab Syihab namun mulut nya tak berhenti mengunyah.
"Gue gak di aqadin lagi kan Ly?" tanya Syihab polos.
"Mau nya di aqadin lagi gak ente nya?" tanya balik Aly.
"Boleh aja sih, biar gak nanggung tegang nya" jawab Syihab enteng.
"Ngusulin nya ngedadak banget. Noh ah pasangin sendiri, ana mau nelpon dulu Yebba" timpal Aly pada akhir nya dan sedikit menoyor kepala Syihab.
__ADS_1
Di ruang bawah suasana terlihat ramai, keluarga dari Syihab sudah mulai berdatangan, di tambah lagi santri putra dan para ustadz yang memang sudah berada di sana sejak kemarin.
Santri putra yang bertugas untuk mengiring pun sudah memakai rompi seragam yang memang biasa di gunakan saat acara-acara besar tertentu, menandakan bahwa mereka adalah team hadroh.
Sementara itu, di balkon luar terlihat Aly tengah mondar mandir dengan tangan yang berkacak pinggang serta raut muka yang sulit di artikan. Gerutuan pun sesekali terdengar dari bibir ranum yang tak kalah ranum nya seperti bibir Mahda.
Mohon di maklum, satu pabrik pasti ada aja yang mirip.
Syihab pun sudah selesai bersiap. Gamis putih dengan jubah berwarna grey, tak ketinggalan imamah yang di hiasi melati yang menjuntai menambah kharisma tampan nya sebagai pengantin semakin terlihat.
"Hab, turun gih!" titah Aly.
"Emang udah waktu nya berangkat?" tanya Syihab.
"Kamar nya mau di beresin, mau di pakein dupa. Ente ke bawah dulu, Abuya sama ustadz Muhammad mau do'ain ente" jelas Aly.
Syihab tersenyum manis namun Aly yang melihat nya malah merinding tak karuan saat melihat senyum sang adik ipar. Bisa menebak apa yang di fikirkan pengantin kw yang baru akan resepsi ini.
"Gak usah ngeres!" ucap Aly dingin.
"Lah, situ kali yang ngeres, ana cuma lagi ngebayangin gimana haly (cantik) nya bini ana sekarang" timpal Syihab.
Aly hanya mendelikan mata nya sebal, bisa-bisa nya ia berfikiran seperti itu, padahal jika iya pun memang bukan urusan nya.
Riuh suasana di bawah membuat Syihab tiba-tiba menjadi tegang, bahkan salting tak karuan. Selesai di do'akan Abuya dan ustadz Muhammad, Syihab duduk di samping ustadz Muhammad, menunggu aba-aba untuk berangkat.
"Satu colekan Haaabbbb" teriak ustadz Bagir mengoleskan balsem yang sudah di campur dengan ulekan cabe rawit.
Satu kebiasaan para santri menjahili sesama teman nya yang hendak menikah. Syihab pun kalang kabut merasakan panas di leher belakang nya.
"Yahdik ya ente" geram Syihab.
Niat hati ingin mengejar namun apalah daya diri nya sudah di rias sedemikian rupa, takut acak-acakan atau lebih ke malu karna ada Abuya serta keluarga lain nya.
__ADS_1